• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Dari Zakar ke Zikir ke Aceh

.

Dari Zakar ke Zikir ke Aceh

oleh : NasrulAzwar     

Pengarang : Marshall Clark
Tulisan ini tentang kehidupan dan puisi penyair muda Indonesia yang sangat menarik, Binhad Nurrohmat.
Ditulis secara
khusus buat konferensi Jurnal Antropologi Indonesia di
UI Depok baru-baru ini, esai ini juga akan menyinggung masalah Aceh dan
bagaimana budayawan-budayawan Indonesia, termasuk Binhad sendiri,
menanggapi dan memaknai tragedi tsunami.Yang jelas, seperti kebanyakan anak muda yang tinggal
di kota-kota besar di Indonesia sekarang ini, Binhad sangat akrab
dengan alat-alat kehidupan metropolitan seperti HP, SMS, surat-e, dan
entah apa lagi. Nah, pria Indonesia sangat layak diutamakan karena
menurut pendapat saya sudah waktunya para feminis Indonesia, dan para
feminis Barat yang begitu berpengaruh, memahami bahwa kesetaraan jender
tidak akan terjadi sebelum ada pemahaman mendalam bahwa wacana
maskulinitas mau tidak mau harus ditanggapi.
Yang jelas, puisi Binhad memukul pembaca dengan visi seksualnya yang sangat menentang, sangat lugas, dan juga sangat banal.
Di dalam Kuda Ranjang imajinasi kita bisa menikmati baik-buruknya
adegan seks lengkap dengan gaya puitis erotis yang sangat mengherankan,
apalagi kalau kita ingat bahwa Binhad sendiri cukup muda.
Bisa juga dikatakan bahwa Kuda Ranjang adalah puisi pertama yang muncul
sejak Pengakuan Pariyem Linus Suryadi yang begitu berhasrat
mengungkapkan pertualangan syahwat baik para pejantan urban maupun
kanca ranjangnya.
Harus diakui juga bahwa erotisisme yang ada di dalam syair Berak,
Ngintip, dan Foreplay, misalnya, yang tidak begitu berbunga-bunga,
mungkin sekali layak dicap sebagai puisi ”vulgar”. Perekonomian yang bangkrut, birokrasi yang korup,
pergaulan sosial yang menyebalkan, dan dunia politik yang munafik
menjadi ironi yang masih rutin terjadi. Marah dan gerutu publik
meradang-radang setiap hari tanpa solusi yang berarti. Akibatnya, rasa
percaya dan apalagi kepekaan terhadap persoalan maupun derita yang
menimpa orang lain pupus. Warga bangsa ini bagai hidup dalam dirinya
masing-masing sambil menatap orang lain dengan sorot mata yang curiga
dan bahkan sebagai ancaman. Bencana alam, kemelaratan,
dan konflik antarsuku di banyak tempat yang telah rajin disaksikan atau
dikabarkan oleh media massa seolah hadir sebagai hanya pengisi kala
senggang dan amat langka mengetuk simpati dan tindakan yang nyata.api pada sebuah pagi yang cerah, perhatian bangsa ini
mendadak tersentak oleh wilayah Nanggroe Aceh Darussalam, Nias, dan
Sumatera Utara yang diguncang gempa bumi dan dilantak gelombang tsunami
yang telah merendam daratan, melembur rumah-rumah, dan membantai
ratusan ribu manusia. Seperti yang kita semua ketahui, sudah puluhan tahun
rakyat Aceh menderita gara-gara kebrutalan militer Indonesia:
pembunuhan massal, pemerkosaan, penculikan, dan perampasan tanah
berlangsung berulang kali, bertahun-tahun secara sistematis, sering
sekali tanpa hukuman atau keadilan yang memadai.
Nah, di sini saya ingin memakai kasus Binhad sebagai
semacam cermin bagaimana para intelektual Indonesia—tentu intelektual
tidak hanya berarti profesor yang botak, berjenggot, dan pakai kaca,
tetapi malah sebagai tokoh perantara di antara lapangan budaya dan
lapangan politik, mewakili dan menyuarakan bukan suara atau kepentingan
mereka sendiri, tetapi malah ide-ide dan suara orang lain—membangun
wacana trauma kultural itu, justru untuk mencari makna sekadar
menyembuhkan kain sosial yang begitu tersobek secara mendadak.
Buku itu, yang akhirnya diterbitkan dan diluncurkan
sebelum akhir Januari, memang harus dihargai dan isinya harus diteliti
secara saksama, tetapi kita juga harus ingat bahwa masih ada ratusan
puisi yang belum diterbitkan.
Juga harus diingat bahwa kebanyakan puisi ini ditulis dalam spasi
beberapa hari saja, jadi kualitas estetisnya tidak terjamin. Yang bisa
terjamin: puisi itu adalah curahan hati salah satu bagian dari tentara
intelektual Indonesia, termasuk penyair junior kayak Binhad.
”Menuangkan ’rasa duka’ mereka lewat puisi”, menurut salah satu resensi.
Bencana 11/9
Berhubungan dengan kerangka trauma kultural itu, di toko-toko buku
Barat kita baru-baru ini mulai melihat novel, cerpen, komik, dan puisi
yang jelas terinspirasi oleh bencana 11 September yang begitu
menggemparkan bangsa Amerika. Padahal, kalau kita menyaksikan War of the Worlds
(2005) oleh Steven Spielberg, sebuah film penyerangan alien yang
lumayan gelap dan muram, kita diam-diam dibikin sadar bahwa film ini
merupakan sebuah bab penting dalam proses trauma kultural yang muncul
sesudah kejadian dahsyat 11/9. Akhirnya, akibat
unsur trauma kultural ini, dampak psikologis film ini jauh lebih
bermakna dan mendalam daripada film alien yang lain.Karena itulah dasar-dasarnya realitas kehidupan di
Indonesia sekarang ini dan malah beginilah realitas manusia secara
umum, baik di kota London yang lagi dilanda bom teroris maupun di
negeri Irak yang juga mengalami penderitaan tanpa habisnya, persis
kayak di Aceh Nanggroe Darussalam.
Diterbitkan di: Oktober 20, 2007

Komentar

Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.