• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Terorisme dan Dislokasi Sosial

.

Terorisme dan Dislokasi Sosial

oleh : NasrulAzwar    

Pengarang : ERIC HIARIEJ
Bom yang mengguncang Inggris menghangatkan kembali debat tentang hubungan agama dan kekerasan.
Kelompok Islam radikal,
begitu juga opini dominan di Barat, mengaitkan
terorisme dengan tradisi Islam atau bahkan dengan Al Quran.
Lucunya, pemikir (Islam) liberal pun terperosok prejudice serupa saat menjelaskan jihad dalam kerangka nirkekerasan. Bagi tulisan ini, terorisme adalah soal orang-orang yang memberontak dan terpinggirkan.
Yang perlu diingat, kekerasan selalu berhubungan dengan dislokasi sosial.Jaringan perlawanan yang tersisa adalah kelompok Islam radikal.
Teralienasi
Jika diperhatikan, sebagian besar anak muda di beberapa negara Barat
yang terlibat radikalisme Islam, secara sosial tidak terkait konflik di
Timur Tengah dan tanpa tradisi pendidikan agama yang kuat. Mereka amat westernized, berlatar belakang pendidikan tinggi. Kelompok ini terbentuk dari campuran kelas menengah terpelajar yang teralienasi dan kelas pekerja yang terpinggirkan.
Mereka kebanyakan merasa ”terlahir kembali” sebagai muslim atau memilih
”masuk Islam” dengan alasan seperti diungkap Lionel Dumont (mualaf asal
Perancis yang ikut perang Bosnia), ”the muslims are the only ones to
fight for the system”. Tetapi, kebanyakan kelompok kiri telah menghilang, sedangkan yang bertahan telah menjadi ”borjuis”.
Al Qaeda, misalnya, tidak menyerang Basilika Santo Petrus di Roma,
tetapi WTC dan Pentagon. Osama bin Laden menjadikan AS sasaran
perlawanan; sesuatu yang dilakukan kelompok kiri dengan keberhasilan terbatas.
Sementara Mohammad Zarif— mantan diplomat Taliban yang kini ditahan di
Guantanamo Bay—menulis dalam Frontier Post dengan gaya bahasa cukup
Marxian.Sementara serangan 9/11 dikecam aktivis kiri
antiglobalisasi, para aktivis yang sama menentang Pemerintah AS dan
Global War on Terrorism sembari menekankan perlunya memahami akar
persoalan radikalisme dan kekerasan.
Tampaknya saat ini hanya ada dua gerakan perlawanan yang mengklaim
dirinya internasional: aktivis antiglobalisasi dan kelompok Islam
radikal. Keduanya berbeda dalam ”masyarakat baru” yang diidamkan.
Mungkin bisa dibilang kelompok Al Qaeda ada di persimpangan antara
tradisi gerakan kiri yang sedang terengah-engah dan radikalisme agama
yang sedang tumbuh subur.
Klaim sebagai ”pelindung umat” berhasil memikat elemen radikal dari
komunitas muslim yang tercerabut dari akar-akar sosialnya yang tengah
mencari struktur perlawanan anti-imperialis yang bersifat global,
tetapi tidak berhasil menemukannya dalam diri gerakan kiri.Keterlibatan personal
Seperti diketahui, para pemberontak radikal yang terlibat terorisme
selalu menerjemahkan keterlibatannya secara personal, terputus dari
komunitas naturalnya (keluarga, etnik, dan bangsa) untuk perlawanan di
luar wilayah identitas kolektif yang nyata.
Penekanan jihad sebagai kewajiban individual, tampaknya, memenuhi
kesepian hidup para militan yang terpinggirkan dari masyarakat dalam
perjuangan menegakkan komunitas baru yang bersifat imajiner.
Yang berubah di sini bukan agama atau isi ajaran, tetapi religiositas,
yakni hubungan personal penganut agama dengan keyakinannya.Tak heran jika kelompok radikal cenderung
anti-intelektual karena yang dibutuhkan adalah pemimpin karismatik yang
mampu menyediakan kumpulan norma dan nilai ”siap jadi” dan ”mudah
didapat”, dalam kerangka perilaku take away dari sebuah supermarket of
faith yang melayani religious consummerism.
Tegasnya, berbeda dengan tesis the clash of civilization atau gagasan
memperkuat kelompok Islam moderat, tulisan ini hendak mengatakan
persoalannya bukan agama. Jawaban terhadap radikalisme Islam yang berbuah kekerasan sebaiknya dicari di luar Islam. Karena radikalisme itu merupakan fenomena kontemporer yang mengekspresikan globalisasi dan ketidakadilan dalam politik dunia.
Diterbitkan di: Oktober 23, 2007
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.