Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Satu Cermin Balik Dunia Fotografi Kita

.

Satu Cermin Balik Dunia Fotografi Kita

Summary rating: 5 stars 1 Tinjauan
Pengarang : Firman Ichsan
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan: 226
kata: 900
Diterbitkan di: Oktober 20, 2007
BOLEH jadi pengakuan pada fotografi sebagai seni di Asia (Tenggara), sampai pada puncaknya ketika ASEAN Art Awards 2002 memutuskan karya pemuda Singapura itu sebagai pemenang utama. Dari bentuk seni rupa yang dikenal dengan istilah "the 7 arts" (tari, musik, teater, lukis, patung, literatur, dan arsitektur), di zaman republik budak dulu, fotografi baru lahir ratusan tahun kemudian di zaman industri yang kapitalistik di awal abad ke-19.
Di situ ada karya-karya dari nama besar seperti Cartier Bresson dan Robert Cappa, yang sangat berhubungan dengan publisitas karya mereka di majalah-majalah bergambar yang marak sejak tahun 30''an. Peran teori sebagai basis karya Perdebatan posisi fotografi dalam dunia seni bukan saja terjadi antara mereka yang berada di dalam fotografi dan mereka yang di luar. Justru dalam dunia fotografi sendiri, perdebatan sangatlah intens. Antara mereka yang berpandangan realis (bukan dalam arti realisme sosialis), menerima fotografi sebagai suatu karya yang menghadirkan realitas.
Misalnya juru foto Amerika, Stiglietz (1864-1946, suami pelukis Georgia O''Keeffe) menentang bentuk fotografi yang seolah hanya meniru para pelukis naturalis, sebagaimana dipraktikkan para elitis salon fotografi di Inggris abad ke-191. Di tangan Dorothea Lange (1895-1965) dan Walker Evans (1903-1975), pictorialist berkembang menjadi straight photography, yang beranggapan juru foto mampu merekam obyek secara estetis, netral, tidak berpihak dan menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan. Lain pula para perupa Bauhaus seperti Mahology Nagy (1895-1946) atau Man Ray (1890-1976) yang melihat keunggulan fotografi sebagai media ekspresi karena kemampuan teknisnya yang modern seperti montage, double printing, solarisasi, dan bentuk kerja hasil khas fotografi lainnya.
Fotografi, reproduksi dan pasar Fotografi, sebagai mana kerja seni lain yang dapat direproduksi secara mekanis (grafis, cukil kayu, linografi, etsa, litografi), tidaklah memiliki nilai ketunggalan sebagai satu-satunya yang asli. Karenanya, untuk perlindungan bagi pemilik (pembeli) untuk soal otentisitas dan limitasi, harus ada batas cetak yang disepakati bersama oleh pencipta, penjual, dan pembeli yang diikat secara etis. Sekali dia mendapat pengakuan, karya yang dapat direproduksi ini menjadi investasi yang tak ternilai. Pakar seni Edward Lucie-Smith sampai menyatakan bahwa di zaman kapitalisme maju ini, tidak ada investasi yang begitu lucrative dan spekulatif seperti bursa saham selain pasar seni (jadi istilah bursa seni kita bukanlah suatu kebetulan belaka!) Kemampuan reproduksi yang semula dianggap hambatan otentisitas dalam investasi bagi pembeli, telah diubah menjadi satu kekuatan.
Sementara sekolah pendidikan seni rupa tingkat akademi dan lanjut telah menghasilkan banyak lulusan, apresiasi pada seni fotografi dilakukan di klub-klub khusus fotografi, dengan prakarsa salon fotografi Indonesia. Klub tentu saja eksklusif, dan dengan kecenderungan estetis teknis yang tinggi, khas tableau fotografi, telah menjauhkannya dengan dunia seni murni, bahkan dengan foto jurnalistik.
Kita menjadi terkesima melihat penguasaan perupa secara psikologis tentang teknologi dan menjadi sadar bahwa bentuk manifestasi seni seperti ini akan lebih mudah dimengerti apabila kita berada dalam tingkat pikir yang sama dengan perupanya. Sebab, mengutip Pierre Bourdieu8: karya seni hanya berarti dan menjadi menarik bagi seorang yang memiliki kompetensi budaya, untuk membaca, mendekode isyarat yang ada pada karya.
Hanya pada pertemuannya dengan audiens yang lebih luas, ia akan memasuki wilayah dengan konsensus yang berbeda, misalnya dunia penerbitan dan periklanan. Di sini akan ada kekuatan saling mempengaruhi yang biasanya akan dimenangkan pihak yang lebih besar wilayah hegemoninya. Tentu saja tidak berarti bahwa tidak ada kemungkinan seorang (individu) mencipta karya fotografi yang "real" atau karya berbasis "new media", tetapi ini lebih dimungkinkan bila ia berkomunikasi berinteraksi dengan dunia sentrum (dengan tatanannya). Ia juga lebih mudah dicerna dan diapresiasi oleh mereka yang berada dalam tatanan hubungan produksi yang cenderung maju, sehingga karya karya dalam bentuk ini akan sering kali terkesan elitis walau bukan demikian maksud sesungguhnya.
Dan menyikapi mozaik fotografi internasional maupun nasional ini, sejujurnya masih jauh lagi kita harus berjalan dengan segala rintangan dan godaannya (Bayangkan manipulasi gambar berita menggunakan kamera digital oleh media yang tidak memiliki etika). Satu etika yang harus ada dan hanya akan terbentuk bila ada tatanan produksi dan sosial nyata-nyata mendukung dan sekaligus dapat mengoreksi hadirnya bentuk seni rupa fotografi ini. Kita harus sadar dan siap bahwa sebelum fotografi dan "keunggulan" reproduksi-serta manipulasi digitalnya-ini dimengerti, diminati lalu beredar di pasar, harus ada etika dan "fatsoen".
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Please sign in to add your comment Total comments in this abstract : 1

Komentar

Showing 1 out of 1   Please sign in to add your comment
  1. aku butuh bantuanmu sahabat

    nanat

    12 April 2008

    saya disini tidak mengomentari... but, saya butuh bantuan sahaba2 tuk membantu saya, saya saat ini sedang menilis skripsi tentang foto. tapi bahan yg saya miliki sangat terbats....mohon bantus saya... trim, be 4

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------

Recent Shvoongers

  • amibroker
  • AsepSuryana
  • herro
  • jurnalis
  • DenKun
  • Kharis
  • nilna
  • AryaGuna
  • airakheisa
  • Rakyat
  • kusuma
  • tomaz
  • insansains
  • deleon
  • PermataPratiwi
  • KireinaLie

.