Buku-buku Andrea Hirata menarik karena beberapa hal.
Pertama, ia menceritakan kehidupan suatu daerah yang hampir tak pernah
masuk
dalam pengetahuan sastra Indonesia, yakni Pulau Belitong.Karya Andrea
ini memberikan informasi tangan pertama tentang kehidupan masyarakat Belitong yang "menderita" itu.
Kedua, Andrea mengangkat suatu tema yang menarik tentang bagaimana
seorang anak yang dilahirkan dan hidup dalam serba kemiskinan
itu akhirnya mencapai status terpandang dengan melanjutkan studinya di
Eropa. Makna buku-buku ini adalah kesegaran informasi sosial dan budaya dari suatu daerah di Indonesia yang selama ini terabaikan.
Dengan karya ini, Andrea mengenalkan salah satu bagian Indonesia yang
hanya dikenal
sebagai penghasil timah, tetapi orang tidak pernah tahu
arti tambang timah itu bagi penduduk pulau tersebut. Pulau Bangka, tetangganya, lebih dikenal secara
nasional lewat karya sastra, di samping kisah-kisah biografis para
tokoh yang dilahirkan di pulau tersebut, misalnya Aidit.
Data-data otentik dalam buku-buku Andrea amat berharga karena dialah
saksi mata, orang yang mengalami semua yang diceritakannya.
Persoalannya justru di sini, yaitu apakah semua itu
fakta atau fiksi, atau fakta diramu dalam fiksi? Penerbitnya dan juga para pengulasnya menyebut karya-karyanya sebagai "novel" yang jelas genre fiksi dalam sastra. Dalam novel, apa yang dikisahkan pengarang tidak harus diartikan "telah terjadi secara historis".
Semua cerita novel hanya sarana untuk mengungkapkan makna pikiran dan
perasaan dalam acuan impian, harapan, dan tata nilai subyektifnya.
Akan tetapi, selama pembacaan, saya menilai bahwa buku-buku ini
dimaksudkan sebagai otobiografi atau sekurang-kurangnya
Buku memoir
dari sebagian episode hidupnya. Buku ini mengandung fakta-fakta yang
dialami penulisnya.
Fakta-fakta itu penuh dengan keajaiban, bagaimana anak-anak miskin di
pulau gersang itu dapat begitu cemerlang pemikirannya dan sebagian
berhasil belajar di Eropa. Andrea bangga sebagai anak Belitong yang miskin berhasil melanglang buana dari kecerdasannya sebagai manusia modern mondial.
Buku-bukunya penuh sanjungan terhadap kawan-kawannya dan guru-gurunya
yang haus belajar meningkatkan diri sebagai manusia pintar, banyak
pengetahuan dan cerdas dalam memecahkan masalah-masalah mereka. Cerita-cerita ajaib tentang keunggulan-keunggulan mereka bertebaran dalam bukunya yang pertama.Keajaiban-keajaiban yang ditunjukkan oleh teman-teman
SD dengan kreativitas mereka yang mengherankan (misalnya telah mengenal
suku-suku Afrika dengan budaya mereka) terjadi waktu SD atau SMP?
Kalau sudah di SMP bias diterima dalam penilaian empiris, tetapi
mengapa guru-guru SD-nya (yang dipuja pengarang ini) masih terus
membuntuti? Apakah guru-guru SD Muhammadiyah itu juga mengajar di SMP?
Kekacauan waktu antara masa SD dan SMP ini membingungkan saya dalam
memahami keajaiban-keajaiban kecerdasan yang ditunjukkan oleh sekolah
paling miskin dan serba kekurangan ini. Penulisnya yang sudah belajar di Eropa dan banyak
membaca karya sastra menceritakan semua itu dari sudut pandang manusia
dewasanya. Anakronis subyek dan obyek bisa saja terjadi. Kejadian di masa kecil dijelaskan secara manusia kota besar yang kontemporer. Misalnya dalam buku Sang Pemimpi, Ikal dan Arai tersesat di Bogor yang seharusnya menuju ke Ciputat. Keduanya kagum dan terheran-heran menyaksikan restoran KFC yang terang benderang yang tak ada di pengalaman Belitong-nya. Ternyata isi bagian ini tak pernah menyinggung Ciputat
sama sekali, bahkan berisi cerita yang meringkas perjalanan hidupnya
dari bekerja di Kantor Pos sambil kuliah di UI sampai selesai. Di sini terdapat ketidakkonsistenan dalam menguasai waktu.
Dalam berbagai bab atau bagian berisi detail satu peristiwa hanya dalam
hitungan jam atau hari, sedangkan di bab lain dalam hitungan tahunan.
Dibuat heran Saya dibuat heran bagaimana tokoh-tokoh sastra besar bisa
mengomentari buku-buku Andrea ini dalam pujian-pujian yang begitu
tinggi dan menjanjikan sebagai lahirnya penulis besar masa kini. Kalau ditulis dalam perenungan yang lebih jernih dan tertata, bahan ceritanya bisa melahirkan karya sastra penting.
Ketergesaan dalam menumpahkan kisah kesuksesan dengan antusiasme dan
optimisme yang begitu percaya diri terlihat dalam waktu dekat dia telah
menulis serial tetraloginya begitu Laskar Pelangi meledak di pasaran.
Ringkasan lain tentang Biografi atau Novel, Fakta atau Fiksi?