• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Terorisme dan Violensianisme

.

Terorisme dan Violensianisme

oleh : NasrulAzwar    

Pengarang : Aloys Budi Purnomo
Violensianisme adalah aksi yang mengedepankan
kekerasan, kedahsyatan-destruktif, dan agresivitas-eksklusif menjadi

ancaman bangsa-bangsa. Terorisme yang terjadi di Amerika Serikat, Indonesia, Australia, dan terakhir di Inggris menegaskan kenyataan itu.
Violensianisme (Latin: violentia-ae, Inggris: violence) adalah aksi
yang menekankan perbuatan kekerasan, serangan, keganasan, kegarangan,
kebengisan, dan penganiayaan massal terhadap warga sipil.aya kekuatan peledakan bom yang mengancam,
menghancurkan, dan menimbulkan kerugian, kerusakan, pencederaan, serta
pembinasaan adalah aspek hakiki dari violensianisme.
Ciri violensianisme
John Galtung dalam Violence, Peace, and Peace Research (1969: 167-190) mencirikan violensianisme dalam empat kualitas.
Pertama, violensianisme merupakan paksaan atau kekerasan, upaya paksa
yang terdeterminasi pada sasaran akhir dalam melawan kehendak orang
lain.
Kedua, violensianisme berciri indiferen, beraksi tanpa pengendalian
atau sikap berlebihan dan tidak peduli terhadap hak orang lain.
Ketiga, dia tampak dalam aksi dan aktivitas ekstrem yang
sekonyong-konyong, tak diharapkan, dari suatu kodrat yang kejam,
membahayakan, atau merugikan.Tidak bisa dimungkiri kualifikasi violensianisme
seperti diajukan John Galtung mencirikan segala bentuk kekerasan,
kerusuhan, dan peledakan bom di berbagai tempat yang terjadi di bumi. Berita tentang kekerasan, kerusuhan, dan peledakan bom bukan barang baru bagi anak manusia di berbagai belahan dunia.
Kita sering menyebutnya terorisme.
Namun, kata ini telah menjadi rawan secara agamais sebab bagi sebagian
atau banyak kalangan, terorisme kerap dikaitkan dengan agama tertentu,
khususnya gerakan radikal, fundamentalis, dan eksklusif.
Oleh karena itu, agar gerakan melawan terorisme tidak mengarah pada
kalangan dan kelompok agama tertentu, baiklah kata violensianisme kita
pakai.
Secara fenomenologis dan substantif, terorisme maupun violensianisme
memuat hakikat yang sama, yakni kekerasan, kedahsyatan-destruktif, dan
agresivitas- eksklusif dan radikalitas-fundamentalis.Korban ”wong cilik”
Banyak data dan fakta yang jelas bahwa korban violensianisme dan
terorisme selalu wong cilik yang tanpa dosa politik dan beban kekuasaan. Namun, mereka tercabik-cabik oleh keganasan yang menyedihkan dan mengerikan.
Inilah saatnya bagi masyarakat kita untuk erat bergandeng tangan,
merapatkan barisan solidaritas melawan violensianisme, bukan dengan
kekerasan, tetapi dengan toleransi, kerukunan, dan hidup berdamai satu
dengan yang lain.
Bagaimanapun, aksi violensianisme dan terorisme, meminjam gagasan R
Ardrey (The Social Contract, New York, 1970:22), merupakan pelanggaran
atas social contract menuju hidup lebih damai, rukun, dan adil. Kalau tidak, entah kapan, cepat atau lambat, gelegak bom yang meledak dan membawa korban pasti terjadi lagi.
Karena itu, kita perlu membangun solidaritas di antara manusia, apa pun etnis, agama, dan bangsanya. Solidaritas dapat menjadi tameng untuk menghadapi para pengecut teroris dalam memecah belah kesatuan dan kerukunan kita.
Kecuali itu, solidaritas juga menjadi cara preventif yang efektif dalam
menangkal ulah nekat para teroris yang hanya berani beraksi dan
menghancurkan rakyat tak berdosa.Padahal, selalu ditegaskan, tidak ada satu agama mana pun yang mengajarkan dan melegitimasi violensianisme, apalagi terorisme.
Daripada mengambinghitamkan kelompok agama tertentu sebagai dalang
violensianisme dan terorisme, baiklah kita membangun solidaritas yang
inklusif di tengah pluralitas yang ada.
Dengan demikian, violensianisme dan terorisme dapat ditangkis dengan
sinergi civil society dan civil religion yang tangguh dan utuh.
Membangun solidaritas
Apabila masyarakat sipil, rakyat, apa pun agamanya, saling bergandeng
tangan memerangi violensianisme dan terorisme, maka segala fanatisme,
separatisme, fundamentalisme, dan ekstremisme akan tertepis dari
kehidupan kita.Untuk tujuan ini, solidaritas adalah satu-satunya
jawaban yang bisa diberikan untuk menjawab segala ketidakpastian,
kecemasan, ancaman, dan ketakutan yang merasuki masyarakat kita.
Ketiga, di tengah aneka bentuk violensianisme dan terorisme,
solidaritas menjadi jalan yang bertanggung jawab menuju masa depan
bangsa dan manusia. Akhirnya, solidaritas yang tepat guna akan menjadi
langkah yang mengubah kebencian menjadi cinta, ketidakadilan menjadi
keadilan, kecemasan menjadi damai, saling mengancam menjadi saling
bekerja sama demi tegaknya kehidupan dan kemanusiaan.
Semoga dunia menjadi semakin damai karena solidaritas antarbangsa, dan dijauhkan dari terorisme dan roh violensianisme!
Diterbitkan di: Oktober 24, 2007
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.