Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Kegeniusan Spiritual Guru Bijak Zaman Aksial

.

Kegeniusan Spiritual Guru Bijak Zaman Aksial

Summary rating: 4 stars 1 Tinjauan
Pengarang : J Sumardianta
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan : 126  kata: 600   Diterbitkan di: Oktober 24, 2007
Semakin rasional manusia, semakin irasional dan ugal-ugalan tindak tanduknya. Kemampuan manusia merusak dan menyakiti meningkat tajam justru pada saat mereka mencapai puncak kegeniusan ilmiah.
Demikian ungkapan Karen Armstrong dalam karya terbarunya, The Great
Transformation, mengomentari ledakan kekerasan, peperangan, terorisme,
dan bencana alam dalam skala besar yang meruyak sepanjang paruh kedua
abad ke-20 hingga awal abad ke-21.Fundamentalisme hendak mengisi ruang kosong kehidupan yang makin hampa nilai dan makna.
Keberagamaan bercorak partikular-eksklusif berdasar legitimasi kitab
suci yang dipahami secara tekstual potensial menyebarluaskan kebencian,
kemarahan, dendam, dan pertikaian.Spiral kekerasan di Ambon dan Poso, pun berbagai teror
bom yang bergentayangan di Tanah Air, merupakan cincin api konflik yang
bertengger di sentra kesalehan militan.
Bergelimang nilai dan makna
Karen Amrstrong, pemikir monoteis freelance, seraya merefleksikan
transformasi sosial dan fenomena kegelisahan spiritual manusia
postmodern, mengajak pembaca menjelajahi panorama evolusi
tradisi-tradisi pra-agama. Era aksial berarti episode panjang zaman antik ketika kehidupan umat manusia bergelimang nilai dan makna.

Pada zaman inilah batu penjuru (fondasi) tradisi-tradisi kebajikan agama diletakkan.
Karen Armstrong memperlihatkan bahwa orang-orang bijak, seperti
Konfusius, Buddha, Yeremia, dan Socrates pun hidup pada masa basah
kuyup kekerasan, peperangan, intoleransi, kemiskinan, dan tercabik
bencana alam di empat wilayah berbeda. Mereka membangun sikap etis bukan di lingkungan tenteram dan damai. Bela rasa, empati, cinta, dan keadilan merupakan respons kaum bijak bestari itu atas situasi jahanam dan kondisi tidak ramah."Tidak terampil" terminologi buddhisme untuk menyebut
seseorang yang menjadi pemberang, intoleran, buta, dan tidak ramah
terhadap keyakinan orang lain justru karena keyakinannya.
Kecenderungan menyalahkan orang lain tanpa introspeksi yang menyumbang
terjadinya malapetaka merupakan sikap tidak terampil dan tidak religius.

Amos melihat Yahwe, dewa perang itu, menggunakan Asyur
sebagai alatnya untuk menghukum kerajaan Israel lantaran ketiadaan
tanggung jawab sosial dan ketiadakadilan sistemik.
Setelah dideportasi ke Babel, ketika orang-orang buangan menjadi korban
agresi negara yang masif, nabi Yehezkiel mendesak agar orang-orang
Yehuda jangan meributkan selumbar di mata tetangga sembari mengabaikan
balok di mata sendiri.

Bangsa Yunani belajar dari bangsa yang telah melukai dan membenci mereka untuk meraih kembali kemanusiaan yang hilang.
Yunani, dalam pandangan Karen Armstrong, nggegulang (menekuni)
kesengsaraan di panggung-panggung teater hingga warga Athena belajar
berempati kepada bangsa Persia yang telah menghancurkan kota mereka. Visi welas asih mereka kembangkan di lingkungan mengerikan dan menegangkan. Tragedi dihadirkan tepat di jantung kesucian kota dan menjadi kekuatan pendorong kebaikan.

Buku ini, kendati belum memuaskan dan kurang memadai,
sudah menawarkan peta konflik dalam peradaban (bukan konflik peradaban
usang ala Samuel Huntington) guna melacak akar ketegangan
Fundamentalisme agama versus fundamentalisme pasar yang dipelopori AS
bersama sekutunya.
Sekularisasi, gaya hidup konsumeristik, dan hedonistik beserta daya
rusaknya digelontorkan negara-negara maju melalui kekuatan modal dan
militer. Serbuan brutal membabi buta ke Afganistan dan Irak jelas berdampak langsung ke New York dan London.
Meluluh lantak Afghanistan dan Irak terbukti hanya menghasilkan jutaan
pengungsi yang kelak rela digembleng jadi kader pasukan berani mati. Betapapun jahat dan destruktif, fundamentalisme pasar tidak bisa menampik fakta, perang di jalan Allah dilambari tujuan mulia.

Ringkasan lain tentang Kegeniusan Spiritual Guru Bijak Zaman Aksial
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------