Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Negara, Senirupa, Kenyinyiran, dan Kambing Hitam

.

Negara, Senirupa, Kenyinyiran, dan Kambing Hitam

Pengarang : Halim HD
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan : 57  kata: 600   Diterbitkan di: Oktober 21, 2007
Setiap warga pembayar pajak berhak mempertanyakan dan
bahkan menggugat posisi-fungsi negara: sejauh manakah pengelola negara
sudah benar-benar menerapkan undang-undang yang telah disepakati,
misalnya adakah negara beserta perangkatnya memberikan anggaran yang
cukup bagi kehidupan kesenian, dan sejauh manakah anggaran itu memadai
bagi missi kesenian yang bisa mencitrakan sebuah bangsa melalui
berbagai peristiwa, apakah itu biennale (dan festival).Lihatlah Sukarno, betapa dia begitu antusias terlibat dalam ruang dan patung publik di ibukota;
dan bagaimana dia berdiskusi dengan seniman-pematung Sunarso dan
perancang tata ruang kota dan ahli konstruksi Sutami, seperti dia juga
begitu antusias berdiskusi dengan seorang remaja, Andi Nani Sapada yang
pada tahun 1947 berumur 18 tahun, penari dan peletak dasar kesenian
panggung di Sulawesi Selatan. Dan dengan itu pula, Sukarno mengajak warga di
nusantara: banggalah jadi bangsa yang memiliki semuanya itu, dan
tumbuh-kembangkanlah kekayaan khasanah tradisi dan senibudaya yang ada
di bumi nusantara sebagai usaha untuk mengisi kemerdekaan bangsa ini.
Dan kini, jika kita membandingkan dengan politik kebudayaan jaman
Sukarno dengan Suharto yang menancapkan ideologi pembangunan dengan
segi ekonomi sebagai yang utama, disitu pula sesungguhnya kita bisa
melihat suatu perubahan besar posisi seniman-pematung misalnya sebagai
kasus, sekedar menjadi pelengkap-penderita: dia tidak lebih dari tukang
yang menerima orderan dari para kontraktor yang melambung posisinya
lantaran memiliki kekuatan politik-ekonomi yang berkongkalikong dengan
para pejabat yang juga memiliki kepentingan ekonomis dan politik.Jadilah mereka seperti cacing yang melata dibawah
sepatu para pejabat dan kontraktor, sama seperti para arsitek yang
hanya bisa memulas-mulas bagian depan rumah atau bangunan, dan itupun
dengan tipuan dan manipulasi jiplakan dari negeri lain, dengan apologi:
mengikuti jaman, sesuai dengan selera globalisasi, dan ditambah
sentuhan, konon, citra dan khasanah etnik yang dijadikan lipstik
arsitektur. an disitu pula kita menyaksikan mereka tak lebih dari
bebek kebudayaan, pengekor dengan berbagai gaya yang dipetik dan
disulap, dan sekali lagi, seperti kalangan arsitektur, memakai lipstik
etnik agar masih dilihat dan dianggap memiliki “nasionalisme” dan
bagian dari sejarah peninggalan nenek moyangnya.

Ringkasan lain tentang Negara, Senirupa, Kenyinyiran, dan Kambing Hitam
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------