SEBULAN terakhir ini, sejumlah harian terkemuka di
Arab, seperti Al-Ahram (Mesir), Al-Hayat (Beirut), dan Al-Syarq
al-Awsat (Arab Saudi) mengangkat diskursus
fundamentalisme dan
terorisme. Adakah keterkaitan antara fundamentalisme dan terorisme?Lebih khusus lagi, yang dimaksud
adalah fundamentalisme Arab atau fundamentalisme Muslim Arab.
Untuk tujuan itu, para intelektual Arab, seperti Musthafa al-Anshari
(Arab Saudi), Fahmi Huwaydi (Mesir), Jabir al-Anshari (Suriah),
Muhammad Rumayhi (Kuwait), Abed al-Jabiry (Maroko), dan lainnya,
memberikan pandangannya seputar fundamentalisme Arab.Fundamentalisme tidak lagi menjadi mekanisme penalaran
yang mampu menggali akar-akar luhur
keagamaan, seperti keadilan,
kedamaian, dan kesetaraan, tetapi justru menjauh dari substansi pokok
keagamaan (maqashid al-’ammah li al-syaria’ah al-islamiyyah).
Faktanya, fundamentalisme telah memfasilitasi lahirnya terorisme, yang
menjadikan kekerasan (al-’unfu) sebagai rukun baru dalam
agama.Terorisme yang berbaju fundamentalisme merupakan fakta telanjang bulat.
Yang mutakhir, ledakan bom di Riyadh, Maroko, Bali, Marriott, dan
Kuningan menunjukkan, fundamentalisme telah menafsir agama sebagai
bahasa terorisme. Karena itu, mengkritisi fundamentalisme hakikatnya adalah mengkritisi salah satu diskursus terorisme yang paling penting. Ada kemungkinan, mereka kini bergabung dengan
gerakan-gerakan keagamaan lain untuk melawan pemerintahan yang dianggap
sekuler dan pihak asing. Karena itu, tambah
Riduan Sayyed, problem yang amat berat untuk melawan terorisme bukan
hanya menangkap, membunuh, dan mengadili mereka, tetapi jauh dari itu,
yaitu mengatasi pemikiran keagamaan mereka yang bercorak terorisme.
Para alumni Taliban, ingin menggunakan terorisme sebagai bahasa politik
perlawanan, apalagi di tengah tidak jelasnya masalah Irak dan Palestina. ERAN yang dilakukan intelektual Arab untuk mengkritisi
diskursus terorisme, juga penting dilakukan cendekiawan, pemuka agama,
dan aktivis gerakan keagamaan di Tanah Air.
Tragedi Kuningan harus mendapat respons pelbagai pihak guna melihat
secara cermat akar genealogis, sosiologis, ekonomis, dan politis
munculnya aksi terorisme belakangan ini. Pembacaan komprehensif atas terorisme, setidaknya akan
merangsang kesadaran kolektif, terorisme adalah ancaman serius yang
selalu hadir di tengah kita. Cara terbaik
melawannya adalah kerja sama seluruh pihak: pemerintah, partai politik,
tokoh agama, tokoh masyarakat, akademisi, dan aktivis masyarakat sipil
untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan yang dapat melahirkan
generasi-generasi teroris.
Fakta fundamentalisme yang berpotensi menjadi terorisme, sebagaimana
terjadi di dunia Arab, hemat saya, menjadi catatan penting untuk
konteks keindonesiaan.
Motivasi terorisme di dunia Arab, saya kira tidak jauh berbeda dengan
motif-motif terorisme di Tanah Air, meski harus diakui, fundamentalisme
tidak selalu berwajah negatif. Fundamentalisme
bisa menjadi positif, selama mau terlibat dalam prosedur demokrasi
serta menghayati pentingnya pluralisme, kesetaraan, dan keadaban dalam
berbangsa dan bernegara. Guna menuntaskan terorisme, tugas berat kita adalah
mereformasi pandangan keagamaan, meningkatkan kesejahteraan dan
menegakkan hukum seadil-adilnya.
Ringkasan lain tentang Kritik Diskursus Terorisme