• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Tradisi yang Kehilangan Fungsi

.

Tradisi yang Kehilangan Fungsi

oleh : NasrulAzwar     

Pengarang : Halim HD
Apa yang bisa kita harapkan dari posisi kehidupan
tradisi yang nampaknya kini kian rapuh, betapapun begitu banyak usaha,

terutama dalam bentuk pernyataan dari rasa keprihatinan dan uji coba
dalam berbagai kegiatan, dan yang paling banyak lagi adalah pidato?Ataukah hal itu hanya jadi sekedar pengisi, selingan
dikala obrolan mandeg, tak ada bahan obrolan dan tak mampu menelusuri
dan melacak masalah lebih jauh dan kita masuk kedalam masa lampau, dan
memotongnya sekedar untuk selingan diantara nyruput wedang teh gitelnas
(legi kenthel panas)? Benarkan ujar-ujar itu
kini sekedar sisa dari masalampau, dan tidak lagi memiliki konteks
aktual untuk menggedor diri kita, menggugat diantara jaman kian deras
dengan berbagai tawaran yang menggiurkan, dan bukan hanya mampu tapi
dapat membuat diri lupa daratan, dan begitu banyak orang dadi kere
munggah bale lewat kreditan, atau menggadaikan tanah hanya untuk sebuah
mobil, motor, kulkas, dan mengijonkan 6-7 kuintal padi hanya untuk
sebuah hape?
Dan kenapa pula ajaran yang dianggap adiluhung itu yang selalu
disampaikan oleh kalangan elite sosial dan justeru mereka pula yang
sering melanggarnya: lihatlah seliweran kendaraan mewah, dan
saksikanlah ruang tamu, dan bagaimana kalangan elite sosial politik itu
bertingkah laku dan pola konsumsinya, dari makanan, pakaian, dan
terutama asesoris yang ting gemantung disekitar tubuhnya?
Atau kita kini memasuki suatu jaman dimana hipokrisi telah menjadi
bagian kehidupan kita, dan kita masuk kedalam apa yang dinyatakan oleh
pujangga Ronggowarsita, jaman edan, rusaknya tatanan, dan kita
kehilangan kriteria etik dan moral didalam menjalani kehidupan, asal
lahap, dan asal bisa hidup, apapun dilakukan?
Dan berkaitan dengan ajaran, pendidikan, maka perlu
kiranya kita menengok dan melacak sejauh manakah ajaran itu masih dan
memang ada di lingkungan keluarga? Bukankah
pemikir pendidikan dan tokoh sejarah kita Ki Hajar Dewantara menyatakan
bahwa keluarga merupakan basis yang paling penting didalam menerapkan
dan mengembangkan watak sang anak, disamping lingkungan masyarakat dan
lembaga pendidikan?
Diterbitkan di: Oktober 21, 2007
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.