Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Pakarena, Jean, dan Selop

.

Pakarena, Jean, dan Selop

Summary rating: 3 stars 2 Tinjauan
Pengarang : Halim HD
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan : 118  kata: 600   Diterbitkan di: Oktober 21, 2007
Usaha untuk mematut-matutkan diri bukanlah suatu yang yang buruk.
Seseorang yang merasa ingin dianggap dan menjadi tinggi tubuhnya, bisa
saja dia melakukan suatu operasi atau menjalankan terapi, agar tubuh
dlihat semampai dan cantik berdasarkan suatu konsep tentang keindahan
tubuh. Namun, sering kita juga menyaksikan betapa
banyak orang yang kerap memaksakan diri, seperti halnya seseorang yang
menyaksikan suatu mode pakaian yang nampak indah dalam suatu lembaran
iklan atau siaran teve, dan lalu dia ingin membeli dan memilikinya.Demikian juga halnya dengan apa yang terjadi pada
sajian tari yang dianggap sebagai tradisi yang telah berumur ratusan
tahun: Pakarena, suatu khasanah tari dari geografi kultural etnis
Makassar di Sulawesi Selatan yang dipanggungkan pada suatu pembukaan
Peksiminas (Pekan Seni Mahasiswa tingkat Nasional) di Makassar oleh
rombongan Sulsel. Disitu kita menyaksikan betapa repotnya para penari
Pakarena yang menggunakan selop dengan hak-kaki yang agak tinggi, dan
menari di atas karpet warna merah. Maka gerak kaki pelaku
Pakarena yang mestinya selalu merapat di atas panggung (baca: bumi,
sebagaimana konsep tata ruang dalam Pakarena) selalu tersaruk-saruk.
Disitu kita menyaksikan betapa bukan hanya repot bagi penari, tapi
lebih dari itu, ada sesuatu yang melewati batas-batas dimana suatu
konsep, prinisp didalam khasanah tradisi yang telah teruji oleh jaman,
rusak oleh hanya kegenitan penafsir tradisi yang kehilangan kesadaran
sejarahnya: selop dengan hak-kaki tinggi digunakan agar penari nampak
semampai.Dan dinamakan tradisi karena didalam dirinya merupakan
suatu bentuk dari proses penafsiran kepada tata ruang yang selalu
dipahami dengan penuh intensitas yang tinggi, dan selalu berrangkat
dari lingkungannya, ekologi budayanya. Tapi,
kondisi khasanah tradisi yang kini kita hadapi dengan penafsiran yang
melenceng dari apa yang seharusnya dikerjakan pula kita makin menyadari
bahwa ada sesuatu yang hilang didalam proses kerja.
Dan hal itu didahului oleh tak adanya pemahaman yang mendalamsecara
kesejarahan: cara berpikir yang pragmatis dangkal serta menggantungkan
diri kepada cara pandang bahwa tradisi itu glamour sebagaimana cara
berpikir kalangan elite pada jaman feodal yang hingga kini diteruskan
melalui dinas pariwisata dan sejumlah pengajar yang telah ikut
memanipulasi berbagai kekhasan khasanah tradisi itu sendiri.bu Andi Ummu Tunru, dalam suatu percakapan santai di
warung depan Fort Rotterdam, Makassar, beberapa tahun yang lampau
disela-sela menyiapkan Makassar Arts Forum (MAF-99), ketika saya tanya,
masalah apakah yang dihadapi di dalam pengembangan dan pelestarian tari
Pakarena, beliau menyatakan bahwa kondisi dan situasi kota: gaya hidup,
life style! Secara pribadi Ibu Andi Ummu Tunru melarang penarinya
menggunakan celana jean ketika latihan, dan bahkan menganjurkan untuk
menggunakan sarung atau kain kalau berada di rumah, agar tubuh tidak
dibentuk menjadi kaku oleh kostum yang kini dianggap sebagai pakaian
yang mengikuti jaman.

Ringkasan lain tentang Pakarena, Jean, dan Selop
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------