Ini menjadi contoh betapa terorisme dan Islam yang dicampuradukkan oleh media
massa Barat telah membawa kebanyakan
orang pada kesimpulan yang keliru.
Sebelumnya, teman tersebut bertanya mengapa umat Islam harus berpuasa, di
manakah asalnya kekuatan menahan haus dan lapar, serta apa makna puasa itu? Jawaban-jawaban umum yang
menjelaskan bahwa puasa adalah ujian
mencapai ketakwaan yang hukumnya wajib, ujian mencapai kemenangan, dan masa bagi
umat Islam untuk berserah diri serta meningkatkan hubungannya dengan Allah,
lantas membawanya pada pertanyaan tentang teroris berpuasa apa tidak. Orang-orang yang berlalu-lalang di central business district
Melbourne, yang hanya membaca iklan headline koran yang dipajang di depan kios
majalah, tentu akan menyikapinya secara sederhana.
Bayangkanlah adegan
seperti ini: seorang penjual bunga keluar dari kereta api di
Melbourne Central Station, disambut iklan koran Melbourne Herald Sun yang memuat
gambar Osama bin Laden di atas judul berita Terrorist Attacks selama
berminggu-minggu menyusul serangan 11 September 2001. Sejumlah orang segera bertanya kepada rekan-rekannya yang
beragama Islam, apakah betul puasa tahun
Ini dimulai tanggal 6 November, yang
hanya selisih sehari dari Melbourne Cup pada tanggal 5 November-pesta pacuan
kuda terbesar di Australia-yang dijadikan hari libur nasional di Negara Bagian
Victoria. Pertanyaaan tentang Islam ini berkembang, mulai
dari yang paling dasar seperti shalat lima kali sehari, zakat, dan kegiatan
pengajian masyarakat Muslim di Australia, pertanyaan mengapa banyak umat Islam
yang hanya mau berbelanja daging di toko yang ada simbol halalnya, hingga
pertanyaan yang paling konyol seperti: apakah sewaktu kedatangan Abu Bakar
Ba''asyir di Australia, sang ustad mengajak orang-orang yang hadir melakukan
peledakan bom? Meski Perdana Menteri John Howard buru-buru membantah asumsi itu, toh masyarakat
memilih berpegang pada asumsi mereka setelah menyaksikan berita televisi dan
melihat foto David Supartha di media cetak, salah seorang warga Negara Indonesia
(WNI) yang digeledah di Perth, yang memperagakan bagaimana ia dan seluruh
keluarga disuruh telungkup di lantai saat petugas bersenjata lengkap dan
berpakaian tempur menggerebek rumahnya. TAHUN ini,
bagi umat Islam Indonesia di Australia, bulan Ramadhan yang bertepatan dengan
musim panas bukan saja sebuah ujian yang harus dijalani dalam bentuk menahan
haus dan lapar yang relatif lebih lama.Mereka serentak merasakan kecemasan dan ketakutan dalam berbagai tingkatan
setelah tragedi Bali dan terjadinya penggeledahan yang dilakukan ASIO, sebagai
tindak lanjut undang-undang antiterorisme yang baru-baru dikeluarkan Pemerintah
Federal. Kecemasan yang sama juga dirasakan puluhan ribu
warga asal Indonesia yang telah lama bermukim dan telah menjadi permanent
resident.Banyak yang tiba-tiba tampil berperan menjalankan fungsi sebagai duta bangsa,
baik di tingkatan komunitas bertetangga, kampus, hingga di tempat kerja untuk
menjelaskan hal-hal yang tidak tergambar dengan baik di media massa tentang
tragedi Bali dan penggeledahan ASIO memerangi terorisme.
Di sela-sela suara pakar seperti Arief Budiman, Dr Greg Barton, atau Dr Harold
Crouch, serta suara tokoh-tokoh Islam dan imam masjid yang dikutip oleh berbagai
media untuk menjelaskan terorisme dan Islam, para mahasiswa ini menjelaskan
Islam, bagaimana kondisi Indonesia, dan memaparkan pengetahunnya tentang Jamaah
Islamiyah kepada tetangga sebelah rumah. Dan, banyak warga Muslim Indonesia di Australia, yang berusaha
sebaik-baiknya, tidak kehilangan momentum untuk menjelaskan jati diri agama dan
bangsa mereka agar masyarakat dunia tidak memelihara kesalahpahaman.
Ringkasan lain tentang Penjual Bunga, Puasa, dan Terorisme