Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > slam: Antara Fundamentalisme dan Multikulturalisme

.

slam: Antara Fundamentalisme dan Multikulturalisme

Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan : 115  kata: 600   Diterbitkan di: Oktober 23, 2007
Salah satu tantangan bagi Amerika Serikat/Barat dan
kaum Muslim moderat di dunia Islam dewasa ini adalah tumbuh suburnya
fundamentalisme Islam yang tidak segan-segan menggunakan kekerasan
dalam melampiaskan perasaan dan kepentingan mereka atas nama Tuhan
sebagai sandaran bagi legitimasi tindakan.
Sudah semestinya para pemimpin AS/Barat dan tokoh-tokoh islamisme di
negara-negara Muslim mau berdialog dan menggunakan pendekatan
multikulturalisme baru untuk maju bertemu di tengah jalan yang belum
sepenuhnya buntu.Di tengah menguatnya era Islam Politik ini, dalam
batas-batas tertentu kunjungan Presiden AS George W Bush, Menteri Luar
Negeri AS Condoleezza Rice, dan Perdana Menteri Inggris Tony Blair di
Jakarta tahun 2006 merupakan langkah diplomatik dan upaya historis pada
tingkat global untuk memperbaiki relasi Islam-Barat yang menegang
pascaserangan AS/Barat ke Irak dan Afganistan, yang dilancarkan oleh
AS/Barat menyusul serangan teroris yang menghancurkan WTC New York
(11/9/2001).

Meminjam perspektif Fareed Zakaria (The Future of
Freedom, 2003): kepercayaan yang rigid, doktriner, dan puritan yang
dikendalikan oleh para teokrat picik dan pemimpin komunitas religius
fanatik sungguh relatif mapan dan berpengaruh.
Serangan kekuatan adidaya AS/Inggris dan sekutunya ke Afganistan dan
Irak memicu bangkitnya aksi terorisme transnasional yang dilakukan para
ekstremis Islam dengan klaim Jihad Islam. Doktrin George W Bush dan kubu neokonservatif
(hawkish) di Gedung Putih yang telah lazim disebut imperialisme
demokratik seakan menemukan tantangan baru dengan kemenangan islamisme
dalam pemilu demokratis di dunia Islam, seperti Hamas di Palestina,
Refah di Turki, dan seterusnya.

Kemenangan elektoral Hamas di Palestina yang
mengejutkan AS/Barat, seperti halnya kemenangan Refah di Turki dan FIS
di Aljazair tempo hari, semestinya membuka mata hati AS/Barat tentang
betapa signifikannya saling pengertian dan pemahaman antara para
pemimpin AS/Barat dan tokoh islamisme di dunia Muslim dalam
mempraktikkan demokrasi. Dalam konteks
Palestina, penyusunan skenario oleh AS dan Israel untuk menggulingkan
Hamas hampir pasti kontraproduktif dan meningkatkan resonansi politik
anti-Barat di dunia Islam (New York Times, 14/2/2005).

Sekadar menyebut beberapa nama, Olivier Roy
(Globalised Islam: the Search for a New Ummah, 2004) dan Gilles Kepel
(Jihad: The Trail of Political Islam, 2002) mengungkapkan bahwa
menjelang akhir abad ke-20 lalu, gerakan-gerakan Islamis telah mundur
dan gagal meraih kekuasaan dengan jalan demokratis maupun nondemokratis
(revolusi, kekerasan). Serangan teroris di WTC
New York dalam persepsi Roy dan Kepel merupakan upaya membalikkan
proses kemunduran itu, di mana tindakan itu sejatinya merupakan simbol
keputusasaan dari isolasi, fragmentasi, dan kemunduran islamisme.Multikulturalisme di sini merupakan suatu paham dan
pendekatan yang menawarkan perspektif kebudayaan dan agama dalam
memahami perbedaan-perbedaan yang ada selama ini.
Selain itu, multikulturalisme itu bukanlah cara pandang yang menyamakan
kebenaran agama-agama, melainkan justru mendorong pihak-pihak yang
berbeda untuk saling menghormati perbedaan dan kebhinekaan bukan karena
pengakuan terhadap kebenaran agama dan keyakinan mereka, tetapi karena
masing-masing harus menghormati nilai dan tradisi pihak lain dalam
kehidupan sosial, politik, dan keagamaan.

Ringkasan lain tentang slam: Antara Fundamentalisme dan Multikulturalisme
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------