Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Sebuah Budaya Tradisi Merantau

.

Sebuah Budaya Tradisi Merantau

Summary rating: 2 stars 1 Tinjauan
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan : 188  kata: 600   Diterbitkan di: Oktober 19, 2007
Membaca kumpulan cerpen Perantau karya Gus tf Sakai
(2007), mengingatkan kembali akan disertasi Mochtar Naim (1979) yang
monumental. Jika orang ingin membaca tentang
merantau, maka ada tiga buku yang agaknya wajib dibaca, yaitu pertama
buku Mochtar Naim, kedua buku Tsuyoshi K (1989), dan yang ketiga adalah
karya Gus tf Sakai. Tentu tidak sembarangan karena satu kata, kalimat,
pada cerita dalam karya sastra akan dipertanyakan, akan punya arti,
maksud, posisi, kekuasaan, sejarah, fakta dan fiksi, ideologi,
kekuatan, daya sentuh nurani, dan keindahan. Ada sesuatu di
balik itu. Sesuatu itu menunjukkan bahwa ia datang dari budaya ibu,
matrilineal. Kata seperti itu tidak akan sanggup diucapkan oleh seorang
ibu bertradisi patrilineal. Karena, siapakah yang mau berpisah dengan anaknya. Apalagi anak yang sibiran tulang. Tradisi matrilineal menghadirkan cinta kasih sayang yang berbeda dengan patrilineal. ebagaimana kata Naim (1979;12,13) bahwa: "Melembaganya
tradisi merantau dalam sistem sosial Minangkabau adalah efek dari
sistem sosial yang tidak memberi "tempat" kaum laki-laki, dengan posisi
yang lemah, baik di rumah ibunya maupun di rumah istrinya. Harta tidak diwariskan kepada laki-laki. Di rumah ibunya laki-laki tidak mempunyai kamar, sedangkan di rumah istri ia hanya boleh datang di malam hari.
Dengan posisi yang tidak mapan, sistem sosial budaya memberi legitimasi
bahwa yang "di rumah itu" (yang di kampung) hanyalah kaum perempuan,
bahwa laki-laki baru menjadi laki-laki dengan "merantau". Hal itu sebagai suatu inisiasi menuju kedewasaan laki-laki, kewajiban sosial yang dipikulnya sebagai laki-laki; mencari harta, ilmu, dan pengalaman.Karena, bertentangan dengan dorongan hasrat untuk berkuasa, memiliki, menetap, dan tidak mau berpisah. Kalau dia kalah dalam konflik itu, maka ia tidak akan jadi dewasa.
Inti dari merantau adalah kemampuan untuk memisahkan diri dari sesuatu
yang disayangi untuk mematangkan diri, untuk jadi manusia (jadi orang),
untuk menemukan jati dirinya.Kondisi sebagai perantau membuat orang harus bekerja
keras, mencintai pekerjaan, mempunyai perencanaan hidup, menghargai
waktu, berani menanggung risiko, jujur dan punya rasa tanggung jawab
tinggi, menabung dan investasi, menghormati hukum, hormat pada hak
orang dan santun. Kesepuluh itu adalah perilaku budaya cerdas yang mampu dihadirkan oleh budaya merantau (Fadlillah, 2006:46-47).

Menariknya adalah ketika pulangnya seorang perantau
(mungkin Malin Kundang "yang lain", the other), yang jadi patung sosok
perempuan (Sabai), juga interteks dengan cerita pendek AA Navis
(Fanany, ed.,2005:273) Malin Kundang Ibunya Durhaka.
Akhir cerpen terbuka untuk makna yang filosofis bahwa seseorang tidak
akan pernah dewasa kalau tidak merantau dengan sesungguhnya
(sebagaimana Mak Itam). Adapun kedewasaan, sesungguhnya juga merupakan persoalan psikologis. Bukankah banyak orang yang dewasa fisiknya, tetapi perangainya seperti kekanak-kanakan.

Tetapi, akan lebih tragis ketika banyak orang merantau, tetapi tidak jadi perantau.
Keledai juga dibawa orang ke Mekah, namun pulang tetaplah keledai,
sebagaimana beras yang ditanak namun jika yang ditanak itu adalah
pasir, maka tetaplah ia jadi pasir, tidak akan pernah jadi nasi.

Ringkasan lain tentang Sebuah Budaya Tradisi Merantau
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------