Di dalam peristiwa kebudayaan yang kita sebut festival
yang telah menjadi tema kehidupan masyarakat seniman yang sepanjang
tahun selalu dinanti-nantikan oleh pelaku, kritisi, pengamat dan publik
senantiasa berhadapan
dengan problema: adakah acara itu
sebagai suatu peristiwa milik masyarakat bersama, ataukah hal itu sebagai acara yang
digarap oleh event organizer yang kini kian menjamur dimana-mana, yang
ingin mengumpulkan kalangan seniman dan mengajak kepada pelaku kesenian
untuk menyajikan karya-karya yang dianggap layak untuk ditonton.Di suatu kota yang dianggap sebagai wilayah kebudayaan
yang memiliki seni pertunjukan (tari) yang telah memiliki sebaran
pengaruh yang kuat yang didukung oleh latar belakang sejarah dan
kehidupan seni pertunjukannya, seperti Pekan Baru dengan kebudayaan
Melayunya yang telah menjangkau wilayah nusantara dan Asia Tenggara
(Singapura dan Malaysia), pada tahun 2005, dalam tajuk Pasar
tari Kontemporer, saya harus merasa kecewa dengan berbagai sajian karya tari
yang diusung oleh masing-masing peserta yang datang
dari berbagai
daerah dari nusantara, dan diantaranya peserta dari Malaysia.Dan bagaimana dengan biaya yang sebesar itu bisa
menghasilkan suatu pemberitaan yang layak dibaca untuk media yang
berdomisili di “pusat”. Maka apa yang disajikan
selama beberapa malam itu, diantara diskusi yang digelar pada pagi
hari, yang tema serta berbagai komentarnya terasa kurang memiliki bobot
yang cukup kuat untuk memandang masalah dunia seni pertunjukan, acara
itu berjalan sebagaimana sebuah kerutinan. Festival tari di Makassar sekedar proyek yang digarap
dengan rentang
waktu yang pendek, dan panitia yang juga cenderung
menggampangkan masalah: yang penting mereka mendapatkan sekedar pengisi
kocek dan menambah curriculum vitae sebagai event organizer yang
nantinya dibutuhkan dalam melamar untuk magang atau woksyop manajemen
seni pertunjukan.Sebab, kita juga tahu pat-gulipat didalam birokrasi
pendidikan kita sering memperangkap panitia dan kurator (yang terbatas
waktu dan dana untuk biaya keliling pemantauannya) yang menggunakan
lembaga itu sebagai jaringan informasinya. Dan
lembaga ini perlu menegaskan diri secara konkrit bahwa festival sebagai
suatu indikator untuk melihat perkembangan mutahir dunia tari, mesti
kembali kepada watak yang sesungguhnya: bahwa festival adalah bukan
sekedar sebuah acara, tapi suatu peristiwa kebudayaan, upaya merayakan
secara bersama-sama yang didasarkan kepada tetesan keringat dalam
proses pencarian jatidiri setiap pelaku yang berangkat dari lingkungan
geografi kulturalnya, dan disitu pula dirinya mempertaruhkan lubuk
hatinya yang paling dalam.
Ringkasan lain tentang Kuratorial Tari: Waktu, Data, dan Kejujuran