Yang mutakhir, penangkapan Oskar Makawata di Manila
dan pemberitaan majalah Time tentang Umar Farouq yang diduga
sebagai agen jaringan Al Qaeda di Asia Tenggara.
Sungguh, sulit menepis bahwa indikasi-indikasi tersebut mendekati kebenaran.
Terorisme sebagai gerakan mondial sudah barang tentu merambah ke
pelbagai pelosok dunia, dan mungkin saja mengunjungi
negara kita yang
dikenal terbuka menerima tamu-tamu asing.Sebab, identifikasi terorisme
tidak hanya kesulitan
yang dihadapi
pemerintah kita, tetapi hal yang sama juga dihadapi
negara adikuasa seperti Amerika Serikat.
Sampai saat ini, belum cukup bukti untuk memutuskan pelaku utama pengeboman World Trade Center (WTC), 11 September 2001.
Karena itu, yang mesti dilakukan pemerintah adalah sikap serius guna
mengidentifikasi dan menyelidiki segala bentuk peristiwa yang
terindikasi mempunyai kemiripan dan kedekatan dengan perilaku terorisme.Ini tak lain karena terorisme sudah terstigmatisasikan
se-demikian rupa, yaitu sebagai faham yang identik dengan kekerasan dan
intimidasi melawan pemerintah (the use of violence, intimidation, etc
to against and end; especially, a system of government ruling by terror).
Karena itu, tatkala negara kita disebut-sebut sebagai sarang terorisme, hampir tidak ada satu pun yang menerimanya. Selain terorisme mengancam kemanusiaan, terorisme sama sekali tidak sesuai dengan budaya bangsa yang ramah dan antikekerasan.Mereka meminta agar negara asing tidak mengintervensi
politik dalam negeri dan menyerahkan proses hukum atas pelaku terorisme
kepada pemerintah. Delapan elemen bangsa yang
terdiri dari Partai Keadilan, KNPI, Pemuda Katolik, Presidium GMNI,
Gema MKGR, PP GP Ansor, Betawi Mampang, dan DPN GMMPI, menolak
propaganda gelap (black propaganda) ala Amerika Serikat.
(Kompas, 23/9)
Namun, satu hal yang dilupakan para elite politik dan banyak kalangan
bahwa resistensi atas terorisme hanya sekadar lipstik belaka.Masyarakat asing sejatinya diperlihatkan tidak hanya
kepada kelompok tertentu yang selama ini dianggap sebagai "dalang
terorisme", melainkan melihat kelompok-kelompok lain yang mengedepankan
wacana keagamaan moderat, inklusif, dan pluralis.
Kedua langkah itu menjadi awal yang baik guna keluar dari politik
kambing hitam yang telah membawa bangsa ini dalam kejumudan perspektif
dan kerancuan arah politik. Terorisme merupakan lawan atas kemanusiaan, dan karena itu mesti disikapi secara serius, arif, dan adil.
Tidak hanya mengambinghitamkan "negara lain",
melainkan merampungkan undang-undang sembari mengampanyekan kepada
masyarakat dunia tentang pluralitas masyarakat beragama di Tanah Air,
lebih-lebih gerakan keagamaan, seperti NU-Muhammadiyah yang dalam
sejarahnya mengedepankan visi kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, dan
keadaban.
Ringkasan lain tentang Terorisme dan "Politik Kambing Hitam"