Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Kritik Sastra dalam Perspektif Feminis

.

Kritik Sastra dalam Perspektif Feminis

Summary rating: 2 stars 11 Tinjauan
Pengarang : Kompas
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan : 519  kata: 600   Diterbitkan di: Oktober 19, 2007
Kritik karya sastra dengan perspektif feminisme boleh dibilang relatif baru.
Paling tidak, sampai saat ini belum banyak kritikus sastra dan
mahasiswa sastra yang menggunakan perspektif feminisme dalam melakukan
Kritik terhadap karya sastra.
Demikian antara lain pemikiran yang muncul dalam diskusi dan peluncuran
buku Kritik Sastra feminis karya Prof Dr Soenarjati Djajanegara yang
diselenggarakan Pusat Pengembangan Seni dan Budaya Fakultas Sastra
Universitas Indonesia di Depok, Senin (10/4)."Banyak yang bilang bahwa apa yang ada dalam karya
sastra itu hanyalah khayalan belaka, padahal sebenarnya pemahaman
tentang perempuan dalam suatu masyarakat dapat dilihat dari karya
sastranya. Anggapan itu muncul dari stereotip bahwa perempuan pasti akan membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan persoalan domestik.
Bahkan, kalau ada karya yang baik dan bisa menggugah pembaca perempuan,
dikhawatirkan akan membahayakan kedudukan dan kredibilitas pengarang
laki-laki.

"Padahal, belum tentu penulis perempuan akan
menghasilkan karya sastra yang membela perempuan, begitu juga
sebaliknya, tidak semua penulis laki-laki pasti tidak berpihak pada
perempuan," katanya.

Paling tidak ada empat landasan yang bisa digunakan dalam kritik sastra dengan perspektif feminisme. Pertama, kelompok feminis yang berusaha menjadi kritikus sastra dengan melihat ideologinya. Mereka ini umumnya akan menyoroti persoalan stereotip perempuan.
Kedua, genokritik yang mencari ja-waban apakah penulis perempuan itu
merupakan kelompok khusus sehingga tulisannya bisa dibedakan dengan
penulis laki-laki. Ketiga, kelompok feminis yang menggunakan konsep sosialis dan marxis.
Logikanya, bahwa perempuan itu faktanya tertindas karena tidak memiliki
alat-alat produksi yang bisa digunakan untuk bisa menghasil-kan uang. Masih menurut Maria, buku Soenarjati memberikan
pegangan pada mahasiswa sastra atau orang-orang yang tertarik pada
kritik sastra dalam melakukan kritik sastra dengan perspektif feminisme.
"Meskipun sebenar-nya perlu dilengkapi dengan penjelasan apakah
landasan dalam perspektif feminisme yang dimuat dalam buku itu bisa
diterapkan di Indonesia atau tidak," katanya.

Bagi Soenarjati, kritik sastra feminis itu tidak memisahkan sikap pengarangnya atau subs-tansi dari karya sastra. Menurutnya, baik substansi maupun pengarang merupakan satu kesatuan yang bisa dikritisi oleh para kritikus sastra feminis.

Ringkasan lain tentang Kritik Sastra dalam Perspektif Feminis
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------