A.Kohar Ibrahim :
HR Bandaharo dan Yang Tak Berniat Pulang
Hidup
Mati Penyair Dan Puisinya (3) :
BAGI saya, kedua sajak HR Bandaharo yang masing-masing berjudul “Cerita” dan “Dosa Apa”
itu merupakan sepasang sajak yang akan panjang usia dan akan mampu menggugah sekaligus menggugat alam perasaan dan pikiran manusia. Dan akan selalu diperhatikan para pencinta atau peminat seni sastra, khususnya perpuisian Indonesia. Seperti halnya baris-baris puitisnya yang masyhur sejak zaman Sukarno. Yakni : « Tak seorang berniat pulang / walau mati menanti. »
Pasalnya, pertama-tama dan terutama bukan lantaran mutu tinggi
dari kreasi puisi itu, berwujud kehamonisan isi
dengan bentuknya, melainkan muatan kesan dan pesannya dan nilai historisnya. Historis merupakan peng-ungkap-angkat-an lagu manusia – berupa
perjuangan dalam kehidupannya
untuk membela haknya, kebenaran dan keadilannya. Perjuangan untuk membela sekaligus mewujudkan kemerdekaan yang penuh. Kemerdekaan yang merupakan aspirasi Rakyat dan Bangsa Indonesia untuk mencapai kehidupan masyarakat manusia yang manusiawi, kehidupan yang aman tenteram dan subur makmur. Perjuangan demi mewujudkan aspirasi yang mulia itulah yang tidak diingini, yang ditakuti, dan yang mendapat perlawanan dari kekuatan-kekuasaan
kaum penjajah (kolonialis) dan kaum imperialis serta sekutunya di dalam negeri yang paling konservatif, yakni kaum feodalis yang reaksioner. Gabungan kekuatan-kekuasaan yang tersebutkan di zaman Sukarno sebagai kaum kontra-revolusi itulah yang demi mempertahankan kepentingan ekonominya menjalankan politik rongrongan berbagai cara terhadap Republik Indonesia dan untuk itu tak segan-segan melakukan tindakan kekerasan bersenjata. Dengan melancarkan aksi-aksi provokasi sampai pada pemberontakan-pemberontakan bersenjata di berbagai daerah (DI/TII, PRRI/Permesta, RMS) dan penjegalan atas implementasi UUPA/UUBH yang dikeluarkan oleh Pemerintah Sukarno.
Perjuangan manusia di zaman dulu maupun di zaman modern ; di zaman penjajahan maupun di zaman Revolusi Agustus di bumi Indonesia dan selanjutnya perjuangan untuk mencapai kemerdekaan penuh, memang ragam macam bentuknya. Baik bentuk-bentuk secara damai maupun secara kekerasan bersenjata. Dan perjuangan skala nasional itu erat berkaitan dengan skala internasional – karena memang tak terelakkan bagi rakyat dan bangsa terjajah atau bekas jajahan. Lebih lebih lagi dalam periode setelah Perang Dunia Kedua, berkelanjutan dengan berkobarnya Perang Dingin yang panas. Perjuangan dan Peperangan yang hakikatnya tak lain tak bukan adalah perjuangan yang dilancarkan – justeru ! – oleh kekuatan penjajah (kolonialis) dan neo-kolonialis serta imperialis yang bersekongkol dengan kekuatan fedoalis reaksioner di dalam negeri. Kekuatan kontra-revolusioner itulah yang tujuannya tak lain untuk mempertahankan seraya menguasai, bahkan menghegemoni kekayaan dunia ! Untuk itu, mereka melakukan segala cara untuk menghancurkan kaum progresip-revolusioner yang melancarkan revolusi melepas rantai-belenggu penjajahan, mencapai kemerdekaan dan menjadi tuan di negeri dan negara sendiri. Dan perjuangan hidup-mati itu, berupa pemberontakan atau revolusi melawan kaum kolonialis atau nekolim (neo-kolonialis dan imperialis) yang bersekutu dengan kaum feodalis reaksioner, berkobar bukan saja di Nusantara, melainkan juga di bagian-bagian dunia lainnya, terutama di benua Asia-Afrika.
Dan di dalam kancah perjuangan hidup-mati hadap berhadapan itu, memang orang tak bisa tidak harus memihak : apakah ke pihak Revolusi atau sebaliknya (kontra-revolusi). Sudah tentu dengan ragam nuansanya : ada yang konsisten, konsekwen, berani tampil ke depan dan siap berkorban demi membela Kemerdekaan dan mewujudkan aspirasinya yang penuh ; ada pula yang pura-pura, dan malah yang terang-terang memihak kekuatan kontra-revolusi, bertindak jadi pemberontak reaksioner atau pendukung pemberontakan seperti disebutkan di atas. Pemberontakan reaksioner yang terjadi di Sumatera, di Jawa Barat, di Sulawesi dan di Maluku. Selain itu, juga kaum reaksioner melakukan perlawanan atas pelaksanaan Undang-Undang yang menguntungkan Rakyat pedesaan atau kaum tani seperti UUPA/UUBH itu.
Menurut hemat saya, justeru dari dan karena adanya realitas perjuangan antara kekuatan Rakyat di pedesaan yang benar dan adil serta gigih itulah lahirnya baris-baris puitis dari penyair HR Bandaharo : « Tak seorang berniat pulang / walau mati menanti. » Hanya untuk mengungkap-angkat keteguh-gigihan kaum pejuang, meski sebagai kaum tani yang hanya bermodal dengkul dan pacul saja sekalipun !
Tetapi, jika kita ingat riwayat penyair Bandaharo, yang selain penulis, penyair juga jurnalis sejak masa mudanya ; pun jika diperhatikan dari keluarga apa dia dilahirkan, keyakinannya yang teguh dan apresiasinya yang tinggi pada Rakyat yang berjuang membela haknya yang benar dan adil, tidaklah mengherankan adanya. Jika saja kita mengingat pula, salah sebuah sajaknya yang begitu lugas sekaligus puitis melukiskan apa-siapanya dia. Yakni karyanya yang berjudul « Mirakel Tahun 2000 » -- beberapa baitnya sebagai berikut :
Ayahku Seumur Hidupnya Seorang Pejuang
Ia mati dalam keadaan papa / tak meninggalkan apa-apa / kecuali suatu cita-cita / tentang kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan / kehidupan makmur dan keadilan / dan jaminan atas hak asasi manusia.
Hanya itu warisannya / disampaikan dengan dengus napas terakhir / dan lega ia meninggalkan dunia fana ini. / Anak-anaknya akan meneruskan perjuangannya / sampai ke ujung hayat. / Lalu menyampaikan pula pada turunan mereka / cita-cita yang sama, juang yang sama.
Kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan / kemakmuran dan keadilan / dan jaminan hak azasi manusia.
Itulah mimpi indah yang menyihir / memberi hidup dan melangsungkan hidup / menyalakan juang dari abad ke abad. / Warisan turun-temurun / bagi si papa dan si miskin / di dunia, di semua negeri.
*
Keteguh-uletan, kekonsistenan, keyakinan akan kebenaran dan keadilan yang di-cita-impi-kan, kesetiaan menjaga komitmen sebagai seniman yang berpihak – itulah makna hakiki dari baris-baris puitisnya “Tak seorang berniat pulang / walau mati menanti”.
Akan halnya, bahwa dalam situasi-kondisi yang berbeda, seperti yang dialami ratusan ribu kaum yang tersisngkirkan, terkalahkan, terbuang seperti dia sendiri yang menjadi penghuni kamp konsentrasi Pulau Buru, versi sajak tersebut bisa berubah diubah-ubah. Tapi itu merupakan bagian dari kisah yang memang berbeda pula adanya. ***
Ringkasan lain tentang Hidup Mati Penyair dan Puisinya (3) - HR Bandaharo dan Yang Tak Berniat Pulang