Perang
melawan terorisme dengan cara-cara kekerasan
yang dilakukan Amerika Serikat (AS)
akan melahirkan
bencana bagi
kemanusiaan, karena hanya menimbulkan lingkaran kekerasan.
Persoalan rumit dunia saat ini-yang tengah berperang melawan berbagai
aliran
fundamentalisme agama, baik Islam maupun Kristen, dan
fundamentalisme pasar-hanya bisa diselesaikan dengan memadukan hati dan
pikiran, serta berdialog untuk mencari jalan keluar.Pemikir teori pembangunan dan pelopor studi
perdamaian, serta penerima nobel perdamaian alternatif Right Livelihood
Award pada tahun 1987 ini datang ke Indonesia atas undangan Forum Asia
dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) untuk membagikan pengalamannya
dalam menangani konflik di berbagai negara.
Menurut Galtung, ada satu jenis fundamentalisme Wahabbi di Arab Saudi dan dua jenis fundamentalisme di AS. Fundamentalisme agama di Arab Saudi itulah yang memukul AS pada 11 September 2001.
Namun, kata Galtung, fundamentalisme AS jauh lebih berbahaya karena
menggabungkan fundamentalisme agama dan fundamentalisme pasar.
Namun, beban selanjutnya, kata Galtung, ada di pundak
AS karena telah melakukan intervensi ke urusan negara lain, melakukan
pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan melanggar hukum internasional,
melawan martabat, dan tidak menghormati Islam.
Ia menyarankan kepada Bush untuk mengakui negara Palestina, menarik
semua tentara AS dari Afganistan dan negara-negara Arab, membatasi
akses terhadap minyak, dan mengajak Presiden Saddam Husein berdialog.Dalam situasi seperti ini, lanjutnya, ia mengajak
semua orang yang mempunyai akal sehat bergabung, mengajak berdialog,
dan mengingatkan konsekuensi yang bakal terjadi bila aksi kelompok
teroris dibalas dengan terorisme negara.Itu antara lain tercermin dari adanya demonstrasi
besar-besaran menentang rencana penyerangan AS ke Irak yang dilakukan
di Washington dan negara-negara bagian lainnya.
Hal serupa terjadi di berbagai negara di Eropa Barat, bahkan dua
pemerintah di Eropa Barat-Jerman dan Perancis-jelas menentang rencana
AS.
Ringkasan lain tentang Perang Melawan Terorisme Akan Menjadi Bencana Kemanusiaan