Adakah impian seorang warga tentang suatu kota yang
dianggap bisa dinikmati
dengan enak sebagai suatu wishful thinking,
impian disiang hari bolong, pelarian dari kenyataan kehidupan
sehari-hari, frozen into nosltalgia, membeku pada masa lalu?Untuk itulah jika saya kini berusaha membayangkan
Yogyakarta yang rindang, dan asap kendaraan bermotor kian susut, dan
dada terasa enak, lega, dan mata tak perih kena debu dan asap
motor-mobil, dan berjalan bisa
dengan santai, serta tak takut
diserempet motor-mobil, dan trotoar, side walk leluasa, dan
warung-warung tak sekepenake dewek membuang bekas banyu isah-isah
ditempat orang lalulalang. Silakan
jalan dari stasiun Tugu ke arah Tugu, atau ke
pasar (Lu)bering Harjo, melintasi Malioboro maka hidung dan mata kita
terasa pedih, seperti kita mengalami di jalan Cornel Simanjuntak,
Diponegoro, Katamso, dan beberapa ruas jalan lain yang membuat kulit
kita dengan sekejab disergap oleh udara dan debu. Dan kesesakan itu bukan hanya berpengaruh secara
fisik, juga pikiran dan perasaan kita beserta benih bayi dan anak-anak
yang kini sedang tumbuh berkembang yang akan kian susut dalam kapasitas
pertumbuhannya. Dengan kata lain, perkembangan
urban areas, tata ruang perkotaan yang tidak didasarkan kepada kesadran
lingkungan, ekologis, akan mengakibatkan suatu degradasi bagi generasi
yang akan datang didalam pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan
emosional dan intelektual, dan menciptakan watak yang tak sabaran,
mudah marah.
Secara praktis, Yogyakarta yang mengemban masa lampau yang mengemban
begitu banyak khasanah tradisi, dan hal itulah yang selalu
diagul-agulkan dalam dunia pariwisata, yang kini menjadi pertanyaan
kita, adakah khasanah tradisi itu hanya sekedar dijadikan kembang lambe
bagi kalangan turis, dan kita tak pernah belajar dari masa lampau
tentang suatu lingkungan yang lebih baik, yang sesungguhnya secara
ekonomis akan lebih bermanfaat: potensi manusia yang akan berkembang
dengan baik sebagai sumber dari segala sumber untuk penciptaan
kebudayaan?