• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Agama, Nasionalisme, Gerakan Separatisme Aceh

.

Agama, Nasionalisme, Gerakan Separatisme Aceh

oleh : NasrulAzwar     

Pengarang : Khamami Zada
Bagaimana agama menjadi spirit kebangsaan dan sejauh mana agama mampu menjaga kesatuan dan persatuan bangsa? Mari dilihat
relasi antara agama dan kebangsaan dalam konteks negara-bangsa (nation state).
Di sisi lain, Indonesia sebagai bangsa yang memiliki keragaman etnis,
perwujudan nasionalismenya tidak sekadar politik dan etnisitas, tetapi
juga unsur agama.
Islam menjadi supra identity dan fokus kesetiaan yang mengatasi identitas dan kesetiaan etnisitas.
Dengan demikian, kedatangan dan perkembangan Islam di Indonesia tidak
hanya menyatukan aneka kelompok etnis dalam pandangan keagamaan dan
dunia yang sama, tetapi juga dalam aspek-aspek penting, bahkan menjadi
dasar nasionalisme, khususnya bahasa.
Justru Islam sebagai agama yang dipeluk mayoritas penduduk Aceh, tidak bisa mempertahankan kesetiaannya kepada bangsa Indonesia.
Meski Aceh sudah diberi kebebasan memberlakukan syariat Islam, gerakan
separatisme tetap berlangsung. Artinya, Islam sebagai agama tidak lagi
menjadi faktor pemersatu bangsa. Berbeda dengan masa
pra-kemerdekaan, keragaman etnisitas yang dimiliki bangsa Indonesia
kini tidak bisa disatukan oleh Islam sebagai agama mayoritas.
Nasionalisme baru
Dalam konteks inilah, saat terjadi gerakan separatisme di beberapa
daerah, maka yang diperlukan adalah bangunan nasionalisme baru, yang
tidak lagi menonjolkan kesetiaan/loyalitas sepenuhnya kepada bangsa,
tetapi penciptaan keadilan (sosial, ekonomi, dan politik) kepada
seluruh masyarakat.
Kesetiaan masyarakat etnik kepada suatu bangsa tanpa dibarengi upaya
menyejahterakan masyarakat berdasar kekayaan alam yang melimpah, tidak
akan berpengaruh kepada makin kuatnya loyalitas kepada bangsa.
Bukankah Rupert Emerson (Harold R Isaacs, Idols of the
Tribe: Group Identity and Political Change, 1975) pernah mengemukakan,
bangsa adalah masyarakat luas yang bila dalam keadaan krisis, secara
efektif memimpin loyalitas orang- orang, yang untuk tujuan sekarang
merupakan akhir yang efektif dari perjalanan manusia sebagai binatang
sosial dan tujuan akhir solidaritas yang berlaku di antara manusia.
Bangsa harus dilihat sebagai masyarakat yang membuat pendekatan paling
dekat untuk merangkul semua aspek kehidupan, keluarga, suku- suku, dan
kelompok keagamaan.
Karena itu, kesadaran baru terhadap nasionalisme
harus berjalan seimbang antara hak-haknya sebagai warga negara maupun
warga masyarakat yang patut mendapatkan kesejahteraan, keadilan, dan
penghargaan kemanusiaan secara hakiki.
Dalam kaitan dengan hal itu, masyarakat Aceh yang memiliki kekayaan
alam yang melimpah mesti diimbangi kesejahteraan secara sosial,
ekonomi, dan politik. Bukan malah diperangi dan dimusuhi sebagai masyarakat yang dianggap tidak loyal kepada bangsa.
Sikap memanusiakan itu tentu akan memberi kesadaran baru bagi warga
Aceh, betapa bangsa Indonesia tempat mereka bergabung itu mampu memberi
penghargaan yang lebih baik demi masa depan.
Diterbitkan di: Oktober 20, 2007

Komentar

Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.