Umurnya di sekitar angka yang sama
dengan kebanyakan
sastrawan Angkatan 45, tetapi latar belakang pendidikan (di mana ia
tidak termasuk yang bersekolah pada sekolah menengah Belanda) dan latar
belakang budaya Jawa-nya yang begitu kuat, membuatnya berbeda dengan
anggota lain kelompok tersebut.Karyanya yang terbesar—empat mahakarya yang merupakan
tetralogi berjudul Karya Buru (meliputi Bumi Manusia, Anak Semua
Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca)—ditulis dengan latar belakang
tamasya
sejarah pergerakan nasional Indonesia 1898-1918. kar
realisme Realisme sosialis lahir
sebagai penerus
tradisi seni kritis, yang terutama merupakan bentuk baru
dari tradisi
realisme yang berkembang di Eropa.
Realisme (klasik),
dalam catatan Georg Lukács, muncul dalam atmosfer
"membuyarnya awan mistisisme, yang pernah mengelilingi fenomena sastra
dengan warna dan kehangatan puitik serta menciptakan suatu atmosfer
yang akrab dan ’menarik’ di sekitarnya".
"Prinsip-prinsip yang ia (Tolstoy) ikuti dalam
realismenya secara obyektif menampilkan suatu kesinambungan tradisi
realis terbesar, tapi secara subyektif prinsip-prinsip ini ditimbulkan
dari masalah-masalah pada masanya serta dari sikapnya terhadap masalah
terbesar zamannya, yakni hubungan penindas dan tertindas di pedesaan
Rusia".
Hakikat dari realisme sosialis ini bisa dikatakan
menempatkan seni sebagai wahana "penyadaran" bagi masyarakat untuk
menimbulkan kesadaran akan keberadaan dirinya sebagai
Manusia yang
terasing (teralienasi, dalam istilah marxis) dan mampu menyadari
dirinya sebagai manusia yang memiliki kebebasan.
Nyoto sendiri dalam pidato sambutan pendirian Lekra
yang berjudul Revolusi adalah Api Kembang menyatakan bahwa hanya ada
dua pertentangan antara dua asas besar, yakni kebudayaan rakyat dan
kebudayaan bukan rakyat, dan tak ada jalan ketiga. Dan baginya, tak mungkin kebudayaan rakyat bisa berkibar tanpa merobek kebudayaan bukan rakyat.
Jauh sebelumnya, S Soedjojono, yang sering kali dianggap sebagai "Bapak
Seni Rupa Modern Indonesia" (ia pun kelak dikenal sebagai aktivis
Lekra) mengatakan, "Maka itu para pelukis baru akan tidak lagi hanya
melukis gubuk yang damai, gunung-gunung membiru, hal-hal yang romantis
atau indah dan manis-manis, tetapi juga akan melukis pabrik gula dan
petani yang kurus kerempeng, mobil mereka yang kaya-kaya dan celana
pemuda miskin; sandal-sandal, pantalon dan jaket orang di jalanan."
Kelenturan gaya realisme sosialis Lekra bisa dilihat
dari tradisi seni rupa mereka, yang menurut Brita L Miklouho-Maklai
dalam Menguak Luka Masyarakat: Beberapa Aspek Seni Rupa Kontemporer
Indonesia Sejak 1966, berpangkal pada telah adanya berbagai gaya, mulai
dari gaya realisme (foto) Soedjojono, bentuk ekspresionis Affandi dan
Hendra, ataupun gaya surealistik HarijadiInilah yang kemudian membentuknya untuk yakin betapa
pentingnya sejarah bagi perkembangan manusia, di mana seni yang
terlibat di dalamnya juga tidak bisa lepas dari peran penting sejarah.
Novel sejarah Dengan begitu, dalam karya-karya Pramoedya, tradisi
realisme tak hanya hadir begitu saja sebagai representasi kenyataan
manusia dan masyarakat seutuhnya, atau dalam bentuknya yang
semibiografis sebagaimana yang diterapkan oleh Gorky, tetapi juga
menjelma dalam genrenya yang baru: novel sejarah.Juga tokoh Den Hardo dalam roman Perburuan yang,
meskipun berhasil melihat kemerdekaan Indonesia yang diidam-idamkannya,
harus ditebus dengan sangat mahal oleh kematian kekasihnya di depan
mata. Pramoedya sering kali memang tidak menempatkan karya
sastranya dalam semboyan atau teriakan tentang cita-cita yang muluk.
Yang terpenting bagi dirinya adalah bangkitnya kesadaran pembaca
(masyarakat) akan tanggung jawab sebagai manusia untuk keadilan dan
kebenaran.
Ringkasan lain tentang Realisme Pramoedya Ananta Toer