Terorisme Islam sebenarnya tidak pernah ada di dunia. Terminologi
Terorisme di dunia internasional telah bias dan selalu
dikaitkan
dengan umat Islam. Bahkan, Amerika Serikat telah memanfaatkan isu
terorisme sebagai tax free untuk masuk ke Indonesia.
Hal ini dikemukakan mantan Kepala Badan Koordinasi Intelijen Nasional
ZA Maulani di Jakarta, Selasa (30/9), dalam diskusi "Gerakan Islam
Indonesia: Menepis Tuduhan, Mengungkap Konspirasi Internasional" yang
digelar Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia.
Diskusi ini juga menghadirkan Fauzan Al-Anshari (Majelis Mujahidin
Indonesia) dan Salahuddin Wahid (Komisi Nasional Hak Asasi Manusia).Dulu, menurut Maulani, bangsa Eropa menjelajah hingga ke Asia dengan
alasan untuk membasmi perompak yang mengganggu kapal niaganya.
Padahal, mereka mencari rempah-rempah yang menjadi komoditas
internasional saat itu dan akhirnya menjajah daerah Asia, termasuk
Indonesia.
"Sekarang, kita menyaksikan imperialis dan penjajahan baru Amerika atas Afganistan dan Irak. Mereka mencari komoditas mahal, minyak bumi yang tidak dimilikinya. Kenyataan ini tidak bisa ditutupi, dan mata dunia tidak bodoh," ujarnya.Karena itulah ada penangkapan orang-orang yang dicurigai menjadi militan.
"Penangkapan yang hampir bersamaan terjadi di beberapa negara terhadap
orang yang memiliki tipe mirip, pasti menimbulkan tanda tanya.enada dengan Maulani, Fauzan melihat terminologi terorisme yang selalu mengacu pada Islam sangat tidak adil. Usaha kalangan Islam membalas ketidakadilan yang dilakukan AS dianggap sebagai terorisme.
Menurut Salahuddin, terorisme sebenarnya tidak bisa dikaitkan dengan agama. Aksi terorisme seharusnya dilihat dari adanya ketidakpuasan dan ketidakadilan yang dirasakan sebuah kelompok.Kebijakan pemerintah yang antiterorisme, menurut
Salahuddin, tidak seharusnya memberikan hak istimewa agar aparatnya
bisa bertindak di luar jalur hukum. Misalnya, penangkapan yang terkait dengan tersangka terorisme harus atas seizin ketua pengadilan negeri setempat.