Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Kepentingan Bangsa Vs Kepentingan Perempuan

.

Kepentingan Bangsa Vs Kepentingan Perempuan

Summary rating: 5 stars 1 Tinjauan
Pengarang : Gadis Arivia
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan : 151  kata: 600   Diterbitkan di: Oktober 20, 2007
MEMBUKA lembaran-lembaran buku bersejarah tentang Soekarno dan
mencari tulisan-tulisan maupun paragraf-paragraf yang penting, yang menuangkan
gagasan Soekarno tentang perempuan, mengantar kita ke lembaran sejarah
pergerakan perempuan di masa lalu.I "Banjak orang jang tidak mengerti apa
sebabnja saja anggap kursus-kursus wanita itu begitu penting.Organisasi-organisasi perempuan ini mempunyai anggota yang bervariasi dalam
latar belakang sosial dan politiknya. Cakupannya meliputi tingkat kelas
menengah-bawah yang meluas. Isu-isu yang dilontarkan adalah
seputar partisipasi perempuan dalam politik dan keterlibatan perempuan dalam
pengambilan keputusan (decision-making). Tigapuluh perempuan yang mengikuti kongres tersebut tetap berkonsentrasi untuk
mendiskusikan isu-isu perempuan dan bukan nasionalisme. Bahkan, ada
tuduhan terhadap Soekarno yang ingin "memolitikkan" isu-isu perempuan bagi
kepentingan politiknya. Terhadap tuduhan ini, Soekarno mengelak
dengan mengatakan bahwa soal perempuan adalah soal yang luas.Di antaranya adalah Perikatan Perempuan Indonesia (PPI) yang namanya kemudian
berubah menjadi Asosiasi Perempuan Indonesia (API). Tahun 1935, berganti
nama lagi menjadi Kongres Perempuan Indonesia (KPI). Dalam kiprah
politiknya, kelompok ini kelihatannya mengambil "jalan tengah" yakni bermain di
antara isu-isu perempuan dan nasionalisme, antara Isu perkawinan yakni monogami
dengan pendidikan campuran (anak laki-laki dan perempuan). Kali ini, Soekarno berhasil mencuri perhatian kelompok perempuan apalagi ide
memperjuangkan kemerdekaan dapat merangkul kelompok-kelompok perempuan berbasis
agama yang masih curiga dengan isu-isu perempuan yang diperjuangkan, seperti hak
seorang istri untuk meminta perceraian bila sang suami mempunyai istri kedua.Ulfah Subadio yang lama aktif di dunia politik dan kemudian menjadi menteri
perempuan pertama Indonesia merefleksikan ketegangan yang terjadi saat itu, dan
menyimpulkan bahwa: "Kita memang bukan merupakan sebuah gerakan feminis, kita
tidak pernah mendjadi sebuah gerakan feminis, kita berfikir lebih baik melawan
pendjadjahan daripada melawan laki-laki.Ia sama sekali tidak menjelaskan protes gerakan perempuan sosialis akan
keberatan mereka terhadap ide-ide dan aksi-aksi mengalahkan kepentingan
perempuan demi kepentingan ideologi. Ia juga tidak
menyinggung betapa Zetkin berusaha mendiskusikan secara terbuka isu-isu
kesetaraan dalam diskusi perempuan dalam Partai Komunis yang saat itu mendapat
teguran keras dari Lenin. Bagi Lenin apa yang dikerjakan Zetkin-yaitu
mendiskusikan isu-isu perempuan-tidak memberikan kontribusi dalam perjuangan
revolusioner. Menurut Lenin, yang seharusnya dilakukan oleh
Zetkin bukan membuang-buang waktu membicarakan soal-soal perempuan tetapi
membangkitkan gairah dan kesadaran perjuangan revolusioner menentang kapitalisme
pada perempuan. Karya besarnya tentang perempuan yang ia tuangkan dalam bukunya berjudul Sarinah
setebal 329 halaman ini, menunjukkan keseriusannya dalam membedah
persoalan-persoalan perempuan. Pada bab-bab pertama, ia
membahas soal laki-laki dan perempuan, soal "alam" dan "kultur" serta
menunjukkan bagaimana perempuan didefinisikan oleh kultur. Ia menjanjikan bahwa setelah negara terselamatkan, masyarakat adil dan
sejahtera, dan perempuan pada akhirnya akan bahagia dan merdeka. Benarkah
janji itu terpenuhi? Kaum feminis belajar dari sejarah bahwa
perjuangan bentuk apa pun yang meletakkan perjuangan perempuan sebagai bukan
yang utama, akan mengalami penipuan. Segala bentuk
penipuan terhadap perempuan adalah hal yang biasa dan sering dialami. Soekarno menganggap perempuan hanyalah suatu bagian dari suatu subyek yang lebih
besar lagi, yakni revolusi, ideologi, negara, suatu rasionalitas yang semuanya
diterjemahkan dengan cara berpikir maskulin. Apakah ide-ide perempuan?
Bagaimanakah moralitas dan etika perempuan? Kehidupan moral
perempuan bukanlah da-tang dari ide-ide besar melainkan dari kehidupan
sehari-sehari yang ia jalani: kehidupan ruang domestik yang ia geluti, ruang
pribadi yang menyangkut kesejahteraan keluarganya, relasi-relasi kecil yang
mempunyai keterikatan emosional, dunia feminitas yang tampak sederhana dari luar
namun sangat kompleks dalam kehidupan perempuan. Soekarno
tidak dapat mengerti pentingnya undang-undang perkawinan bagi kelompok
perempuan, Lenin sulit memahami mengapa perempuan perlu berdiskusi segala tetek
bengek yang ia anggap buang-buang waktu saja. Feminis Annette Baier (1985) mengatakan bahwa perempuan dalam perdebatan
moralnya mempunyai kehendak yang berbeda dari laki-laki, perempuan lebih
menitikberatkan nilai-nilai etika yang berarti bagi kehidupannya. Perempuan hidup di dalam masyarakat yang nilai-nilai kefemininnya
dianggap remeh dan tidak penting, seluruh eksistensinya sebagai perempuan
disubordinasikan.

Ringkasan lain tentang Kepentingan Bangsa Vs Kepentingan Perempuan
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------