JIKA Anda mendengar ayam berkokok di pagi hari, kokok
yang sama juga didengar pada dua ribu
atau bahkan tujuh ribu tahun yang
lalu.
Sejak ribuan tahun lalu ayam telah dekat
dengan peradaban
manusia. Ayam
menjadi santapan, penanda waktu, sarana ritual, sampai
simbol populer.
PENELITIAN DNA oleh periset Jepang menunjukkan bahwa ayam yang kini
tersebar sebagai piaraan itu berinduk pada unggas hutan atau wild
jungle fowl yang tersebar di kawasan Asia Tenggara.
Jenis unggas yang dalam bahasa Latin
disebut Gallus gallus itu sejak
lebih dari tujuh ribu tahun lalu telah dipelihara
orang di kawasan yang
kini dikenal sebagai Thailand dan Vietnam.Ayam juga berdiri di garis depan di bidang agrikultur yang telah diindustrikan. Daging ayam diproduksi massal, membanjiri pasar dunia, dan menjadi fenomena global.
Demi melayani selera makan manusia yang tanpa batas itu, ayam dilucuti habis-habisan.
Ingat saja pemandangan di meja makan yang sering menampilkan bagian
dari tubuh ayam seperti kepala, leher, sayap, dada, brutu, paha, cakar.
uga usus ayam yang digoreng menjadi cracker, yang sering dijadikan camilan.
Kemudian hati, ampla, sampai tembolok disikat habis. Belakangan kulit
dari cakarnya pun disulap menjadi komoditas yang bisa ditenteng sebagai
oleh-oleh.
Masih ada lagi lho. Bukankah orang suka mengorek otak sang ayam yang terletak di bawah batok kepala, berimpit dengan mata.
Bahkan residu dari minyak yang digunakan untuk menggoreng ayam yang
oleh orang Solo disebut blothong masih bisa dimanfaatkan manusia. Ayam menjadi bagian dari kehidupan daerah yang berbahasa Austronesia.
Pada masyarakat Bali, menurut sosiolog Putu Suasta, secara sosiologis
sejak kecil seperti diarahkan untuk dekat dengan kehidupan ayam. Memang
sejak dahulu tidak pernah dikenal sistem memelihara ayam dengan kandang. "Tapi justru dengan melepas ayam di kebun-kebun, orang Bali tetap merasa bahwa ayam bagian dari hidupnya. Di Bali dikenal berbagai jenis ayam yang dianggap memiliki
sifat-sifat khusus.
Ayam berbulu merah atau biing diletakkan di selatan, hitam di utara,
putih berkaki kuning di barat, putih bersih di timur dan warna-warni
atau berumbun di tengah-tengah.Barangkali yang paling spektakuler, eksploitasi sifat suka berkelahi dari ayam dalam arena yang disebut tajen atau gocekan.
Kendati, menurut Putu Wiana, pada awalnya tajen berasal dari tabuh rah,
yang menjadi satu rangkaian ritual pengorbanan zat cair (darah merah)
yang ada dalam tubuh manusia kepada Sang Pencipta, tetapi belakangan
diplesetkan menjadi arena judi.
Dengan begitu diharapkan sifat-sifat ayam yang suka berkelahi antarsesama diminimalisasikan.
Sabung ayam di Bali memanfaatkan pisau tajam yang disebut taji, yang kemudian dipasang di salah satu kaki ayam. Selanjutnya ketika ayam berseteru, ia ibarat pemain pedang yang mengibas-ibaskan pedangnya untuk melukai lawan.
Kendati sabung ayam penuh dengan nuansa judi, orang Bali telah memikirkan secara serius sejak dahulu.
Di daerah ini ditemukan catatan-catatan tradisional, biasanya disebut
lontar, yang secara khusus berisikan jenis-jenis ayam unggul, mencari
lawan, serta hari-hari baik untuk pergi ke arena sabung ayam.
Ringkasan lain tentang Ayam dan Simbol-simbol Kebudayaan