Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Pesantren dan Terorisme

Pesantren dan Terorisme

oleh: NasrulAzwar     Pengarang : Muhamad Ali
ª
 
Anjuran jihad global melawan Amerika, sekutunya, dan siapa pun yang tidak sefaham, dengan teror bom, seperti terekam dalam video, menjadi bahan penting dan cambuk bagi pemerintah, ulama, dan masyarakat untuk lebih serius memberantas terorisme.
Wapres dan beberapa cendekiawan berbeda pendapat, apakah beberapa pesantren itu harus ditutup. Wapres Jusuf Kalla mengatakan, ”Di antara 17.000 pesantren, ada satu dua pesantren amat ekstrem dan tidak sesuai ajaran yang diakui ulama-ulama kita. Maka, kita harus teliti dan awasi. Negeri Yaman menutup pesantren yang beraliran keras.” Prof Azyumardi Azra mendukung wewenang pemerintah untuk meneliti beberapa pesantren yang mengajarkan pemahaman Islam yang sempit dan membenarkan untuk memerangi Muslim yang tak sepaham dan non-Muslim.
Hasilnya, dua pesantren itu memang mengajarkan salafi (faham kembali ke masa awal Islam), namun tidak ada kesimpulan apakah dua pesantren ini melakukan cuci otak dan mengajarkan terorisme. Beberapa pesantren lain, yang diduga keras, juga perlu diteliti sejauh mana kebenarannya. Ada beberapa masalah harus dikaji sebelum pemerintah menindak pesantren ekstrem, mengingat begitu kompleksnya hubungan antara dunia pesantren (dan pendidikan secara umum) dan tindak kekerasan yang dilakukan sebagian alumninya.
Proses radikalisasi, militerisasi pikiran dan tindakan, mungkin terjadi dalam beberapa tahun terakhir melalui proses pergaulan, diisi pengajian tentang dakwah dan jihad sebagai perang melawan bangsa kafir. Proses radikalisasi pemikiran ini terjadi seiring pengalaman kelompok mereka yang melihat dan mempersepsi ketertindasan, berikut justifikasi teks-teks Al Quran dan hadis yang ditarik sepotong-potong, literal, dan di luar konteks.
Sejauh ini, kajian tentang pesantren baru memetakan pesantren menjadi tradisionalis, modernis, tetapi belum secara khusus dan mendalam meneliti keterkaitan pesantren-pesantren sebagai sistem dan kekerasan sebagai ideologi dan tindakan. Perbedaan dalam wacana keagamaan tidak bisa dikontrol negara. Namun, negara wajib bertindak ketika ada potensi dan aksi yang mengancam keamanan dan ketertiban umum melalui proses hukum yang adil.
Tidak sekadar dugaan ada hubungan antara pesantren tertentu dan keterlibatan alumnusnya dalam terorisme. Kalangan Muslim mainstream Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, dan lainnya harus terus melakukan dialog dan pertemuan dengan pesantren-pesantren, termasuk beberapa pesantren yang dianggap ekstrem.
Tradisi, jati diri, dan independensi pesantren harus dijaga, tetapi adaptasi terhadap hal-hal yang lebih baik dan positif, dalam konteks keagamaan, kebangsaan, dan kemanusiaan, juga perlu dikembangkan dalam bentuk pengembangan sumber daya manusia guru, kurikulum, metodologi, dan fasilitas-fasilitas pendidikannya. Setiap pesantren dan lembaga pendidikan secara umum memiliki kewajiban untuk terus mencerdaskan, bukan mengerdilkan pikiran dan menerorisasi perilaku anak-anak bangsa.
Diterbitkan di: 21 Oktober, 2007   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

5 Teratas

.