Menghadapi berbagai persoalan di dunia, kini para pemimpin
agama dituntut
untuk ikut serta menyelesaikannya.
Konflik antaragama, yang sering berkembang menjadi konflik antarbangsa,
kemiskinan, terorisme, dan tindak kejahatan lain, menuntut para
pemimpin agama untuk turun tangan. Itu sebabnya, Kongres Kedua Para Pemimpin Agama Sedunia menemukan momentumnya untuk saling bertemu dan berbicara."Itu sebabnya, kami, para pemimpin agama berkeyakinan,
kita semua harus bersatu, saling menghargai, membangun relasi yang
kuat, tanpa campur tangan politisi," papar Abdullah bin Abdulmohsin At-Turki, Sekretaris Jenderal Liga Dunia Muslim, Arab Saudi.
Dalam kongres yang melibatkan 43 delegasi
dari kelompok Islam,
Judaisme, Kristen, Katolik, Buddha, Hindu, Taoisme dan berasal dari 20
negara itu, para peserta sepakat untuk tidak menggunakan kekerasan dan
perang dalam mencapai perdamaian.Tidak mengherankan bila sebelum kongres dibuka oleh
Presiden Kazakhstan Nursultan Nazarbayev, sebagian besar peserta sudah
saling kenal, tampak akrab sejak awal mereka bertemu di Istana
Perdamaian
Suasana akrab yang tercermin dari hubungan di antara para pemimpin
agama, melahirkan pertanyaan, akankah perdamaian dunia terbangun dari
Kazakhstan? Adakah agama-agama anak cucu Abraham bisa berperan dalam menciptakan ketenteraman dan harmoni di dunia?Dan hubungan di antara tiga agama besar itu (Yahudi, Kristen, dan Islam) segera "mengingatkan" kita akan satu asal, Abraham.
Th Sumartana dalam Agama dan Negara, Perspektif Islam, Katolik, Buddha,
Hindu, Konghucu, Protestan (Institut Dian/Interfidei, 2002)
menyebutkan, ketiga agama ini memiliki kesamaan, sama-sama menaruh
perhatian besar terhadap politik, dan sadar terhadap makna penting
keberadaan negara dan bentuk-bentuk pemerintahan, serta hukum yang
mengatur relasi antarmanusia dan antarkelompok di masyarakat.
Ketiga agama itu, sejak awal kelahirannya, jatuh bangun untuk
meneruskan eksistensinya yang dipengaruhi konteks
politik dan
lingkungan sendiri selaku
suku yang harus hidup di tengah suku-suku
lain. Dinamika kehidupan yang terjalin dari hubungan suku-suku yang memeluk ketiga agama ini mengalami perkembangan.
Dimulai tahap awal dengan ciri bangsa nomad, lalu diperkaya
pengalamannya selaku suku yang bertani, berladang, dan menetap di suatu
tempat, ditambah kegiatan mereka di bidang perdagangan, jelas memberi
kekayaan pengalaman budaya dan spiritual bagi suku-suku yang memeluk
agama "abrahamik" itu.Agama Yahudi lahir dan tumbuh dari bangsa nomad, harus
berjuang keras mempertahankan jati diri selaku suku yang sadar memiliki
keistimewaan tradisi.
Mereka harus mempertahankan dirinya dari "kepungan pengaruh"
bangsa-bangsa besar dan negara-negara adidaya Mesir, Mesopotamia,
Syria, dan lain-lain. Perjuangan keras mereka membuat suku dan agama Yahudi menjadi dua hal tak terpisahkan.Yesus dituduh bangsanya sendiri hendak mengacaukan sendi-sendi kehidupan agama politik yang mapan.
Yesus didakwa mengganggu kedudukan dan wibawa formal para pemuka agama
dan politik Yahudi, sekaligus dituduh merongrong wibawa dan politik
pemerintah kekaisan Romawi.
Lebih lanjut Sumartana mengemukakan, Islam pun menjadi salah satu "cabang" agama Ibrahim. Sebagai "agama pasca-Kristen", Islam memberi perhatian kepada politik, hukum, dan negara.
Bahkan, agama Islam dianggap sebagai agama yang eksplisit merumuskan
ajarannya tentang politik, sistem hukum, dan konsep tentang umat yang
terkait dengan hukum Islam, sebagai dasar bersama untuk menyusun
kehidupan bermasyarakat secara menyeluruh.
Kini, kongres telah usai.
Meski demikian, seluruh agama diundang untuk ikut menciptakan
perdamaian dunia yang tengah dicabik-cabik oleh tingkah manusia melalui
kekerasan, terorisme, dan konflik antarbangsa.
Ringkasan lain tentang Bersatulah Anak Cucu Abraham