490 Naskah Klasik Minangkabau Tersimpan di Leiden
Summary rating: 4 stars
4 Tinjauan
Kunjungan:
223
kata:
300
Diterbitkan di: Oktober 19, 2007
Sebanyak 490 naskah klasik Minangkabau, atau Sumatera
Barat tempo dulu, kini masih tersimpan di Universiteit Bibliothek
Leiden, Belanda. Naskah tersebut tidak bisa
dibawa ke Sumatera Barat karena belum ada museum yang representatif,
yang bisa menyelamatkan naskah-naskah yang sudah melapuk itu.
Namun demikian, di Ranah Minangkabau sendiri masih terdapat banyak
naskah lainnya yang disimpan oleh perorangan atau kaum sebagai pusaka
tinggi. Sayangnya, naskah klasik yang umumnya berupa tambo dan kaba itu sulit diminta untuk disimpan di museum.Dikemukakan, daerah yang memiliki naskah klasik
Minangkabau yang patut dikaji antara lain di Pariaman (naskah Nazam,
Nabi Bercukur), Sawahlunto (tambo Silsilah Raja-raja), Padang Panjang
(dengan Pariangannya), dan Pesisir Selatan. Pusat penulisan naskah klasik Minang pada masa lampau adalah di surau, karena di suraulah berlangsungnya proses belajar.
Untuk itu, perlu dikaji nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, seperti nilai kultural dan religi masyarakatnya," tambah Adriyetti Amir.
Simposium internasional ke-5 yang digelar di Padang itu, demikian
Adriyetti yang juga ketua panitia pelaksana, diarahkan pada pengkajian
naskah yang lebih mendalam, serta mencari upaya untuk mengapungkan
pemikiran dan kearifan yang dikandung oleh suatu naskah. Karena naskah merupakan saksi kecendekiaan dan kearifan masyarakat pemiliknya.
Akibatnya, nilai-nilai kultural dan religi yang dikandung sebuah naskah tidak terungkapkan secara semestinya.
Oleh karena itu, simposium yang digelar di Universitas Andalas, Padang,
itu akan mengangkat tema penelitian naskah Nusantara dari sudut pandang
kebudayaan Nusantara. Simposium diharapkan nantinya dapat menghasilkan suatu teori dan metode penelitian naskah, khususnya naskah Nusantara.
Beberapa ahli yang akan tampil sebagai narasumber, yaitu Dr Roger Tol
dan Suryadi (Universitas Leiden), Prof Dr Edy Sedyawati dan Prof
Sapardi Djoko Damono (Universitas Indonesia, Jakarta), Dr Noriah
Mohamet (Malaysia), Prof Dr Awang bin Ahmad dan Dr Ampuan Haji Brahim
bin Ampuan Haji Tengah (Brunei Darussalam), serta Adriyetti Amir dan M
Yusuf (Universitas Andalas, Padang).