Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Teror Bom dan Dilema Demokrasi

.

Teror Bom dan Dilema Demokrasi

Pengarang : Dedi Muhtadi
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan : 62  kata: 600   Diterbitkan di: Oktober 23, 2007
Apakah dari kalangan pesantren atau siapa pun yang dapat di-brainwash melalui doktrin fanatisme sehingga menjadi buta. Adapun Azahari sangat ahli meracik berbagai jenis bom yang belum tentu orang lain dapat mengidentifikasi jenis bom buatannya.
Apakah memang dua orang ini betul-betul anggota jaringan Al Qaeda
ataukah planted agent, orang yang ditanamkan untuk bekerja bagi badan
intelijen asing. Dengan demikian, terdapat agen yang mengendalikannya, bisa orang asing atau Al Qaeda.Selama tragedi bom itu belum terungkap, politisasi isu
akan selalu terjadi dan pihak yang berseberangan dengan Susilo Bambang
Yudhoyono bisa saja menggunakan isu demikian sebagai upaya untuk
menyatakan kekurangan pemerintah.Dalam ketidakpastian
Banyaknya korban yang tidak berdosa pada setiap peledakan bom ternyata
tak mampu menggugah rasa kemanusiaan pelaku untuk menghentikan aksi
teror dengan senjata sejenis. Mereka buta terhadap penderitaan dan kesedihan keluarga korban yang pada umumnya adalah bangsa sendiri.

Yuri, yang semula tenang, menangis tanpa suara sambil
memeluk Soekardjo ketika doa dilantunkan untuk ibunya yang dimakamkan
di Tanah Kusir, Minggu (2/10). Keluarga ini merupakan tiga di antara 22 korban tewas dan 124 luka-luka (84 WNI, sisanya WNA) akibat teror bom Bali II itu.

Pulau Dewata sudah lama jadi incaran teroris karena dianggap paling menguntungkan dijadikan sasaran.
Di daerah tujuan wisata dunia ini berkumpul banyak orang dari berbagai
negara sehingga dampak internasionalnya akan dirasakan di banyak tempat.Pelaku yang bukan berasal dari aliran garis keras pun
dapat berlindung di balik suasana ketidakpastian untuk mengatakan siapa
pelakunya?

Modus semacam ini adalah tipe psikologi teroris.
Mereka kerap memanfaatkan situasi ketidakpastian dan kecemasan
masyarakat untuk menyatakan ketidakmampuan pemerintah dalam mengambil
tindakan yang cepat dan responsif.
Dulu, dalam setiap aksi terorisme, terdapat pihak yang mengaku
bertanggung jawab, dengan tujuan akan ditempuh proses negosiasi untuk
menempati posisi tawar-menawar yang lebih tinggi.
Saat ini tidak ada pihak yang mengaku sebab tujuan mereka semata-mata
hanya untuk menimbulkan rasa takut dan lebih bersifat jangka panjang.

Kegiatan itu dipandang perlu agar umat tak menafsirkan
sesuatu hanya secara tekstual, yang buntutnya memunculkan kaum militan
yang melakukan segala sesuatu dengan dalih menjalankan perintah Tuhan,
tetapi pada akhirnya menimbulkan banyak konsekuensi, termasuk jatuhnya
korban tidak berdosa.
Yang memiliki otoritas untuk melakukan hal tersebut bukanlah polisi,
politisi, atau panglima, melainkan tokoh agama dan opinion leader di
tingkat lokal. Ini terutama untuk memberikan pemahaman bahwa penggunaan kekerasan bukan cara yang baik guna mencapai tujuan politik.

Ringkasan lain tentang Teror Bom dan Dilema Demokrasi
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------