Berbagai pertanyaan dan asumsi psikologis berkecamuk
di benak setiap mengikuti pemberitaan aksi teror bom bunuh diri di
Indonesia. Kita tahu, gagasan adalah
energi. Ideologi adalah energi.
Ketika gagasan, ideologi, dan keyakinan
agama bersinergi, akan terjadi multiplikasi energi.
Energi akan mengeras dan memiliki daya rusak tinggi saat digerakkan
amunisi rasa dendam dan frustrasi yang tidak tersalurkan, didukung
teknologi perakitan bom yang canggih.
Dengan mencari pembenaran pada ayat-ayat kitab suci
yang tafsirannya disesuaikan dengan situasi batinnya, kematian diyakini
sebagai emansipasi jiwa yang diberi lebel syahid, agar terbebas dari
beban hidup dan bisa tersenyum saat jalan kematian ada di depannya, dan
yakin surga telah menanti.
Para
teroris memilih jalan kekalahan dan kematian, dimanipulasi, dan diyakini sebagai kemenangan dan kejayaan di surga.
Mereka merasa telah membela agama dan bangsa, padahal yang terjadi
adalah meninggalkan malapetaka dan fitnah ideologis berkepanjangan.
Pertama, kagum kepada aktor yang jeli dan sukses merekrut pengikut baru
dan dalam waktu relatif pendek berhasil men-training mereka sehingga
menjadi amat militan. Kehebatan metode training mereka sudah teruji.
Jika saja metode dan materi yang diberikan untuk men-training teroris
ditransfer untuk membekali jajaran anggota DPR, polisi, hakim, jaksa,
dan pejabat tinggi negara sehingga berani mati melawan korupsi dan
kejahatan lain, alangkah kuat dan majunya bangsa dan negara ini.
Mental semacam inilah yang mengantar tokoh semacam
Mandela tahan hidup dan tetap murah senyum meski pernah dipenjara
selama 27 tahun. Tekad membara dan siap mati
inilah yang menjiwai para pejuang kemerdekaan tanpa menuntut imbalan
pangkat dan kekayaan yang kini kian asing di bumi ini.
Sejak kapan dan faktor apa saja yang membuat mereka menjadi radikal dan ekstrem.
Selama ini berbagai komentar dan analisis yang dikemukakan masih
bersifat umum dan spekulatif karena tidak disertai data akurat berdasar
penelitian mendalam dan wawancara langsung dengan mereka.Misalnya, jika terorisme digerakkan pemahaman dan keyakinan agama, kapan radikalisasi dan ekstremisasi bermula? Ajaran agama mana dan logika sosial yang bagaimana sehingga membuat mereka bertekad melakukan aksi bunuh?
Seperti film dokumenter tentang teroris Irlandia yang bertobat dan
menjadi juru damai seusai sekian kali dialog dari hati ke hati dengan
anak perempuan yang ayahnya menjadi
korban bom. Dialog mereka menyentuh nurani teroris. Teroris diajak berempati pada posisi para korban.
Pertanyaan serupa untuk Azahari dan kawan-kawan, andaikan di antara
korban itu ada keluarga mereka yang kemudian mengalami cacat dan
menderita seumur hidup, apakah ini masih dianggap jihad di jalan agama? Bukankah para korban tak ubahnya keluarga mereka seagama, serumpun Melayu dan sebangsa? Begitu banyak mata rantai keluarga, ekonomi, politik dan agama yang dirugikan dan disengsarakan oleh sekelompok teroris itu.
Jihad dan ”Qital”
Dalam istilah Al Quran ada dua kata yang perlu dibedakan, jihad dan qital. Mereka tidak bisa membedakan antara jihad dan qital, antara peperangan dan pertempuran.
Kini kita juga sedang berperang melawan kezaliman, korupsi, hegemoni
kapitalis, dan sekian musuh yang menghancurkan bangsa dan martabat
kemanusiaan. Tetapi, jawabannya bukan dengan
bom bunuh diri karena aksi itu justru akan memperlemah posisi kita
dalam perang melawan kemiskinan dan berbagai bentuk kezaliman lain.Malapetaka politik, ekonomi, dan citra agama amat dirugikan oleh tindakan bunuh diri yang dilakukan oleh beberapa orang. Persaudaraan antarsesama warga bangsa yang berbeda agama menjadi terganggu.
Saran saya, sebaiknya polisi, badan intelijen negara, ulama, dan
ilmuwan (khususnya psikolog) duduk bersama dan berbagi informasi secara
jujur, lalu dilakukan tindakan strategis dan kajian guna mengantisipasi
serta mempersempit ruang gerak terorisme.
Ringkasan lain tentang Psikologi Terorisme