Pada
catatan saya yang terdahulu yang saya beri tajuk
“Suksesi Murti dan Visi Taman Budaya Surakarta” yang saya tulis
dari
Makassar pada tanggal 12 Maret 2007, saya lebih banyak menekankan
kupasan saya kepada posisi dan fungsi kepemimpinan yang pernah
diletakan oleh juragane TBS sepanjang hampir 27 tahun (selama rentang
waktu kekuasaan 5 presiden, 10 menteri, 10 dirjen, dari jaman Suharto,
Habibie, Gusdur, Megawati sampai SBY).Saya tidak menolak hal itu, apalagi bagi mereka yang
tidak cukup memahami dan tahu perjalanan panjang sebuah institusi
pemerintah yang dikelola secara
terbuka dalam suatu kondisi dimana
kebebasan berekspresi mengalami kebuntuan lantaran berbagai larangan
dan kontrol sosial-politik dan birokrasi kebudayaan di nusantara.
Yang paling penting dari apa yang ingin saya sampaikan disitu adalah
bahwa apa yang pernah dijalani dan disitu pula saya beberkan berbagai
bukti yang bukan hanya karena saya terlibat di dalamnya, tapi juga
berdasarkan pertimbangan yang diberikan, serta informasi yang saya
serap selama perjalanan saya keliling keberbagai daerah.Saya hanya percaya kepada pertemuan antar manusia,
kepada keringat, kepada usaha penggalian pengalaman dan merenunginya,
lalu menyusun ke dalam suatu rencana kerja kebudayaan yang visioner,
yang berangkat dari sikap terbuka, mau ngglesot, dan jangan hanya
nongkrong di kantor, bersedia dan siap untuk bersilaturahmi dengan
siapa saja, membuka kuping selebar-lebarnya dan tebalkan kuping
lantaran dunia kesenian penuh dengan omongan yang sering tanpa
argumentasi namun penting untuk didengar atau cara penyampaian yang
mbulet, serta banyak cara penyampaian (seperti surat ini yang
blak-blakan!) yang tanpa tedeng aling-aling, dan jangan lalu masuk
kedalam prasangka etnis (waaah, cah kuwi dudu wong Jowo! Dengan kata lain, disiplin diri kepada waktu, dan
menerima orang bukan lantaran asesoris baju atau status sosial, namun
karena buah pikiran, argumentasi yang jernih, wani ngudar rasa lan
pikiran dengan blak-blakan yang mesti diiringi oleh pijakan berpikir
yang kuat. Hal itu karena almarhum paham benar: feodalisme bikin
orang kayak cacing melata yang dibawa dari wilayah pedesaan yang
ditelikung oleh kolonialisme serta kekuasaan lokal yang kerap lebih
kejam dari Walandi telah berurat akar dan diiringi oleh sistem keluarga
yang salah kaprah dalam menerapkan unggah-ungguh yang – meminjam
ungkapan almarhum pak Kajo “Bengok” yang rajin isah-isah dan nyapu –
mesti dibongkar melalui keberanian menerima perbedaaan pendapat,
keberanian untuk dikupas-bedah, ditelanjangi agar diri makin jernih,
eling lan waspadaItu lho yang banyak bulunya, yang terampil, dan siap
melayani apa maunya seniman panggung, dan wani diskusi serta debat
dengan seniman, disamping manut, dadi kanca wingking, sekalipun
berhadapan dengan seniman pemula, dan mau belajar dari mereka yang
dianggap berpengalaman dan matang! Sapa seh anak STSI penata panggung yang nggak diajak
dan tidak disentuh oleh Henky Syafruddin Rivai (jenenge dawa nyaingi
SBY!), yang kini diantaranya tak sedikit memasuki jenjang professional,
dan malang melintang diberbagai kota, dan masuk kedalam berbagai
festival dan acara kesenian! Dan itu artinya ada policy yang telah diterapkan oleh
pimpinan: bagaimana mendudukan seseorang dengan tepat dan sesuai dengan
keterampilan yang dimilikinya, dan dengan sikap yang sigap serta cara
berpikir yang terbuka. Contoh kecil ini sangat perlu, sebab, kantor publik
yang tidak sadar melayani akan repot sendiri: mari silakan telepon
taman budaya di Palu atau Makassar, atau Surabaya, kita akan lumayan
jengkel lantaran dioper kesana-kesini, sementara pulsa jalan terus, dan
setelah diterima oleh yang kita anggap bersangkutan, kitapun tidak
mendapatkan informasi yang kita inginkan.Pengetahuan yang dimilikinya yang rata-rata lebih baik
dari semua staf, secara umum, semula saya anggap bisa menjadi jembatan
yang lapang bagi rekan seniman, terutama yang pemula dan sedang menapak
jalan terjal. Yang perlu diresapi oleh staf TBS
adalah bahwa mereka disamping demikian sigap dibandingkan taman budaya
lainnya, mereka diuntungkan oleh adanya berbagai kalangan seniman muda
dan organizer yang mau berkeringat, yang mau membuat event, mau
merumuskan gagasannya serta mengelola sebuah acara, misalnya acara tari
bulan ganjil itu (dan kemana pula itu musik bulan genap yang pernah
digagas oleh Ki Yayat Suhiryatna Nuruddin Rawud yang peka kepada
potensi calon musisi dan komposer pemula dan terampil dalam melayni
serta gampangan; dan kenapa pula Jarot Budidarsana tidak
melanjutkan Open Day of Art di Wisma Seni) atau beberapa acara seperti
sastera, diskusi buku, film, serta berbagai diskusi lainnya di Wisma
Seni.
Dan jika kita mau merenungi semua perjalanan yang ada, dan belajar dari
pengalaman itu, tidak terlalu sulit untuk membuat rencana kerja baik,
dalam artian bahwa kontinyuitas terjaga, yang didasarkan kepada
informasi yang mesti dikejar dan jangan hanya menunggu.Dan merekalah pemilik masadepan, dan merekalah yang
sesungguhnya menanggung masalah kehidupan yang lebih besar daripada
yang kita hadapi pada masakini. Dan kita mesti bisa memberikan
ruang yang terbaik kepada mereka. Jika tidak, maka kita berhutang
kepada masalampau, dan bersalah kepada masa depan.
Dan kepada sesama rekan yang pernah bertemu dan bekerja bersama-sama di
TBS, melalui
catatan ini saya ingin menyatakan, sebelum menutup (untuk
sementara;
dan bukan tidak mungkin saya akan melanjutkan pada masa yang akan
datang!) catatan ini yang saya mulai tulis pada jam: 22.30 wita tanggal
24 Maret 2007 , bahwa apa yang saya sampaikan disini, inilah yang saya
pikirkan dan saya rasakan berdasarkan pengalaman saya, dan ditambah
berbagai informasi, kabar dari rekan-rekan di Solo setahun terakhir ini.