• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Membaca Pesan Politis Teror Bom Bali II

.

Membaca Pesan Politis Teror Bom Bali II

oleh : NasrulAzwar     

Pengarang : Y F LA KAHIJA
Terorisme dalam bentuk apa pun selalu berkaitan dengan
rasa takut yang ekstrem dalam masyarakat karena coraknya yang

ekstranormal: melebihi batas-batas pelanggaran yang dapat diterima
secara sosial.
Rasa takut itu akan bergejolak pada masyarakat yang memiliki rentang mulai dari berpihak, netral, sampai menentang terorisme. Para teroris memilih bermain pada lapangan yang paling menakutkan manusia: kematian.Berbagai asumsi yang dikembangkan sering kali bermuara
pada anggapan bahwa kelompok teroris ingin menunjukkan protes,
perjuangan ideologi, dan eksistensi kelompok.
Pertanyaannya: mengapa terorisme menarik dijadikan instrumen perjuangan
ideologi? Mengapa mereka memilih strategi perlawanan dengan bom? Dan, yang sering kali terlupakan, mengapa mereka mampu merekrut pengikut-pengikut loyal yang notabene adalah kaum muda? Kerasionalan kelompok ini terlihat jelas dalam idealisme yang diperjuangkan. Saking rasionalnya, pemerintah menyerukan pencarian otak di balik serangan, bukan binatang di balik serangan. Aksi mereka memang sangat emosional, tetapi itu perlu dilihat sebagai frustrasi yang muncul dalam idealisme mereka.
Dalam setiap aksinya, kelompok teroris selalu mempropagandakan
perjuangan yang belum selesai atau aspirasi yang belum tersalurkan.Isu terorisme internasional yang dikumandangkan
Amerika Serikat telah menjadi bagian dari sikap masyarakat
internasional terhadap terorisme.
Karena itu, kelompok teroris pun bermain pada tataran yang sama. Sasaran utama mereka adalah memengaruhi kebijakan-kebijakan politis yang berskala internasional. Aksinya adalah membom Bali sebagai daerah pariwisata yang ramai dikunjungi wisatawan mancanegara.Sebagai kelompok, terorisme mensyaratkan adanya sistem
organisatoris dan hierarkis yang memiliki pemimpin dan yang terpenting
adalah pengikut.
Pemimpin kelompok teroris sangat bervariasi, mulai dari sangat ekstrover sampai pada sangat neurotis. Pemimpin yang ekstrover biasanya lebih tenang menjalankan aksinya karena toleransinya yang lebih tinggi terhadap ketegangan. Pemimpin tipe ini adalah pencari stres yang menjadikan kemarahan pemerintah dan publik sebagai sesuatu yang menyenangkan. Menurut Erikson, perkembangan jati diri manusia
berjalan melalui delapan tahap yang meliputi: kepercayaan lawan
ketidakpercayaan (0-1 tahun), otonomi lawan keraguan (2-3 tahun),
inisiatif lawan rasa bersalah (4-5 tahun), kerajinan lawan rasa rendah
diri (6-11 tahun), identitas lawan kebingungan peran (masa remaja),
keintiman lawan isolasi (masa dewasa awal), generativitas lawan
stagnasi (masa dewasa madya), integritas lawan keputusasaan (lanjut
usia).
IKetika menjalani tahap tertentu, setiap orang akan
mengalami konflik yang, jika tidak diselesaikan, akan menghambat
perkembangannya.
Bentuk ekstrem kegagalan dalam membentuk jati diri adalah munculnya
jati diri negatif, yaitu gambaran diri yang bertolak belakang dengan
nilai-nilai yang diajarkan masyarakat. Dengan menerima jati diri negatif, seseorang berani melakukan apa yang dilarang masyarakat.
Schmidtchen berpendapat banyak teroris berasal dari
keluarga-keluarga yang menekankan pencapaian prestasi yang gemilang
bagi anak-anaknya.
Jika jati diri positif mustahil dicapai, anak-anak lebih suka diberi label ”buruk”. Jika toh keluarga masih bisa menekan dan menyudutkannya, anak akan memilih untuk menjadi yang terburuk. Dengan begitu, dia tinggal menunggu jemputan orang lain yang senasib dengannya untuk menjadi bagian dalam subkultur radikal.Efek psikologis yang sekarang muncul bukan hanya
bahaya fisik yang menakutkan, tetapi juga bahaya dari gambaran mental
yang dibuat masyarakat tentang terorisme.
Inilah dampak psikologis jangka panjang yang parah bagi masyarakat sekaligus menjadi kesenangan bagi kelompok teroris.
Betapa tidak, masyarakat kita mulai mengidap kecemasan, disorientasi
hidup, dan ketidakberdayaan yang tercermin dalam kondisi paranoid
tatkala bepergian. Sudahkah masyarakat kita berkembang menjadi insane society atau mungkin society yang semakin insane?
Mari membendungnya dengan mempropagandakan gerakan kembali pada cinta
dan perhatian pada anak-anak yang tumbuh dan berkembang dalam keluarga.
Diterbitkan di: Oktober 23, 2007

Komentar

Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.