Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Sastra Subkultur Kekurangan Pengarang

.

Sastra Subkultur Kekurangan Pengarang

Pengarang : Kompas
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan : 77  kata: 600   Diterbitkan di: Oktober 19, 2007
Daerah-daerah di Indonesia sangat kaya dengan beragam
budaya, sayangnya masih sedikit pengarang sastra subkultur atau sastra
lokal yang menuliskan kekayaan tersebut. Padahal, sastra subkultur dapat mulai dikembangkan dalam komunitas-komunitas sastra. Di dalam komunitas ini, seorang pengarang dapat mengembangkan diri sebelum menjadi mainstream.
Hal ini disampaikan dosen Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI)
Melani Budianta dalam diskusi "Mencermati Sastra Subkultur Kita" yang
diselenggarakan Yayasan Obor Indonesia, Kamis (31/5), di Jakarta.Menurut Melani, kurangnya pengarang sastra subkultur bisa disebabkan oleh pasar yang tidak responsif. Padahal, dukungan pasar terhadap sastra subkultur turut mempengaruhi perkembangannya. "Bagaimanapun, karya sastra akan berhadapan dengan masyarakat yang menjadi sasarannya. Kalau masyarakat tidak memiliki kemampuan finansial, ya, mana bisa sastra subkultur itu laku," katanya.

Menurut Melani, sebenarnya ia tidak setuju dengan penyebutan sastra subkultur.
Ia melihat, penyebutan sastra subkultur telah membuat sastra Indonesia
sebagai mainstream-nya dan menempatkan sastra lokal sebagai subkultur. Lalu, tambahnya, apakah sastra lokal tidak mungkin bisa berdiri sendiri. Kalau mungkin, maka sastra di Indonesia seharusnya disebut sastra multikultural.

Terlepas dari perdebatan ini, Melani khawatir sastra lokal Indonesia akan lebih banyak ditulis oleh orang asing. Kenyataan ini didukung fakta masih sedikitnya pengarang yang memiliki kemampuan menuliskan sastra subkultur di Indonesia.

Kesulitan

Melani melihat, perkembangan sastra subkultur di Indonesia masih dihadang banyak kesulitan.
Menurut dia, tidak semua Daerah di Indonesia memiliki pengarang yang
mampu menuliskan sastra subkulturnya sendiri, apalagi di daerah-daerah
yang selama ini terpinggirkan, seperti di daerah timur Indonesia. Kalaupun daerah itu memiliki penulis sastra subkultur dengan bahasa dan gayanya sendiri, belum tentu mereka mampu melawan pasar yang sudah memiliki mainstream penilaian karya sastra.Apalagi, unsur bahasa daerah yang dipergunakan bisa menjadi kesulitan bagi pembacanya untuk memahami sastra subkultur. Akibatnya, tidak jarang sastra subkultur yang ada hanya menggunakan setting lokal, sementara formatnya tidak lokal," katanya.

Menurut Melani, di sinilah pentingnya komunitas sastra. Meskipun diakuinya bahwa komunitas sastra ini pada awalnya terbentuk lebih karena ketidakmampuan mereka menembus mainstream. Di Indonesia, saat ini terdapat lebih dari 200 komunitas sastra dan 75 di antaranya berada di Jakarta. Menurut Melani, jumlah komunitas ini belum termasuk komunitas sastra yang terbentuk di kampus-kampus di Indonesia.

"Kalau belum baru bergerak seorang pengarang
dihadapkan pada mainstream yang begitu kuat dengan aturan yang sangat
ketat, maka bibit yang baru muncul itu pasti akan mati," katanya.

Ringkasan lain tentang Sastra Subkultur Kekurangan Pengarang
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------