Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Hidup Mati Penyair Dan Puisinya (6): HR Bandaharo - Kembalikan Kepada Sejarah

.

Hidup Mati Penyair Dan Puisinya (6): HR Bandaharo - Kembalikan Kepada Sejarah

Summary rating: 3 stars 3 Tinjauan
Pengarang : A.Kohar Ibrahim
Summary by : akibr
Kunjungan : 272  kata: 900   Diterbitkan di: Oktober 27, 2007
  HR Bandaharo – Kembalikan Kepada Sejarah   Hidup Mati Penyair Dan Puisinya (6)   Oleh : A.Kohar Ibrahim     JIKA diperhatikan posisinya sebagai salah seorang pimpinan Lembaga Sastra Indonesia (LEKRA),  pemimpin redaksi ruang kebudayaan HR Minggu dan kemudian Harian Kebudayaan serta kreativitasnya di alam perpuisian, selayaknya HR Bandaharo bisa dijadikan bukti sekaligus contoh sebagai salah seorang yang mewakili penganut  apa yang disebut « realisme sosialis ».   Akan tapi ternyata tidak bisa. Karena pada Banda, dari awal mula sampai akhir hidupnya, nampak jelas tanda pertandanya yang memang ia sebagai penulis-jurnalis engage (memihak), namun hasil karyanya membuktikan diri sebagai penyair « realisme romantis ».   Aroma keromantisan karya tulisnya lebih mengingatkan kita pada pelukis dan penyair Eropa yang mempelopori gerakan romantisme dalam abad Ke-XVIII dan Ke-XIX. Mengingatkan kita pada karya-karya lukis Caspar David Friedlich dan Eugène Delacroix. Mengingatkan kita pada kreasi puisi Victor Hugo, Charles Baudelaire dan Arthur Rimbaud. Yang kesemuanya mengungkap-angkat-gema-kan lagu manusia, dengan segala nuansa perasaannya -- cita dan cintanya, keeratan saling hubungan dengan alam seputar dari kedekatan paling dekat sampai lingkar alam semesta luas tanpa batas.   Salah sebuah kreasi puisi HR Bandaharo yang mempertandakan dialah penyair realis-romantis adalah yang berjudul « Kembalikan kepada sejarah ». Sebagian dari bait-baris-nya sebagai berikut :   Hari cerah sepagi ini aku melanjutkan perjalananku terbungkuk keberatan memikul beban duka dan rindu. Alangkah lengang jalan ini. Tak adakah oran yang duka dan rindu lagi, sehingga aku tiada berteman ? Ataukah aku musyafir yang sesat jalan tiada tempat bertanya, tiada sapa tiada tutur-basa mengajak singgah?   Keramaian ada di mana-mana tawa bergalau, tepuk-teriak riuh-rendah. Tapi kelenangan laksana bayangan mengikuti bagai teman sepanjang jalan yang membisu tapi mencengkam. Ah, inikah takbir maut mengintai? Matahari cemerlang, bunga-bunga mekar mengembang. Cahaya memberi hidup, warna-warni memberi gairah. Dan aku berterimakasih pada mereka, Sekalipun menyembunyikan maut dan gairah membuat lengah.   Selamat pagi matahari! Kataku. Selamat pagi kembang-kembang di tangkai! Kalian telah membawa terang dan warna ke dalam lengang di tengah ramai dan kepada kesendirianku yang peka. Kepada kembang-kembang aku berkata Maafkanlah aku ! Maafkanlah aku ! Tanpa kasihan telah kupetik bunga-bunga yang segar-mekar-harum dari tangkainya dan kutaburkan di kuburan-kuburan Pulau Buru. Di situ terbaring teman-temanku yang mati terbuang, jauh dri anak dan isteri. Maafkan aku, kembang-kembang! Maafkan aku! Kalian seharusnya menghiasi makam pahlawan bukan untuk mengharumi kuburan orang buangan.   Mungkinkah suara kecapi di hati memperdengarkan lagu tentang perpisahan di larut malam dan bisikan dari bibir-bibir yang gemetar? Atau tentang dinginnya sel-sel penjara tentang tubuh-tubuh kurus didera lapar? Atau tentang nama yang hilang ditelan masa sesekali terlintas terasa pedih menyayat hati? Salamku kepadamu, burung-burung, yang terbang riang, bebas berkejaran menukik landai menuju pantai, melayap rendah lalu meninggi terbang melingkar bertambah tinggi, dan menghilang. Salam! Kataku. Selamat jalan sampai ketemu lagi. Aku pun membawa bebanku ke tepi laut, ke pantai.   Dulu pernah ada seorang bernama Heine dengan kereta ditarik duabelas kuda mengangkut duka dan rindunya ke pantai. Muatan itu lalu dibuangnya ke laut. Mungkin ia bernyanyi: „Selamat jalan, meine Liebe, selamat jalan! Mampuslah duka dan cinta!“   Hampir aku tergadai, tergadari pada putus-asa pada kesendirian dan kelengangan menantikan maut. Tapi tanyalah sejarah. Duka dan rindu belum pernah Meninggalkan hati manusia, sejak Adam dan Hawa menelan buah khuldi. Tiba-tiba mereka telanjang-bulat masing-masing menutup muka sendiri. Salam! Salam kepadamu, pantai pasir! Kau yang dicium laut, diterpa pasir ! Salam, laut! Salam kepadamu yang berdada lapang!   Di pantai banyak orang mengikat janji dan di pantai pun sering orang menemui maut. Pernahkah orang menanyai butir-butir pasir dari mana asalnya, dari mana dia datang ? Apakah ia dari dasar laut atau terlempar dari daratan ? Apakah ia dibawa arus Nil dari jantung Afrika atau pasir yang pernah dihangati matahari Bahama ? Pernahkah orang melihat dunia dalam sebutir pasir atau membayangkan dunia tanpa pasir ? Laut yang tau, membisu tidak mau bersuara Baik tentang nasib nelayan atau pun kapal-kapal perang atau tentang pengungsi yang melarikan diri dari tanahair sendiri, mencari hidup di negeri orang. Mau pun tentang mengapungnya di muara mayat-mayat tanpa kepala, hanyut dari hulu kemudian dipeluk laut. Peristiwa-peristiwa berlalu sejarah tak mampu mencatat. Hanya laut yang tau Tapi laut membisu. Ia tidak bicara.   IYA. Laut memang tidak lagi berbicara berujar kata. Namun tidak lah demikian Penyair dan Puisinya yang merupakan pertanda sejarah tak pernah sirna, bak gelombang gerak riak tiada pernah henti berubah gelombang menggelombang panjang. Gemanya kumandang.  Dari lautan ke luasnya daratan. Dari Barat sampai Timur katulistiwa, Selatan maupun Utara. Laut lah simbol dinamika alam semesta. Tiada berhingga. ***           

Ringkasan lain tentang Hidup Mati Penyair Dan Puisinya (6): HR Bandaharo - Kembalikan Kepada Sejarah
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------