CARA pemberitaan dalam media massa dalam berbagai isu
menyangkut
perempuan dan korban mulai dipertanyakan berbagai
kelompok
kritis dalam masyarakat. ''''Sebuah surat kabar besar berlingkup nasional saja masih sering terpeleset menuliskan berita perkosaan,"
ujar sosiolog Dr Tamrin Amal Tamagola dalam suatu acara yang diadakan
Kantor Menteri Negara Pemberdayaan
Perempuan di Jakarta, pekan lalu.Media massa, tanpa disadari, telah melakukan perkosaan
ulang atau yang lazim disebut second rape terhadap perempuan korban
perkosaan.
Di pihak lain, pers juga seperti mengeksploitasi tubuh perempuan seperti barang dagangan. "Kita disodori perempuan berpakaian minim dengan gaya yang sensual dalam iklan-iklan barang mahal, seperti mobil. Tidak jelas hubungan antara mobil dengan gaya perempuan dalam iklan itu," sambung seorang perempuan wartawan dari sebuah koran terkemuka di Yogyakarta.Pemberitaan mengenai isu perempuan masih dipinggirkan,
bahkan secara stereotip, pelatihan gender dalam media hanya dilihat
sebagai kepentingan perempuan, seperti halnya isu-isu menyangkut
kesejahteraan sosial.
Sayangnya gambaran mengenai perempuan dalam media
massa masih menegaskan lima citra perempuan seperti yang diungkap dalam
penelitian Dr Tamrin Amal Tamagola.
Citra "pigura" mendiskripsikan bahwa perempuan perlu merawat dan
menjaga tubuhnya secara sungguh-sungguh dengan cara diet dan latihan
fisik-kebugaran. Kegemukan, jerawat, dan ketombe, menjadi tiga musuh utama perempuan. Perempuan harus mampu membina keharmonisan keluarga dan mempertahankannya dari berbagai gangguan. Kalau rumah tangga berantakan, yang disalahkan adalah istri dan ibu yang dianggap gagal menjadi pilar rumah tangga. Untuk perempuan bekerja, tuntutan budaya ini merupakan suatu tuntutan yang hanya bisa dipenuhi oleh seorang super-woman.
Citra "peraduan", menyajikan perempuan semata-mata sebagai alat pemuas nafsu laki-laki di peraduan.
Dalam citra yang bentuk ekstremnya adalah pornografi, menekankan
perempuan tidak boleh jauh-jauh dari jangkauan laki-laki karena ia
sewaktu-waktu dibutuhkan secara seksual. Dalam berbagai ceramahnya mengenai feminisme, Dr
Melani Budianta dari Universitas Indonesia menjelaskan, istilah
"feminis" dan "feminisme" yang beredar di media massa Indonesia
seringkali menyiratkan konotasi negatif: feminis adalah sosok perempuan
"agresif" yang ingin "sama" atau "menyaingi" laki-laki. Feminisme sering dikonotasikan sebagai "merongrong keluarga, anti-agama" dan yang sangat jelas "melanggar kodrat perempuan" .Ini tampak dari semakin ditekan-tekannya nilai-nilai
gender lama dalam berita dan iklan di media massa, ketimbang melakukan
peluruhan.
Salah satu jenis stereotip yang masih terus disosialisasikan, seperti
dipaparkan Melani, adalah gambaran perempuan model iklan yang menjadi
ajang pertarungan penjualan komoditas yang satu dengan lainnya.
Selain diletakkan sebagai obyek yang memikat ("membeli mobil sama
dengan memiliki perempuan cantik yang menjadi model iklannya")
perempuan sebagai konsumen dibiasakan menerima gambaran sosok sang
model sebagai acuan fisik maupun pola konsumsi ("menjadi perempuan
cantik sama dengan mengendarai atau memiliki mobil").
Nilai-nilai gender yang lama ini bisa dikemas kembali dalam kemasan
baru yang seakan-akan progresif, tetapi sebenarnya mengekalkan nilai
lama yakni keseluruhan nilai, norma dan asumsi sosial yang
mempertahankan penarikan garis batas antara "dunia laki-laki" dan
"dunia perempuan" atau "ruang publik" dan "-ruang domestik". Dengan jumlah perempuan wartawan yang hanya sekitar 24
persen dari seluruh wartawan yang ada (tak lebih lima persen yang
menduduki posisi sebagai pengambil keputusan) tidak mudah mengubah pola
pikir di dalam struktur keredaksian media massa.
Akan tetapi, apakah munculnya perempuan dalam jajaran pengambil
keputusan dalam industri media massa tidak bisa diandalkan untuk
memberikan
perspektif keadilan dan kesetaraan dalam pemberitaan?
Maskulinitas itu ru disimpan dengan apik oleh surat kabar yang memilih perempuan dalam posisi-posisi strategis.
Ketika memegang kekuasaan di dalam hierarki manajemen industri surat
kabar, perempuan yang terisap ke dalam dunia industrialis pada dasarnya
sudah bermetamorfosa menjadi "makhluk industrial" yang memang menjadi
"maskulin".