A.Kohar Ibrahim :
HR Bandaharo – Dalam Senja Kehidupan Tambah Mendekat
Hidup Mati Penyair Dan Puisinya (4)
TIDAK syak lagi,
dalam sejarah pepuisian Indonesia, sajak ringkas « Tak Seorang Beniat Pulang » adalah salah sebuah karya puisi HR Bandaharo yang paling populer – sudah sejak awal mula tersiarnya. Dari kota kelahirannya : Medan. Dan dari kota tersebut ke kota-kota dan daerah lainnya di Sumatera dan di Jawa yang terutama.
Kenapa ? Karena ia merupakan gema pertanda zaman. Zaman pergolakan rakyat dan bangsa Indonesia berjuang untuk membela dan mewujudkan kemerdekaan yang penuh di bawah pimpinan Presiden Sukarno. Perjuangan yang melawan kekuatan musuh-musuh Revolusi dari luar maupun dalam negeri. Dari luar negeri iyalah kekuatan kaum nekolim dan di dalam negeri adalah kekuatan kaum kontra-revolusi yang melakukan pemberontakan-pemeberontakan reaksioner dan melakukan penindasan terhadap rakyat yang mempertahankan atau menuntut haknya – terutama terhadap kaum buruh, tani dan nelayan. Untuk melukiskan hakekat akan kesadaran dan keberanian massa rakyat dalam perjuangannya itulah lahir baris-baris puitis sang penyair : « Tak seorang berniat pulang / Walau mati menanti. » Suatu variasi ekspresi dari makna penyemangat perjuangan, seperti ungkapan Bung Karno : « Go onward, never retreat ». Maju terus pantang mundur.
Menyimak mendengar kembali baris-baris sajak terebut, di layar kaca mata memoar kita tergambar bagaimana massa rakyat melancarkan perjuangan di medan laga. Baik ketika ikut serta pasukan bersenjata yang setia kepada Republik Indonesia dalam menumpas pasukan pemberontak bersenjata di berbagai daerah, maupun bagaimana massa rakyat juga harus terpaksa berhadapan
dengan ujung bayonet militer – dalam perjuangan mempertahankan tanah garapan atau ketika menuntut dilaksanakannya Undang-Undang Pokok Agraria dan Undang-Undang Bagi Hasil secara konsekwen.
« Tak seorang berniat pulang / Walau mati menanti », menurut penilaian Agam Wispi, yang juga seorang penyair besar Indonesia tergolong « Orang Medan », adalah suatu « pernyataan yang gagah ». Perlambang tekad-itikad rakyat yang berani berjuang karena membela hak dan menuntut keadilan yang benar. Perlambang keyakinan akan kebenaran dalam memaknai Kemerdekaan yang adalah « Jembatan Emas » demi mewujudkan aspirasi kehidupan yang aman tenteram subur makmur. Kehidupan yang bebas-lepas dari rantai belenggu penindasan dan penghisapan dari kekuatan kolonialis, neo-kolonialis, imperialis dan feodalis !
Namun, dalam rangkaian perjuangan yang selang seling antara secara damai dan kekerasan, antara kekuatan kaum progresip-revolusioner demi mewujudkan kemerdekaan yang penuh di satu pihak, dengan pihak kekuatan kaum kontra-revolusioner yang menghendaki kebalikannya. Dalam perjuangan yang kemudian memuncak dengan keberhasilan pihak kedua. Dengan kudeta militer yang menumbangkan Presiden/PBR Sukarno, teriring Tragedi Nasional yang menelan korban bukan hanya 7 jiwa, melainkan jutaan jiwa manusia tanpa dosa apapun ! Seperti dilukiskan Bandaharo dalam sajak «Cerita » dan « Dosa Apa » itu.
Bayangkan saja ! Betapa kedahsyatan peristiwa berdarah yang paling besar dan paling memalukan dalam sejarah peradaban Indonesia itu ! Bandingkan antara 7 jiwa manusia dengan korban lainnya yang jumlahnya jutaan. Dan masih berjuta-juta pula yang harus menanggung derita nestapa berkepanjangan lantaran arogansi kekuasaan tiranika sekalian kerakusan akan kepentingan ekonominya yang terutama !
Sejak 1 Oktober 1965, Indonesia berada di bawah kekuasaan kontra revolusi. Dengan Singgasana Orde Baru yang ditegakkan di telaga darah dan airmata rakyat Indonesia. Dan di antara para korban itu adalah penyair 3 Zaman : HR Bandaharo. Yang didera derita nestapa baik ketika dijebloskan dalam penjara, di kamp konsentrasi kerja-paksa Pulau Buru, maupun setelah di luar itu.
Begitupun, sang penyair besar yang bisa dikategorikan sebagai penyair realisme-romantis itu, meski sebagai kaum yang dikalahkan namun jiwa kepenyairannya tak tertaklukkan. Seperti antara lain tercermin dalam sajaknya berjudul « Dalam Senja Kehidupan Tambah Mendekat » (1983). Yang beberapa lariknya seperti di bawah ini :
« dalam senja kehidupan tambah mendekat / telah jauh jalan yang ditempuh / kaki terasa penat / hati gelisah ingin berteduh / sekedar membaringkan tulang delapan kerat »
Setelah menulis baris kata kelanjutannya, dengan nada lirih bertanya kepada diri sendiri : « tapi bilakah aku pernah memikirkan rumah ? » Banda ber-oto-dialog dengan mengungkap rasa ke-aneh-annya « tak pernah belajar dari burung », hanya untuk kemudian secara metamorfosis memperbandingan ragam macam burung hasil observasinya. Tapi dengan terlebih dahulu mengutarakan pengakuannya :
« dalam hidupku aku mengalami tahun-tahun celaka / perang, fasisme jepang, perang kemerdekaan / permusuhan, kurungan, pembantaian manusia / lalu perkelahian antar saudara, penyembelihan / penjara, pembuangan / orang mabuk darah, mabuk kuasa / kalap »
Selanjutnya, Banda mengurai makna pemaknaan burung dengan ungkapan simbolistisnya. Tentang burung-burung macam burung « balam dan tekukur / atau parling yang pandai menyanyi / atau merak yang indah bulunya / ». Namun « mereka hidup bagai terkubur / dalam sangkar-sangkar dan kandang-kandang / makanan dan minuman tersedia / mereka tetap kenyang ». Sedangkan Banda sendiri tak punya rumah dan tak mengerti tentang rumah, maka lanjutnya :
« bicaralah padaku tentang elang laut dan rajawali / yang terbang dari tepi langit ke tepi langit / bersarang tinggi di celah-celah karang di bukit-bukit / berkejaran di atas alun lalu terbang menyongsong matahari / »
Begitulah tanda pertanda penyair realisme-romantis sekali pun sudah mulai masuk « dalam senja kehidupan tambah mendekat ». Banda yang menjaga keyakinan akan makna mimpi dan pula makna sejarah. Baginya, « sejarah adalah mimpi manusia dalam perwujudan / dan seorang pun tak bisa mengelakkan diri ». Karenanya, sekalipun tergolong kaum yang terkalahkan, namun jujur mengaku : «… tak sakit hati, tak menaruh dendam / tak membenci siapa pun, tak iri pada siapa pun / tak mengutuk, tak menyesali diri / hati dan jiwaku merasa tenteram / karena yakin, mimpi yang gagal pun adalah sejarah ». ***