KEMASAN Muktamar
Pemikiran Islam di NU tidaklah
terlalu menarik, manakala menengok terjadinya gairah dialog berbagai
pemikiran di kalangan Nahdlatul Ulama
dalam dua dasawarsa terakhir.
Sebuah dialog dinamis yang tidak saja dilakukan orang dalam NU sendiri,
tetapi juga berbagai kritisisme terhadap NU dari luar NU, bisa
ditemukan baik dalam bentuk buku, makalah dalam seminar, maupun artikel
yang terserak di berbagai
media massa.Seluruh sistem sosial yang ada, sebenarnya merupakan
tatanan secara teknis, dan memungkinkan terjadinya penjajahan pemikiran
besar terhadap pemikiran lokal. Sementara itu, post-modernisme
melakukan counter discourse terhadap seluruh nalar modernisme, karena
dipandang telah menemukan kebuntuannya dalam membangun kehidupan yang
lebih adil dan manusiawi. Seluruh janji kesejahteraan
yang dimungkinkan oleh penggunaan teknik-industri, tidak pernah mewujud
dalam kehidupan rakyat, kecuali penderitaan, kemiskinan, dan
penghancuran seluruh tatanan dan nilai-nilai lokal.
Misalnya, pemahaman tentang pemikiran Islam Liberal,
dengan menyebutkan sebuah upaya penafsiran tradisi dan melakukan
korelasi dengan nilai-nilai sekuler, seperti demokrasi, HAM,
pluralisme, dan jender. Pertanyaannya, di mana
beda tegas dengan Islam Emansipatoris, yang menurut Zuhairi gerakan
pemikiran yang berupaya menguak nilai-nilai kemaslahatan dan pembebasan
dalam Islam? Apalagi jika pemetaan pemikiran ini dijadikan acuan
dalam pelaksanaan Muktamar Pemikiran, seluruh perbincangan yang akan
terjadi sebenarnya mendasarkan diri pada kerancuan, terlebih jika
fragmentasi forum berdasarkan pemetaan ini pula.
Sebagai ganti, meletakkan Muktamar Pemikiran sebagai
media
untuk melakukan berbagai dialog-demokratis-tanpa
mengkotak-kotakkan
kelompok dalam gerbong-gerbong tua, untuk beradu
argumentasi dalam mencari pilihan-pilihan ideal.
Ringkasan lain tentang Sesat Pikir Muktamar Pemikiran