Dulu, bahkan ada saja pejabat di kantor Marti yang suka mempersoalkan kehadiran
jurnalis perempuan, meskipun sudah lolos dari testing yang begitu ketat, hanya
karena
perempuan harus cuti hamil. "Banyak hal yang harus diperjuangkan
untuk mendapatkan keadilan di tempat kerja," ujar Marti. "Tetapi, ini bukan
berarti saya
feminis lho…." Keengganan Marti pada istilah "feminis" bukan hal
yang mengejutkan. Banyak perempuan aktivis di Indonesia yang
bekerja untuk hak-hak reproduksi dan
hak ekonomi perempuan, juga untuk kuota di
bidang politik formal dan berbagai bidang yang menyangkut kesetaraan dan
keadilan gender, pun menolak disebut feminis.Sebelum menyusul pernyataannya yang lebih keras, ia berkata, ’Tetapi… saya bukan
seorang feminis…."’
Feminisme ditakuti karena gambaran negatif yang selama ini
terus dibesar-besarkan, seperti antikeluarga, ingin mengalahkan laki-laki,
lesbianisme, sampai pembakaran bra, meski yang terakhir ini disalahartikan oleh
pers yang menangkap tindakan itu
sebagai radikalisme perempuan, bukan sebagai
sesuatu yang simbolik.Mengutip Kamla dan Nighat, Budhy menegaskan, kesadaran akan penindasan dan
pemerasan terhadap kaum perempuan di
dalam masyarakat, di tempat kerja, dan di
dalam keluarga, serta tindakan sadar yang dilakukan oleh perempuan maupun
laki-laki untuk mengubah kondisi tersebut disebut sebagai "kesadaran
feminis". DALAM diskusi yang diselenggarakan Puan Amal
Hayati mengenai feminisme Islam dan relevansinya dalam gerakan perempuan, pekan
lalu di Jakarta, Budhy Munawar Rahman-yang menjadi pembicara bersama Dr Ahyar
Yusuf dari Universitas Indonesia-menjelaskan, kesadaran terjadinya penindasan
terhadap perempuan inilah yang membuat tema "patriarkhi" menjadi salah satu
persoalan terbesar yang digugat feminisme Islam. Menurut
Budhy, patriarkhi dari sudut pandang feminisme Islam dianggap sebagai asal-usul
dari seluruh kecenderungan misoginis (kebencian terhadap perempuan), yang
mendasari penulisan-penulisan teks keagamaan yang bias kepentingan
laki-laki."Di sinilah banyak feminis perempuan di dunia Islam saat ini, seperti Riffat
Hassan, Fatima Mernissi, Nawal el Saadawi serta Siti Ruhaini, Nurul Agustina,
Wardah Hafidz, dan Lies Marcoes Natsir dalam lingkup Indonesia berusaha
membongkar berbagai pengetahuan normatif yang bias kepentingan laki-laki, tetapi
selalu dijadikan orientasi kehidupan beragama," papar Budhy."Eksploitasi seksual yang menjadikan perempuan sebagai obyek misalnya, merupakan
kecenderungan misogini dan patriarkhi yang masih menguasai penafsiran teks-teks
keagamaan serta kombinasi penindasan jender dan kelas dari imperialisme
kontemporer, seperti pembangunanisme," tegas Budhy. Ini
masih ditambah dengan masalah-masalah yang aktual dewasa ini, khususnya yang
berkaitan dengan kekerasan terhadap perempuan, pelecehan seksual, diskriminasi
upah, munculnya kesadaran akan hak-hak reproduksi yang dimiliki perempuan
sendiri, sampai pada ideologi "peran ganda" yang sebenarnya membuat perempuan
disubordinasi dalam dunia domestik.Tidak heran kalau gagasan-gagasan yang menunjukkan pembagian kerja "yang sudah
seharusnya itu" dengan mudah diapresiasi banyak kalangan
tradisional. "Gagasan-gagasan feminisme yang hendak
mendekonstruksi legitimasi ideologis yang memaksakan kategori female modesty,
ditolak karena hal itu dinilai membahayakan berbagai kepentingan sosial
(patriarkhi) yang jelas-jelas menguntungkan laki-laki.
Ringkasan lain tentang Membicarakan Feminisme