Poligami yang dilakukan Aa Gym dengan dasar-dasar teologis yang diangkatnya tampaknya selain menuai kontroversi di tengah masyarakat, juga memperlihatkan rumitnya persoalan
kaum perempuan dalam kaitannya dengan
agama (baca, terutama keberagamaan Islam).
Tidak berhenti sebatas itu, "agama kaum laki-laki" ini terus menggulirkan impian untuk membuai dan sekaligus menyudutkan perempuan.
Mereka diiming-imingi bahwa dengan sabar mereka akan mendapatkan surga. Dalam perspektif ini, tentunya kaum laki-laki tanpa sabar pun, akan meraih surga (?). Hal ini memperlihatkan senyatanya reduksi agama yang sudah
Tidak ketulungan lagi. Akar persoalan Sejatinya, agama (baca, keberagamaan) bukan satu-satunya
faktor yang menjadikan kaum perempuan selalu terpinggirkan, terutama dalam wilayah publik.
Hampir semua faktor tersebut mengungkung mereka sehingga nyaris terhalang sama sekali untuk mendapatkan hak-hak yang semestinya. Secara global, menurut Moghissi, aktivis perempuan Iran (dalam Feminism and Islamic Fundamentalism, 2005), agama dalam bentuk fundamentalisme Muslim merupakan salah satu faktor utama yang menjadikan
gerakan perempuan Muslim mengalami hambatan serius dalam mengaktualisasikan aspirasi dan suara mereka.
Fundamentalisme Islam bukan satu-satunya ancaman terhadap gerakan perempuan Muslim. Hubungan keperempuanan dan Islam itu sendiri masih menyiratkan berbagai persoalan yang langsung atau tidak langsung mengancam eksistensi mereka. Kelompok gerakan perempuan yang meletakkan Islam sebagai atribut mereka tidak selamanya menyadari atau memiliki penghargaan yang memadai tentang "arti Islam" yang mereka sandang. Sebagian mereka ada yang meletakkan Islam sebatas sebagai politisasi simbol agama bagi gerakan mereka. Bagi mereka, peletakan gerakan kaum perempuan dalam kerangka Islam merupakan satu-satunya ungkapan kultural dan strategi efektif bagi gerakan perempuan di dunia Muslim.
Islam sekadar dijadikan tempat berlindung ketika tidak ditemukan tempat pelarian lain yang lebih aman, atau ketika kondisi memaksa mereka untuk masuk dalam lingkaran "Islam". Gerakan perempuan Islam lalu menampakkan diri sebagai representasi dari ketidakberdayaan, atau bahkan keputusasaan dengan agenda yang juga tidak jelas.
Faktor ini senyatanya adalah faktor utama yang kemudian ditutup-tutupi dengan faktor lain, sampai-sampai agama dikorbankan dan dijadikan alat untuk hal yang terakhir ini. Melihat fenomena yang berkembang, perjuangan melawan bias jender, atau konkretnya penegakan keadilan substantif, terutama bagi kaum perempuan, merupakan gerakan yang nyaris seutuhnya merepresentasikan kerumitan. Gerakan ini berjalan di antara dinding tebal dan jalan berliku, bahkan kadang-kadang harus melintasi fatamorgana yang memesona, tetapi sekaligus mematikan.
Ringkasan lain tentang Jalan Panjang Menuju Keadilan