• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Hidup Mati Penyair & Puisinya 7; HR Bandaharo Penyair Realisme-Romantis

.

Hidup Mati Penyair & Puisinya 7; HR Bandaharo Penyair Realisme-Romantis

oleh : akibr    

Pengarang : A.Kohar Ibrahim
HR Bandaharo – Penyair Realisme-Romantis
Hidup Mati Penyair Dan Puisinya (7)
Oleh : A.Kohar Ibrahim
MEMANG iya, saya garis-bawahi, bahwasanya jika diingat akan kedudukannya secara umum di tingkat-lingkup-an pekerja agitprop – sekali lagi : agitprop – ringkasan dari kata « agitasi-propaganda » dan bukan seperti yang sengaja atau tak sengaja diplintir oleh sementara orang menjadi « agitprov » yang diartikan sebagai « agitasi-provokasi » ! Maka, logisnya, HR Bandaharo yang berkedudukan sebagai salah seorang orang penting dari bagian pekerja penggerak propaganda, kongkretnya yang berkedudukan sebagai salah seorang pimpinana organisasi dan ruang kebudayaan media massa,  dialah yang bisa jadi contoh dari kalangan  sastrawan penganut « realisme sosialis ».
Tapi ternyata tidak bisa. Jika disimak hasil kreasi sastranya, saya tidak menemukan yang mempertandakan apa yang disebut-sebut sebagai « realis-sosialis ». Yang jelas, memang, dalam hal ke-berpihak-annya. Bandaharo memang tergolong seniman engage, memihak – berpihak kepada Rakyat. Maka bukan asal-asalan kalau diapun menjadi anggota bahkan pimpinan dari organisasi kebudayaan yang didirikan pada tanggal 17 Agustus 1950 : Lembaga Kebudayaan Rakyat – tersohor dengan singkatan : LEKRA.
Kebanding latah memberikan cap sebagai penganut « realisme-sosialis », saya cenderung menjulukinya sebagai penyair « realisme-romantis », yang malah sarat akan nuansa nada dan warna simbolistis.
Membaca kreasi puisi HR Bandaharo, saya merasa lebih terundang untuk menikmatinya seraya memperhatikan juga para penyair Eropa macam Hugo, Baudelair, Rimbaud dan Eluard. Lebih terundang untuk menyimak pula karya lukis Friedlich, Delacroix dan Goya. Iya, hasil karya HR Bandaharo lebih mendekati atmosfir para sastrawan dan seniman tersebut kebanding apa yang disebut penganut aliran « realisme-sosialis » dari Uni Soviet atau Blok Sosialis. Hal mana memang logis, jika diingat tahap perjuangan kehidupan masyarakat Indonesia masih jauh dari pada tahap masyarakat sosialis. Tahap perjuangan Indonesia di bawah pimpinan Pemimpin Besar Revolusi/Panglima Tertinggi ABRI/Presiden Sukarno adalah dalam rangka untuk mencapai kemerdekaan yang penuh demi terciptanya kehidupan masyarakat yang demokratis, yang aman-tenteram subur-makmur.
Maka bagaimana mungkin, dalam tahap perjuangan kehidupan masyarakat Indonesia yang sedemikian itu terciptakan karya-karya kebudayaan, khususnya kesusastran, lebih khusus lagi perpuisian, yang bersifat realis-sosialis ?
Tapi entahlah pula, jika ada pengarang yang asal-asal-an mau mengarang  dan petentengan jadi pengarang « realis-sosialis ». Tapi, saya sendiri belum pernah mergokin pengarang macam itu. Yang saya sering dengar justeru adanya orang atau pengarang yang gemar onar dan hambur gelar atau cap anutan : « realisme-sosialis » pada orang-orang seperti Pram, Utuy, Wispi dan Bandaharo sendiri serta anggota LEKRA lainnya.
Iya. Saya ingin menggaris-bawahi, bahwasanya bahkan dalam puisinya berjudul « Kembalikan kepada sejarah » itu, terasa aroma gaya « realisme-romantis »nya, bahkan muatan simbolismenya. Apalagi kisahnya terlukiskan dengan setting seascape alias pemandangan laut. Yang hanya mengingatkan saya, lagi-lagi pada lukisan Caspar David Friedlich « Lever de la lune sur la mer » (Bulan meninggi di atas laut) dan « Voyageur devant la mer de nuages » (Pelawat di hadapan samudera mega). Suatu pelukisan betapa eratnya hubungan manusia dengan alam semesta. Dalam mana pantai merupakan simbol amat bermakna. Simbol tujuan dari cita dan cinta. Yang bisa dalam kesantai-damaian pun bisa binasa diterpa bencana ala Tsunami!
Coba, kita lanjutkan mencicipi rangkai-rangkai baris kata puitisnya dalam   sanjak Bandaharo berjudul “Kembalikan kepada sejarah » tersebut. Sebagai berikut :
Aku tertegun di tepi laut dirasuk sangsi.
Akan kubuangkah beban duka dan rindu ini
lalu kembali ke dunia snob mengenakan safari
dan bernapas dalam udara deodorant?
Atau kudukung terus duka dan rinduku ini
melanjutkan kembara di jalan lengang
tanpa tutur dan sapa, tapi tetap diri sendiri?
Sungguhlah, tak seorang pernah mampu melarikan diri
dari sejarah. Manusia telah ditentukan membawa beban
kelahiran yang dibekasi oleh syarat-syarat lingkungan
kelahiran itu. Orang yang mencintai hari ini
membenci hari lalu dan menolak ketidak-pastian hari depan.
Yang lahir dalam duka dan rindu mewarisi duka dan rindu itu
sampai ke akhir hayat. Kembaranya seperti kembara seorang sufi
menuju kakilangit hasrat bertemu dengan demiurgos.
Baginya terungkap rahasia kehidupan
ia berhadapan dengan dirinya sendiri.
………………
Duka dan rindu pernyataan kasih, jika bersemi di hati
itulah garam dunia yang memberi rasa dan warna
pada kehidupan….
Selamat tinggal, laut yang berdada lapang
yang menyimpan rahsia dan tak mau bicara.
Selamat tinggal! Aku akan meneruskan tualang
mencari yang hakiki, bukan mengejar bayangan maya.
Bebanku ini tidak kupercayakan padamu, laut.
Dia warisan sejarah, akan kukembalikan pada sejarah
pada waktunya. Biarlah sejarah nanti bercerita
tentang seorang yang terlunta-lunta. Hatinya terpaut
pada yang tiada berdaya, tiada berlawan, hanya mengalah.
Laut, taukah anda siapa yang tak berdaya itu?
Mereka hidup hanya dari hasil tulangnya delapan kerat
mereka kaum tani yang kerja keras
tapi turun-temurun miskin dan melarat
dan kaum buruh yang selalu menganggur, tak ada kerja
tapi anak-isteri menuntut makan.
Mereka tak tau nightclub atau mandi uap
tak pernah lunch di Hilton atau Mandarin
tak tau shopping ke Singapura, Bangkok atau Hongkong
tapi mereka tau tempe bongkrek
dan mereka pun tak berani teriak
mengalami harga-harga terus naik.
Dan semua mereka yang terkatung-katung seperti sabut
hanyut terapung-apung, akhirnya bertahan di muara
mundar-mandir hulu-hilir dibawa pasang, naik dan surut.
mereka bagian struktural masarakat, kata sarjana-sarjana
yang jujur tapi tak mampu berbuat sesuatu apa.
Sarjana-sarjana pun memutuskan ikut mengimbau « Ahoooi… ! »
Selamat tinggal, laut ! Kukatakan padamu
« Tambah lama hidup, tambah sedikit teman
sebab hidup ini adalah kehidupan pikiran,
dan kepala sama berbulu, pendapat saling bertentangan.
Jagalah persahabatanmu dengan pantai, itu pesanku,
sebab semua kapal menuju pantai dan dari pantai
orang melambai. Pantai adalah hubunganmu
dengan daratan, dengan dunia, dengan manusia.
Tanpa pantai kau kesunyian sepanjang masa.
Moga-moga aku dan anda bertemu lagi.
Ahoooi…!”
(Jakarta, Des. 1979)
Diterbitkan di: Oktober 28, 2007
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.