Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Realitas dan Mitos Sumpah Pemuda

.

Realitas dan Mitos Sumpah Pemuda

Summary rating: 5 stars 2 Tinjauan
Pengarang : Suryadi
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan : 126  kata: 600   Diterbitkan di: Oktober 30, 2007
Ada yang bilang masih, yang lain mengatakan sudah tidak.
Mungkin Ada baiknya menayangkan sedikit ‘film hitam-putih’ itu, untuk
sekadar membangkitkan kenangan historis para pemuda kita hari ini, yang
sehari-hari melahap menu MTV, McDonald, dan HP made in Jepang.Waktu itu jelas banyak pemuda yang pintar, jenial, kritis, nasionalis, dan memikirkan masa depan bangsa dan tanah airnya.
Tapi juga tak sedikit yang mbalelo, yang mati pucuk karena kemiskinan
dan penjajahan, atau munafik menjadi kaki tangan penjajah.
Persis seperti sekarang: ada pemuda yang juga pintar, brilian, kritis
(walau sering dihambat oleh kekuasaan yang cenderung disetir oleh penua
). Tapi juga
ada yang suka miras, pesta sabu-sabu, yang otaknya hanya sampai pada
mikirin hidup enak punya motor atau mobil, yang tak punya nyali untuk
bertualang walau hanya dalam negaranya sendiri untuk menambah ilmu,
mempelajari aneka budaya dan isi alam tanah airnya yang molek dan kaya
ini. Kalau perkataan itoe dipakai, oléh polisi kongrés
itoe dipandang kongrés politik, dan tidak boléh dikoendjoengi oléh
orang-orang dibawah ‘oemoer 18 tahoen.Barangkali dikongrés pemoeda jang
akan datang sifat kepemoedaan itoe akan lebih kelihatan.” Menarik juga
laporan PandjiPoestaka itu, terutama kalimat “Sedang dalam kongrés
perkoempoelan pemoeda2 itoe sendiri2, seperti Jong Java, Jong Sumatra,
Jong Islamieten Bond, Sekar Roekoen dll., kelihatan meréka pandai
djoega bersoeka-soeka.” Artinya Kongres Pemuda yang pertama itu, yang
melahirkan Sumpah Pemuda, berlangsung dalam suasa yang masih kaku.

Tapi setiap peristiwa sejarah yang menyebut nama kaum
muda bergaung gemanya sampai jauh.‘Kaum Muda’ adalah kata yang ‘sakti’,
oleh karenanya sering juga dimanipulasi oleh Kaum Tua. Sumpah Pemuda adalah salah satu contoh nyata.
Gema ikrar yang tiga itu meluncur deras menggoyahkan sendi-sendi
penjajahan Belanda di Indonesia yang oleh menteri jajahannya yang
sombong, Colijn, diibaratkan “kuat seperti duduknya Mount Blanc di atas
Pegunungan Alpen”. Wakil faksi nasionalis di Volksraad tak segan-segan
lagi berpidato dalam Bahasa Indonesia, yang membuat orang-orang Belanda
dalam Dewan itu merasa tersinggung, terhina, dan marah.
Hal itu diikuti oleh anggota faksi nasionalis di beberapa dewan kota
(antara lain Bogor, Semarang, Batavia, Padang, dan Medan) yang
kebanyakan digerakkan oleh wakil-wakil Parindra (Partai Indonesia Raya).

Jika mereka dapat mengutarakan pikiran dan ide, baik
lisan maupun tulisan, dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar, itu
saja sudah menunjukkan bahwa Sumpah Pemuda masih cukup relevan dan
berarti dalam kehidupan kaum muda Indonesia di zaman ini. Dirgahayu ke-79 Sumpah Pemuda: 28 Oktober 1928 – 28 Oktober 2007.

Ringkasan lain tentang Realitas dan Mitos Sumpah Pemuda
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------