SELAMA empat hari pada akhir bulan Oktober lalu,
Professor Johan Galtung (72) berada di Jakarta atas undangan Forum
Asia
dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Pesertanya para aktivis resolusi konflik sejumlah negara di Asia Tenggara dan dari
berbagai wilayah konflik di Indonesia.
Di tengah acara yang padat dan melelahkan, Galtung tidak kehilangan
antusiasmenya mendengarkan dan berbagi pengalaman
dengan peserta
lokakarya. Apa yang ia sampaikan juga sangat menarik, baik materi maupun cara penyampaiannya.
Ia menunjukkan kebolehannya bermonolog, menirukan tanya jawab yang
pernah dilakukannya dengan seorang jenderal di Indonesia mengenai
kasus-kasus kekerasan di berbagai daerah. Berbicara dengan lantang mengecam kebijakan Amerika
Serikat (AS) dalam perang melawan terorisme, Galtung "membacakan" isi
surat yang dikirimkan kepada Presiden AS, George W Bush, di luar kepala.
Kata Galtung dalam surat itu, serangan teroris terhadap gedung kembar
World Trade Center (WTC) di Manhattan, New York, pada tanggal 11
September 2001 merupakan tragedi kemanusiaan yang luar biasa dan tidak
bisa diterima.Ia juga meminta Bush menarik pasukannya dari Arab
Saudi, membatasi akses AS terhadap minyak di negara itu dan mengakui
negara Palestina.
"Saya tidak tahu apakah Bush membaca surat itu. Tetapi yang dilakukan
Bush justru sebaliknya," ujarnya.
Di antara kesibukannya, Galtung masih melayani wawancara dengan
sejumlah jurnalis. Wawancara pertama hanya berlangsung 10 menit.
Esoknya, janji wawancara sempat diundur. Ini sedikit mirip dengan tahun-tahun awal perang Vietnam yang pada akhirnya menghentikan peperangan tersebut. Perang Vietnam berhenti terutama karena oposisi dari seluruh dunia.
Saya menduga dalam satu tahun AS akan berhenti dan akan mulai
bernegosiasi sebab tidak ada jalan yang bisa ditempuh untuk mengalahkan
apa yang mereka sebut teroris. Semakin besar terorisme negara yang dilakukan AS, semakin besar yang memberikan tempat persinggahan bagi para teroris.
ILMUWAN kelahiran Norwegia dengan karier akademik internasional selama
40 tahun di lima benua-dengan lebih 12 posisi-dan menjadi Visiting
Professor lebih dari 30 kali; menulis 70 buku, dan lebih 1.000 monograf yang diterbitkan ini, terkesan bukan tipe orang yang suka menonjolkan diri.
"Diri saya tidak penting,"
sergahnya, "Yang paling penting adalah bagaimana kita ikut mencari
solusi atas berbagai persoalan kemanusiaan yang disebabkan oleh
kekerasan dan teror."
Galtung yang pernah dikenal dengan teori dependensi dan teori
strukturalisme ini mengembangkan pendekatan baru Ilmu Ekonomi dikaitkan
dengan berbagai isu besar seperti perdamaian, pembangunan manusia dan
lingkungan hidup.
Meski memiliki kemampuan yang luar biasa di banyak bidang ilmu-ia juga
ahli matematik-Galtung lebih dikenal secara luas sebagai seorang
humanis, tokoh non-kekerasan dan penganjur perdamaian.
Tidak hanya terhadap 1,3 milyar orang Muslim dan 300
juta penduduk Arab, tetapi mungkin seluruh masyarakat di Barat,
dipimpin Jerman dan Perancis, akan bereaksi. Akan ada aksi yang lebih besar daripada yang pernah diperkirakan Washington. Mungkin mereka akan mulai memboikot produk AS. Mereka mulai tidak membeli produk Exxon, Texacon, dan lain-lain. Mereka mulai tidak minum Coca Cola atau ke McDonald karena apapun yang berhubungan dengan AS terasa tidak enak.