Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Penerbit Tua, Bertahan karena Idealisme

.

Penerbit Tua, Bertahan karena Idealisme

Pengarang : Kompas
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan: 184
kata: 600
Diterbitkan di: Oktober 19, 2007
Merunut perjalanan waktu, bisa jadi hingga kini sudah
ribuan penerbit pernah ada di Indonesia yang ikut mewarnai dunia
perbukuan sejak zaman kolonial Belanda. Namun, dari ribuan penerbit itu hanya segelintir penerbit saja yang bisa bertahan dalam jangka waktu lama, lebih dari 50 tahun. Ada satu resep yang bisa dijadikan pegangan oleh penerbit di negeri ini
agar bisa tetap bertahan hingga beberapa dekade, yakni tetap memegang
teguh idealisme dan tetap setia terhadap komitmen awal yang menjadi
dasar mereka terjun ke bisnis penerbitan.
Kesetiaan terhadap idealisme ini memang terbukti menjadi obat yang
cukup ampuh sehingga penerbit-penerbit semacam Balai Pustaka, Kanisius,
Dian Rakyat, Pradnya Paramita, maupun penerbit Madju bisa bertahan
hingga lebih dari setengah abad untuk tetap eksis di dunia penerbitan. "Semua yang kita lakukan harus didasari mimpi dan idealisme.Di usianya yang ke-81, Penerbit-Percetakan Kanisius
masih tetap bisa bertahan di tengah persaingan bisnis penerbitan yang
semakin ketat, seiring dengan tumbuhnya penerbit-penerbit baru
belakangan ini yang dikenal sangat agresif.

u rohani tersebut sesuai visi dan misi Penerbit-Percetakan Kanisius dan sejarah perusahaan ini didirikan.
Idealisme Kanisius dirumuskan dalam visi dan misi yang antara lain
memuat gagasan bahwa Penerbit-Percetakan Kanisius memosisikan diri
sebagai bagian tak terpisahkan dari bangsa dan gereja Indonesia. Buku-buku yang diterbitkan harus yang bernuansa membangun dan memberdayakan masyarakat.

Salah satu di antaranya Penerbit Madju yang berlokasi di Kota Medan, Sumatera Utara.
Penerbit yang didirikan oleh HM Arbie pada pertengahan tahun 1949 ini
hingga kini masih setia menerbitkan buku-buku pelajaran sekolah.Langkah ini boleh dikatakan merupakan terobosan baru yang belum pernah dilakukan penerbitan lain saat itu.
Berawal dari sebuah toko buku kecil bernama Pustaka Madju di Jalan
Sutomo, Medan, Penerbitan Madju berkembang menjadi perusahaan
penerbitan sekaligus percetakan buku-buku pelajaran yang sangat laris.
Hasil yang diperoleh dari kesuksesan Penerbitan Madju dari menerbitkan
buku-buku pelajaran terutama buku-buku pelajaran tingkat sekolah dasar
bahkan mampu melahirkan unit-unit usaha lainnya, seperti dua buah hotel
dan sebuah rumah sakit di Kota Medan yang bernaung di dalam Grup Madju. "Itu berawal dari keprihatinan mereka atas situasi
perbukuan era tahun 60-an, ketika Penerbit Balai Pustaka yang sejak
zaman Belanda bertugas menerbitkan buku-buku sastra sedang dalam
keadaan mundur atau vacuum," jelas Ahmad Rivai yang saat ini menjadi penanggung jawab Penerbitan Pustaka Jaya. Situasi demikian membuat para tokoh sastra bersepakat mendirikan satu penerbit yang khusus menerbitkan buku-buku sastra. Itulah awalnya pendirian Pustaka Jaya dengan misi yang sudah jelas, berkonsentrasi 100 persen untuk buku-buku sastra.Berbagai fasilitas dan subsidi yang dikucurkan oleh
pemerintah kepada Balai Pustaka maupun Pradnya Paramita membuat
penerbit-penerbit itu masih bisa tetap hidup.
Balai Pustaka, misalnya, salah satu bentuk bantuan pemerintah yang
diterima berupa hak pencetakan buku-buku (over print) dari Pusat
Perbukuan yang dipakai untuk sekolah-sekolah di seluruh Indonesia
berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 44 Tahun
1994.
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------

Recent Shvoongers

  • amibroker
  • AsepSuryana
  • herro
  • jurnalis
  • DenKun
  • Kharis
  • nilna
  • AryaGuna
  • airakheisa
  • Rakyat
  • kusuma
  • tomaz
  • insansains
  • deleon
  • PermataPratiwi
  • KireinaLie

.