A.Kohar Ibrahim: HR Bandaharo Dan B.H. Hutajulu Hidup Mati Penyair Dan Puisinya (5) DALAM sajaknya
berjudul „Dalam Senja Kehidupan Tambah Mendekat“, HR Bandaharo antara lain menegaskan telah „mengalami tahun tahun celaka / perang, fasisme Jepang, perang kemerdekaan“. Juga menegaskan bahwasanya „mimpi kemerdekaan membikinnya jadi pejuang“. Sampai pada pengalamannya yang paling pahit – kegagalan impian hingga menjadi miskin papa dan terbuang. Yang secara hakiki tak beda dengan nasib kaum buangan atau eksilan lainnya
seperti Napoleon Bonaparte sekalipun. Selain itu, jika diperhatikan fisiknya – kebanding fisik pemimpin redaksi Harian Rakyat, Naibaho, Banda meski tegap memang lebih kecil, tak beda dengan fisik Napoleon. Kesamaan lainnya, seperti Napoleon, tentu saja Banda juga pernah memanggul senapang. Dalam
perjuangan kemerdekaan Indonesia, sebagai anggota gerilyawan di medan juang Bukit Barisan, Sumatera. Berkat tempaan di kancah perjuangan itulah keyakinan dan tekadnya membela kebenaran dan keadilan kian menebal. Maka tak heranlah, dari dirinya sebagai penyair, lahir baris-baris yang mempertandakan keyakinannya itu. Seperti tersurat-sarat dalam baris-baris puitis „Tak seorang berniat pulang / walau mati menanti.“ Pasalnya, dia paham sekali, seperti terlukiskan dalam baris-baris puitisnya yang lain, bahwa « jalan menuju kemenangan ini / bukan jalan bertabur bunga ». Iya, apa yang hendak di-kesan-pesan-kan oleh kreasi puisinya adalah keteguhan dalam perjuangan, menjaga keyakinan betapapun lika-liku atau jatuh-bangunnya perjuangan. Perjuangan yang memihak bangsa dan rakyat Indonesia dalam merebut dan mewujudkan aspsirasi kemerdekaan. Maka dari itu, sajak-sajak Banda itu terus bergema dan mewarnai perjuangan di zaman Sukarno, bahkan di dalam periode yang paling suram pun juga adanya. Berkesinambungan dengan nyala kemerdekaan yang menerangi sekaligus menjiwai perjuangan generasi muda selanjutnya. Dalam versi variasi, namun yang secara hakiki serupa. Contohnya, adalah baris-baris puitis ringkas bernas yang sangat populer di zaman Orba, dari penyair Wiji Thukul. Bahwa dalam perjuangan hidup-mati menghadapi penguasa tiranika : « Hanya ada satu kata : Lawan ! » Keteguhan dan optimisme yang digemakan HR Bandaharo, sekalipun acap kali diekspresikan dengan gaya melankolis, namun tak urung akan pertandanya sebagai penyair realis-romantis. Seperti dapat kita simak dalam naskahnya « Mimpi Dalam Mimpi » (1983), jelasnya dalam sajak berjudul « B.H. Hutajulu. » Dengan terlebih dulu mengutarakan baris-baris kata puitis dalam bahasa etnis Batak. « Julu, lakkam do na martua, mate ala ni hatigoran, ni di lakkam do harajaon banua ginjang ! » Terkadang di kala-kala tak terduga di dada luka lama membuka teringat seorang teman yang mati di penjara jauh di utara di masa revolusi fisik, saudara berhadapan dengan saudara. Empat puluh satu tahun yang lalu kami bertemu sama-sama jejaka sedang naik badan, resah dan gelisah menghadapi masa pendudukan fasisme yang tak memberi harapan masa depan, kecuali menyerah. Dan itu pantang bagi Hutajulu, temanku itu. Ia dilahirkan dan dibesarkan di pantai Danau Toba terbiasa bebas ditimang permainan ombak di danau dan berteriak lantang menyanyikan lagu-lagu Batak membelah cakrawala. Di kota kami ia orang pertama menerima tamparan serdadu Jepang karena menolak menyerahkan spedanya dirampas tiada semena-mena. Dengan pipi bengkak dan bibir pecah ia terbahak-bahak menceritakan padaku perkenalannya dengan “sudara tua”. Sejak detik itu kami anti-fasis. Sekarang mereka semua telah pergi. Hutajulu dan yang lain-lain lagi seperti Sakti Lubis, kepala pencopet sebelum perang si Gok Sek anak Cina yang bicara dengan lidah Medan Maulana, Hasyim Sirait, Muchtar, Syahdon dan banyak yang raib begitu saja, terlupakan mati di penjara atau di area-area pertempuran tapi banyak pula saat ini yang gemetar takut namanya kusebutkan karena mereka hidup senang sebagai bunglon – dan aku menyedari mereka adalah manusia biasa bukan pahlawan. Memang pahlawan tak pernah ada. Pahlawan adalah ciptaan sekelompok orang yang ingin berlindung di naungan ciptaannya. Pernahkah anda dengar kisah Umar Bachsan proklamator dan yang mengamankan perundingan Rengasdengklok antara pemuda dan Bung Karno-Bung Hatta? Ia kulihat sakit terkapar di atas tikar robek-robek Diselubungi selimut kumal ia bicara dengan lidah kelu, tangannya tergapai-gapai dan akhirnya menghembuskn napas terakhir di blok-RS penjara Salemba. Siapa yang bisa menyangkal Umar Bachsan seorang pahlawan? Tapi tak ada kelompok yang menabalkannya. Mereka telah pergi, satu demi satu meninggalkan aku menghadapi lampu kehabisan minyak dan sumbu dipermainkan oleh lenggang-lenggok bayang-bayang nyala hampir padam. Pernahkah sebenarnya mereka ada teman-teman yang terdiri dari darah dan daging, bukan godaan angan-angan ? Apakah mereka bukan figur-figur khayalan kuciptakan di masa-masa aku kesunyian dan kulawan mereka bercakap-cakap, menumpahkan isi hatiku yang ingin kusampaikan tak tau entah pada siapa, lalu bicara dengan bayangan? Semua seperti mimpi. Dalam mimpi aku teringat dan luka kambuh menyayat antara terasa dengan tidak, tapi tak tau di bagian mana. Kesunyian menghadapi keredupan senja dari kehidupan, bertambah sunyi… bertambah sunyi. Dalam pertarungan selalu ada pemenang yang merasa berjasa, hiruk-pikuk membagi pangkat. Esa hilang, dua terbilang. Hang Jebat hilang, sekalipun ia membela kebenaran. Hutajulu hilang bersama dia. 1983 (Dari naskah „Mimpi dalam Mimpi“)