Tidak ada
tradisi yang dapat
bertahan dengan menutup diri terhadap pengaruh tradisi lain. Agar tetap langgeng, suatu tradisi harus menjadikan dirinya sebagai peradaban yang terus-menerus belajar (learning civilization). Hal itu dikemukakan Prof Tu Weiming, ahli sejarah China dan filsafat Konfusianisme dari Harvard University, dalam sebuah dialog di Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Sabtu (21/5). Weiming datang ke Indonesia untuk serangkaian seminar dan dialog di sejumlah perguruan tinggi atas undangan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Prof Azyumardi Azra, atas nama Komunitas Pemerhati Budaya dan Filsafat Timur.
Sedangkan Amsal Bakhtiar (UIN Syarif Hidayatullah), Nyoman Astawa (Sekolah Tinggi Agama Hindu), Abdul Mu’thi (Ma’arif Institute), Krishnanda Wijaya-Mukti (Lembaga Kajian Buddhayana), dan Mulyadi Wahyono (Sekolah Tinggi Agama Budha), sebagai penanggap.
Keterbukaan melalui dialog di tengah pluralitas, menurut Weiming hanya salah satu dari tiga tantangan yang dihadapi tradisi konfusianisme, di samping masalah lingkungan hidup dan feminisme. Gerakan lingkungan hidup dan gerakan feminisme yang berkembang dari Barat dalam 50 tahun terakhir, telah membentuk pemahaman umat
manusia mengenai pentingnya kemitraan.Menyinggung masalah lingkungan hidup sebagai salah satu tantangan global, Mulyadhi dari UIN Syarif Hidayatullah mengatakan bahwa manusia modern
menjadi semakin teralienasi dari alam.
Hal itu terjadi setelah mereka menciptakan jurang yang tak terjembatani antara keduanya, manusia sebagai subyek dan
alam sebagai obyek. "Dengan memandang alam sebagai obyek nafsu, manusia modern dengan sains dan teknologinya mendominasi alam dan mengeksploitasinya secara kasar untuk memenuhi tuntutan mereka yang terus-menerus meningkat.
Kosmosentris Ketua Umum Matakin Chandra Setiawan mengemukakan bahwa nilai-nilai kebijakan konfusian yang memberi sumbangan terhadap pembentukan etika global, mengingatkan umat manusia untuk menerima bahwa bumi adalah pusat dari alam semesta. "Bumi adalah rumah kita dan kita bertekad mengawal bumi sebaik-baiknya, menjadi pemegang amanat Tian, Tuhan yang Maha Esa, yang dapat dipercaya dengan menjaga kesehatan, kepekaan hati, kecerdasan pikiran, jiwa yang senantiasa dibersihkan, dan semangat yang gemilang," paparnya.
Dalam pandangan Weiming, pembelajaran menjadi diri sendiri dan menjadi manusia yang inklusif merupakan bagian dari proses transformasi dari antroposentris (menjadikan dirinya sebagai pusat) ke kosmosentris (menjadikan dirinya bagian dari alam semesta). Tilaar menyimpulkan bahwa budaya produktivitas yang tinggi pada masyarakat China merupakan nilai-nilai yang lahir dari pandangan dunia yang kosmosentris. Dunia, alam sekitar, merupakan tantangan yang sekaligus harus dijaga keberlanjutannya untuk kehidupan manusia. "Kosmosentrisme ini menjadikan manusia sebagai titik tolak dalam hubungan dengan sesama, dengan alam, dan dengan Tian," jelas Tilaar.
Ringkasan lain tentang Tu Weiming: Hanya Tradisi Terbuka yang Bisa Bertahan