Ideologi terorisme senantiasa hidup, bahkan tumbuh
subur di tengah gejolak politik global yang tidak adil dan kondisi
obyektif sosial ekonomi yang kian karut-marut.
Karena itu, diperlukan pendekatan yang mampu membongkar akar-akar
terorisme. Harus diakui, kekerasan bukan hal baru, usianya setua umur
manusia.
Sejak manusia ada di bumi, sejak itu pula kekerasan mewujud sehingga
Tuhan menciptakan manusia agar membawa misi perdamaian melalui para
utusan-Nya dan akal budi.Menurut Sen, dalam sejarah
agama dan negara bangsa,
identitas soliter menjadi paling dominan penduduk bumi, yaitu identitas
tunggal yang dianggap publik sebagai satu-satunya yang benar. Keyakinan itu lahir karena identitas dipahami sebagai takdir, bukan sesuatu yang bersifat dinamis, kontekstual, dan plural. Baik negara maju maupun berkembang sedang mengidap penyakit identitas soliter.
Untuk menggambarkan bahaya identitas soliter, ada sejumlah peristiwa masa lalu yang perlu dijadikan pelajaran. Konflik antara suku Hutu dan Tutsi di Rwanda memutus identitas kebangsaan dan kemanusiaan. Dalam hal ini, kesalahan terbesar dari ilusi identitas
soliter adalah pengotakan identitas ke dalam
federasi agama-agama dan
peradaban. Padahal, setiap manusia tidak bisa disederhanakan dalam identitas soliter karena setiap manusia mempunyai identitas beragam. Di antaranya identitas bahasa, suku, organisasi, pendidikan, afiliasi politik, profesi, dan lain-lain. Karena itu, paham tentang "Barat dan anti-Barat" yang melanda masyarakat dunia saat ini menyimpan kemuskilan tersendiri. Di satu sisi paham itu mengotak-ngotakan identitas ke bentuk tunggal yang ekstrem. Di sisi lain, paham itu mengabaikan kemajemukan dan persinggungan antaridentitas.
"Islam" dan "Barat"
Dalam sejarah peradaban dan ilmu pengetahuan, matematika, dan sains,
yang belakangan dianggap sebagai "Barat", pada hakikatnya merupakan
identitas peradaban yang lahir dan tumbuh di Timur.Sebaliknya, rasionalitas yang dikembangkan Ibnu Rushd adalah transmisi rasionalitas yang lahir dari rahim Aristoteles di Yunani. Demokrasi yang selama ini identik dengan Barat pada hakikatnya sudah dipraktikkan di Timur, seperti India, Iran, dan Arab.
Begitu pula pemilahan identitas antara "Islam" dan "Barat" mempunyai
kemuskilan tersendiri sebab di tengah komunitas Muslim, identitas Barat
diterima, dipelajari, dan dikritisi. Sebaliknya di Barat, tradisi dan khazanah Islam menjadi salah satu bidang kajian yang diminati.
Di antara mereka ada yang menjadi imam masjid, aktivis, pemikir, ahli komputer, mistikus, feminis, dan pebisnis media. Bahkan, populasi umat Islam di Amerika terus bertambah dan pelan-pelan menyodok populasi umat Yahudi. Atas dasar itu, Diana L Eck menyebut Amerika sebagai salah satu Islamic world.
Dengan demikian, simplifikasi identitas "Barat dan anti-Barat" serta
"Islam" dan "Barat" merupakan salah satu bentuk identitas soliter yang
tidak bisa dipertahankan lagi. Pilihan atas identitas adalah pilihan terbuka, yang sejatinya membangun rasionalitas dan perdamaian.
Karena itu, federasi agama-agama dan peradaban sebisa mungkin dijadikan
federasi yang terbuka untuk dialog, bukan federasi yang tertutup dan
soliter sebab federasi yang soliter hanya menyuburkan kebencian dan
kekerasan
Ringkasan lain tentang Terorisme dan Identitas Soliter