Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Ironi Sebuah Padepokan

.

Ironi Sebuah Padepokan

Pengarang : Halim HD
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan : 88  kata: 600   Diterbitkan di: Oktober 21, 2007
Itulah yang terjadi, yang sesungguhnya sudah begitu
banyak saran dan usulan untuk bagaimana menangkap gejala yang demikian
deras membentuk menjadi kenyataan, yang kini sangat pahit dirasakan.
Hal itu terjadi pada Padepokan Lemah Putih (PLP) yang dikelola dan
dimiliki oleh sosok tokoh movement dalam dunia seni pertunjukan,
Suprapto Suryodarmo, yang pernah selama rentang waktu tahun 1980-90-an
demikian fenomenal sebagai figur yang ikut mengisi bukan hanya dalam
bentuk acara, tapi juga khasanah dan pengenalan kepada sisi lain dari
kehidupan seni pertunjukan moderen-kontemporer yang berangkat dari
berbagai gabungan akar tradisi: Jawa, Buddhisme, Tai Chi, Pencak dari
berbagai wilayah nusantara dan tradisi yang diajarkan pada lembaga
pendidikan.
Jika saya katakana bahwa saran dan usulan, sebab, selama awal tahun
1990-an saya berulangkali mengirim surat dan dialog secara langsung
dengan sosok yang sangat dikenal dibeberapa Negara Eropa (Belanda,
Jerman, Denmark, Italia, Norwegia, Swiss, Inggris, Perancis), Amerika,
Australia dan Filipina – yang kesemuanya dibentuk oleh mbah Prapto,
panggilan akrabnya, melalui pengolahan gerak, yang oleh banyak kalangan
di negeri-negeri industri dianggap sebagai solusi dari suatu pakem
lembaga pendidikan yang cenderung membeku.
Dan dari mbah prapto pula banyak anak-anak muda pelaku seni pertunjukan
tari, teater, dan juga bagi mereka yang sekedar ingin mengolah tubuh
agar bisa rilek, seperti yang juga dilakukan oleh tak sedikit kaum
profesional dari disiplin lain yang kesengsem oleh program mbah Prapto
yang nampak sangat kuat untuk pencarian kepada akar di lingkungannya
maupun akar potensi yang ada didalam diri seseorang.Dan bagaimana posisi tradisi yang lama maupun yang
akan diciptakan diantara derasnya gerak pasar kesenian, yang justeru
ikut mengubah orientasi, sikap hidup pada kebanyakan pelaku seni
pertunjukan, seperti yang sesunguhnya diprihatinkan oleh mbah Prapto.

Ironi itu sesungguhnya disadari benar oleh mbah
Prapto, yang belakangan ini sedang berusaha kembali memahami “kesenian
rakyat” yang dekat dengan lingkungan sosialnya, dan ingin kembali
menancapkan akar yang agak lain dari perkembangan terakhir PLP, yang
selama rentang waktu hampir 20 tahun penuh dengan kehadiran londo, yang
sering membuat masyarakat di lingkungannya juga heran dan bahkan
bengong oleh tingkah laku yang agak tidak biasa bagi mereka. Dan kembali kita berhadapan dan merasakan ironi yang
kian pahit: bukankah dulu mbah Prapto seperti mereka, kaum muda yang
sedang mencari dan berusaha memahami tubuhnya, yang jika kita
menyaksikan pada tahun 1970-an dan 1980-an, dimana mbah Prapto
berjungkir balik jumpalitan, ngolet dimana saja, dan bahkan di atas
atap genting pendapa Sasanamulya pada siang hari bolong?Walaupun tentu saja kita juga bisa menerima apa yang
diprihatinkan oleh sosok yang kini akrab dengan lingkungan birokrasi
pariwisata dan pemkot yang dahulu dijauhinya, tentang betapa perlunya
kesadaran kepada ruang sosial bagi seniman jenis apapun dalam melakukan
kegiatan.

Ringkasan lain tentang Ironi Sebuah Padepokan
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------