Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Menonton dan Menunggu Janji Amerika Serikat

.

Menonton dan Menunggu Janji Amerika Serikat

Summary rating: 5 stars 1 Tinjauan
Pengarang : Adian Husaini
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan: 85
kata: 600
Diterbitkan di: Oktober 24, 2007
TULISAN Colin Powell, Menteri Luar Negeri Amerika
Serikat, (Kompas, 29-30/1), memberi informasi lebih jelas tentang
perspektif AS dalam menangani berbagai masalah internasional dewasa ini.
Meski, tentu saja, sebagai politisi Powell berbicara dalam tataran
"idealis" dengan mengedepankan jargon-jargon moralis, semisal
perdamaian dunia, pemberantasan terorisme, kemitraan, dan sebagainya.Tentu semua menunggu peran dan janji Powell untuk mewujudkan dunia yang adil, aman, dan sejahtera. Dunia berharap, AS tidak berjalan sendiri dalam menangani dunia, tidak mengedepankan unilateralisme, tetapi multilateralisme.
Tidak hanya memikirkan kemakmuran dan keamanan diri dan sekutu-sekutu
dekatnya, tetapi juga memikirkan nasib umat manusia semua. Sekitar dua pertiga umat manusia kini masih hidup dalam kekurangan, kemiskinan, dan penderitaan.
NAMUN, Powell masih menggunakan logika kekuatan dalam mengatasi masalah
dunia, yang menunjukkan cara pandang seorang "realis" dalam politik:
"Prioritas kami yang tak kalah penting adalah determinasi untuk
mengembangkan hubungan kooperatif di antara kekuatan-kekuatan besar di
dunia (major powers)."Dunia dengan mata telanjang menyaksikan bagaimana AS
melakukan begitu banyak politik double standard terhadap berbagai
masalah dunia internasional.
Tahun 1961 sejarawan Arnold Toynbee menulis tentang posisi dan sikap AS
yang tidak adil dan hanya mementingkan kekuatan besar, kaya, dan
minoritas umat manusia, sebagaimana dulu dilakukan imperium Romawi. Tulis Toynbee: "America is today the leader of a world-wide anti-revolutionary movement in the defense of vested interests.Kini yang perlu dibuktikan AS adalah menundukkan hati dan akal manusia.
Bahwa AS bukan hanya jagoan dan mampu berbuat apa saja untuk memenuhi
kepentingannya, tetapi juga menjadi negara dan bangsa yang dicintai dan
dihormati manusia.
Ideal sekali kata-kata penutup Powell-jika diaplikasi-"Reputasi AS
dalam hal kejujuran dan kepedulian akan terus berlangsung… Kepentingan
kami yang mengedepankan kebenaran telah menjadikan kami mitra bagi
siapa pun yang menghargai kebebasan, martabat kemanusiaan, dan
perdamaian".

Dalam wawancara dengan harian Kompas (17/11/2002),
Prof Johan Galtung menyatakan, "Dibanding serangan yang pernah
dilakukan teroris, terorisme negara yang dilakukan AS jauh lebih
berbahaya karena menggabungkan fundamentalisme agama dan
fundamentalisme pasar."
Galtung, perumus teori dependensia dan strukturalisme, meminta agar AS
mengubah politik luar negerinya, mengakui negara Palestina, meminta
maaf karena sering mencampuri urusan negara lain, melanggar hukum
internasional, dan tidak menghormati Islam.Blum menyatakan, intervensi Amerika adalah bertujuan
untuk: "extending political, economic, and military hegemony over as
much of the globe as possible, to prevent the rise of any regional
power that might challenge American supremacy, and to create a world
order in America’s image, as befits the world’s only super power."
Hal ini dijelaskan lagi dengan dokumen A Defense Department Planning
Paper tahun 1992: "Our first objective is to prevent the reemergence of
a new trial … we must maintain the mechanism for deterring competitors
from even aspiring to a larger regional or global rule".Dan kini mitra tanding AS-negara superhebat yang belum
pernah ada dalam sejarah manusia sebelumnya-adalah seorang kakek
bernama Osama bin Laden".
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------

Recent Shvoongers

  • amibroker
  • AsepSuryana
  • herro
  • jurnalis
  • DenKun
  • Kharis
  • nilna
  • AryaGuna
  • airakheisa
  • Rakyat
  • kusuma
  • tomaz
  • insansains
  • deleon
  • PermataPratiwi
  • KireinaLie

.