SETIAP tentara Amerika yang akan dikirim untuk misi
Anti-
Teroris, khususnya yang berpangkat E4-setara bintara-diwajibkan
mengikuti program latihan antiteroris,
dengan menonton Film American
Expose produksi Jac Anderson.
Film
itu berdurasi 40 menit, dengan paparan kisah yang sarat propaganda justifikasi stereotipe aktivis Islam teroris.
Film itu menggambarkan bagaimana bom meledak di sana sini, korban
berserakan, bersimbah darah, dan di antaranya, ada yang menangisi tubuh
korban yang terkena bom.Usai pemutaran film, pertanyaan pertama yang diajukan kepada para prajurit yang menontonnya adalah; "Bagaimana bila kita angkat senjata dan menghancurkan
mereka?" Spontan prajurit Amerika yang mengikuti pelatihan itu berkomentar; "Rasanya, kita benar-benar perlu turun tangan menghancurkan mereka. Dengan begitu, dunia ini akan menjadi aman dan damai, dan itu sesuai tugas kita
sebagai Polisi Dunia."
Dalam surat itu dipaparkan, menurut laporan Biro
Keamanan Diplomatik Deplu AS tahun 1990, hanya delapan dari 233 insiden
Teroris anti-AS yang ada hubungannya dengan Arab. Betapa banyak kelompok sebelum saya yang sudah
menonton film itu, lalu dikirim pada operasi militer di Timur Tengah
maupun Afrika yang penduduknya muslim seperti di Somalia. Dapat dibayangkan, bagaimana tindakan mereka di sana, sebagai tentara yang sudah diisi otaknya dengan visi anti-Islam.Bahkan, sebelum perang yang sebenarnya terjadi menjadi perang sesungguhnya.
Digambarkan, bagaimana bahasa perang dikemas
media berdasar prinsip
pencitraan musuh sebagai setan, sehingga nilai kemanusiaan dan
kebenaran pada pihak lawan, menjadi sirna oleh expose media massa yang
memihak.
Mereka juga menerapkan metode penghapusan berita, di
mana temuan pencari fakta komisi Eropa, yang menemukan sekitar 20.000
wanita muslim diperkosa tentara Serbia, tidak diberitakan.
Akibat pola dan metode pemberitaan media Yugoslavia yang amat
diskriminatif itu, maka terbangun persepsi keliru terhadap orang Bosnia. Sebaliknya, 38,4 persen responden menjawab, justru tentara Muslim/Kroasia yang bertanggung jawab. Sementara yang menjawab tidak tahu; 22,5 persen.
Begitulah peran media dalam membangun realitas semu. Ahli media mengatakan, "Realitas media adalah realitas tangan kedua" (The Media reality is the second hand reality). Dengan demikian, setiap hasil kerja media yang
terproses melalui jurnalisme stereotipe (kebiasaan jurnalisme
berdasarkan kognisi yang mengklasifikasi dan mengabstraksi fakta secara
tidak benar, penuh prasangka) amat berbahaya untuk dijadikan patokan
dalam penilaian, apalagi untuk dijadikan masukan, sebagai dasar
pengambilan keputusan.
Boleh jadi, penangkapan sejumlah aktivis Islam seperti
yang terjadi di Philipina, sebagaimana menimpa Tamsil Linrung, Jamal
Balfas, dan Agus Dwikarna, adalah karena hasil pengaruh expose media
terhadap aktivitas keislaman mereka, yang kemudian oleh pihak
intelijen, dijadikan bahan analisa daftar orang yang diwaspadai sebagai
terkait dengan jaringan teroris.pa yang diucapkan Menteri Senior Singapura Lee Kuan
Yew sebenarnya, boleh jadi cuma suatu refleksi improvisasi dan
aktualisasi pembacaan media. Dengan kata lain,
laporan medialah yang mendorong lahirnya tudingan adanya aktivitas
teroris di Indonesia dan itu dapat berarti, telah terjadi "Konspirasi
Pencitraan Media" terhadap aktivis Islam, yang lalu menjadi kolaborator
operasi intelijen AS selaku sponsor "Anti-Teroris".
Salah indikasi adanya konspirasi kolaborator media asing dalam operasi
intelijen, dapat dicermati pada laporan sejumlah media massa Indonesia,
yang menggambarkan saat-saat ditangkapnya Tamsil dan kawan-kawan.
Bahwa pada momentum penangkapan itu, ternyata jauh sebelumnya, sejumlah
wartawan telah disiapkan, untuk bersama-sama Polisi Filipina menangkap
dan menggrebeknya, guna diberitakan sebagai teroris asal Indonesia,
karena dalam tas mereka diketemukan komponen bahan peledak.
Ringkasan lain tentang Ekspose Terorisme dalam Justifikasi Stereotipe Aktivis Islam