Dalam video yang dirilis sayap media Al Qaeda, Al
Shahab, diperlihatkan Osama bin Laden sedang menyampaikan pesan kepada
Pemerintah Amerika Serikat untuk memperingati serangan 11 September
2001 (Seputar Indonesia, 9/9). Sudah tak terhitung berapa ribu jiwa yang teraniaya,
berapa ribu manusia yang hidupnya tertekan
Dalam kegalauan, berapa
banyak kerugian materi yang terhambur sia-sia.Artinya, tesis Samuel P Huntington bahwa akan terjadi
clash of civilization, benturan peradaban antara Islam dan kapitalisme
pascaruntuhnya komunisme, benar-benar menjadi kenyataan sejarah yang
hadir di hadapan manusia.
Juga pentas politik global yang telah menyekulerkan Islam, dalam arti menjadikan Islam hanya sebagai agama ritual.
Sejak beberapa dekade terakhir muncul gerakan-gerakan Islam yang ingin
menciptakan tatanan dunia baru yang berdiri tegak atas hukum (syariat)
Islam. Namun,
gerakan Islam kebanyakan lahir sebagai reaksi sehingga
kemunculannya bersifat spontan.
Gerakan Islam yang
tidak mempunyai suprastruktur akhirnya menyebabkan
gerakan tersebut tidak mempunyai sumber daya manusia yang memiliki
kesadaran sahih (al wa’y as shahih), selain mengandalkan ketokohan,
kedudukan, dan kepentingan yang sama.Begitu pula sejarah perjalanan Ikhwanul Muslimin di
Mesir yang dipelopori
oleh Al Imam As Syahid Hassan Al-Banna, yang
pengaruhnya dimanfaatkan oleh agen Amerika, Gamal Abdul Nasser, untuk
menggulingkan Raja Farouk pada era Revolusi Juli 1952. Setelah
itu mereka diberangus oleh "kawan" seperjuangan.
Anatomi
terorisme Data yang dikemukakan oleh Departemen Pertahanan AS dan PBB tersebut di
atas seolah-olah ingin melekatkan stereotip terorisme pada dunia Islam.
Berbagai pertemuan regional dan internasional yang membedah anatomi
terorisme juga tak melepaskan perbincangannya dari jagat aktivisme
Islam.Simak saja pernyataan yang pernah dilontarkan oleh
Fazlur Rahman, guru besar Nurcholis Madjid dari Chicago University,
yang mengatakan bahwa masa depan perkembangan Islam di dunia terletak
di Indonesia. Alasan Fazlur Rahman yang pertama
adalah eksistensi Islam di Indonesia tidak menunjukkan ekstremisme,
yang kemudian diperkuat
dengan tidak adanya kegiatan-kegiatan Islam
yang mengarah pada anarkisme. Kehidupan yang harmonis, cinta damai, ditunjukkan
dengan beragamnya berbagai suku, agama, dan ras yang hidup berdampingan
tanpa menonjolkan perbedaan.
Dalam konteks zaman tersebut, sungguh sebuah prestasi yang amat modern,
kata Robert N Bellah, sehingga tak mampu bertahan karena tidak didukung
oleh infrastruktur sosial yang memadai dan sikap masyarakat yang masih
tradisional konservatif.
Dengan kesimpulan semacam ini, artinya problem
terorisme bukanlah semata persoalan Islam, tetapi persoalan global yang
perlu dicarikan solusi bersama dengan mengadakan kerja sama
antarkawasan dan antariman untuk terbuka dan meneguhkan komitmen
bersama memberantas terorisme.
Yang tak kalah penting adalah langkah yang strategis dan profesional
dari berbagai organisasi regional, seperti ASEAN, ASEM, ARF, dan APEC,
dalam mencegah, mengontrol kejahatan transnasional melalui pertukaran
informasi, penegakan hukum, pengembangan kapasitas lembaga, serta
pelatihan dan kerja sama antarkawasan.
Ringkasan lain tentang Terorisme dan Perdamaian Global