Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Internasionalisme Baru, Kelisanan Baru

.

Internasionalisme Baru, Kelisanan Baru

Summary rating: 2 stars 2 Tinjauan
Pengarang : Nirwan Dewanto
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan : 144  kata: 900   Diterbitkan di: Oktober 19, 2007
MARILAH diam-diam bersyukur: globalisasi adalah penaklukan baru sekaligus kemerdekaan baru.
Konon, di zaman kapitalisme mutakhir ini, masyarakat-masyarakat bekas
jajahan bukan hanya konsumen yang tunduk, buruh yang terisap, dan
pemasok bahan mentah yang papa.Internasionalisme lama: universalisme yang
diselewengkan menjadi ketunggalan (ingatlah gaya internasional dalam
arsitektur yang menghasilkan kotak-kotak gelas dan beton yang begitu
dominan di seluruh dunia itu). Kini, pusat-pusat lama melucuti diri, dan pusat-pusat baru tumbuh di luar Eropa dan Amerika Utara.
Seni "Dunia Ketiga" kini bukan lagi cecabang yang rendah diri dari seni
Barat, tetapi konon, pesaing yang subversif terhadapnya. Sebab, kekuatan lama tak akan secara gratisan memberi
tempat kepada apa yang dulu hanya dianggap lokal, terjajah, rendah, dan
pinggiran. Bila dulu kolonialisme memajang
artefak budaya-budaya lokal di museum etnografi, tidakkah kini "wayang
baru" Heri Dono dan Seni Pop Politis Cina Daratan, misalnya, pada
berbagai pameran internasional itu juga eksotika baru belaka?
Itulah sebabnya kehadiran seni rupa baru yang masih juga beraras negeri
di khazanah internasional mesti diterang-jelaskan oleh kurator-kritikus
dari tanah asal, misalnya Jim Supangkat (Indonesia), Hou Hanru (Cina),
Apinan Pohsyananda (Thailand), dan Geeta Kapur (India). Mereka sungguh fasih dalam terma dan jargon yang sedang ramai diamalkan di dunia internasional.Biarpun biennale "nasional-plus" itu gagap dalam
memilih dan memajang karya, ia mampu menunjukkan sejumlah karya seniman
kita yang sungguh gemilang, misalnya saja Yani Mariani Sastranegara,
Anusapati, dan Mella Jaarsma.
Melihat karya Yani-bagian dari seri Endless yang dibuatnya dalam tiga
tahun ini-kita bisa berkata bahwa dia sudah melakukan "revolusi"
terhadap seni patung dan seni instalasi. Memang terdapat karya-karya yang mencekam, seperti S
Teddy D, Handiwirman, Agus Suwage, dan Mella Jaarsma, tetapi sebagian
besar masih berlaku lajak dengan media baru, konsep seni, sikap
politik, maupun garis kurasi.
Demikianlah kini kurator pameran bukanlah pengabar atau peneliti yang
netral-obyektif, melainkan aktivis budaya yang menggerakkan seni ke
tahap tertentu, paling kurang mengungkai segi paling ekstrem dari
perkembangan terbaru.
Bagi Hendro Wiyanto, seniman harus "menjangkarkan secara majemuk peran
mereka di atas karpet negara dan masyarakat yang membusuk".

Sejak tahun 1988, Rumah Seni Cemeti yang dikelola
Nindityo Adipurnomo dan Mella Jaarsma terus mendorong penjelajahan baru
dalam seni kontemporer kita, dan ini juga berarti menghubungkan para
seniman dengan pusat-pusat baru di luar sana. Pameran Exploring Vacuum pada akhir tahun ini menunjukkan bahwa galeri itu terus maju tak gentar. Inilah pameran yang mencoba melintasi batas antara art dan artifact, penciptaan dan penelitian, yang global dan yang kampungan. Di satu pihak, puisi lirik kita diperjenuh (bacalah,
misalnya, para penyair Bali yang mirip satu sama lain itu) atau
diperluas (bacalah Joko Pinurbo, misalnya, yang melanjutkan Sapardi
Djoko Damono), di lain pihak kita mendapat puisi prosa yang sangat
"pascamodern", yakni menantang gramatika dan semantika.

Namun, sejumlah prosawan kita agaknya lebih rileks menghadapi dunia.
Mereka, kebetulan banyak yang perempuan, dengan memadukan sejumlah
ragam bahasa dan bentuk-bawaan dari pelbagai tradisi "rendah" maupun
"tinggi", seni maupun bukan seni dari khazanah dunia-menghasilkan prosa
yang bebas dari watak didaktik yang biasanya mengganduli pendahulu
mereka. Bila mereka menggali seksualitas, tentu
saja mereka bukan hanya menusuk patriarkhi, tetapi juga mengambil
tenaga bahasa dari ranah yang selama ini diselubungi gelap.Internasionalisme baru yang bekerja dengan jargon
pluralisme punya bahayanya sendiri (ingatlah lalu lintas manusia global
yang bisa menyebarkan AIDS, SARS, dan terorisme).
Bila seorang kritikus dan kurator menguar bahwa setiap budaya punya
tolok ukurnya sendiri dan tak terbandingkan dengan sejarah universal
Barat, bukankah ia hanya berjarak satu senti dengan seorang
fundamentalis dalam agama, misalnya?
Yang kita perlukan adalah sikap kritis tajam terhadap bukan hanya
modernisme Barat, tetapi juga terhadap wacana yang meneguhkan
pluralisme itu sendiri.Dan, ini sungguh tak berhubungan dengan kebangkitan
budaya-budaya "dunia ketiga", tetapi pembaruan di lingkungan
intelektual dan ilmiah Barat sendiri.
Terserahlah kepada kaum kurator, kritikus, peneliti, dan seniman kita
sendiri, apakah mereka akan membangun teori yang tangguh dari lapangan
yang kaya ataukah sekadar mengimpor "paradigma baru" dan
menyungkupkannya ke medan seni setempat.Kehadiran seni rupa kita di kancah dunia kontemporer,
misalnya, belumlah seberarti Cina dan Jepang (bukan kebetulan bahwa dua
kawasan ini adalah kekuatan ekonomi politik yang tangguh juga), atau
negeri-negeri bekas jajahan Perancis, Spanyol, atau Inggris (yang
memang tak terasing dari modernisme Eropa sejak awal abad lalu).Inilah khazanah nasional yang bisa memperbarui peta
dunia, bukan karena penciptanya dibelaskasihani oleh dewan juri
internasional, tetapi itulah buah lezat dari sekolah film dan industri
film yang dipelihara dengan gemilang.
Apa jadinya dengan nasion yang suka menghancurkan infrastruktur
peninggalan penjajah dan segenap bapa pendiri ini kecuali berharap pada
lahirnya sang jenius? Penghancuran demikian adalah hasil dari lupa,
dari bangkrutnya budaya tulisan.
Bahkan, benih si genius pun, jangankan benih orang biasa, harus mati di
tengah pendidikan dan sarana pendukung lain yang begitu buruk.

Ringkasan lain tentang Internasionalisme Baru, Kelisanan Baru
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------